Thursday, December 3, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Di Sini Halaqah Ilmiah Berlangsung Setiap Bakda Subuh; Harapan Untuk Jamaah Muhammadiyah

10384814_10204335498281338_4711985395646995525_n

 

Tahun 2012 saya pulang ke kampung halaman sekadar untuk berliburan.  Pada saat itu, belum ada halaqah ilmiah bakda Subuh untuk kajian keislaman. Atas inisiatif bersama, lantas kita buat pengajian bakda Subuh. Selama saya di Indonesia, saya menjadi pemateri  tunggal.

 

Sebelum saya meninggalkan kampung halaman untuk kembali ke Mesir, saya meminta kepada Imam Masjid, ust Sasmito untuk melanjutkan halaqah Subuh ini. Sangat disayangkan jika halaqah yang sudah berjalan selama beberapa waktu, kemudian sirna kembali.

 

Untuk pembicara, saya mengusulkan agar dilakukan secara bergilir oleh para asatiz dari “Pondok Kalong Madrasah Nurul Hidayah” yang ada di kampung, desa Tretep. Tema bisa berfariasi sesuai dengan kecenderungan pengampu. Apalagi di madrasah juga banyak dikaji kitab kuning, bisa saja halaqah bakda Subuh itu mengkaji salah satu kitab kuning. Jika selesai satu kitab, bisa pindah ke kitab berikutnya.

 

Saya juga mengusulkan agar halaqah ilmiah bakda Subuh menggunakan speaker agar mereka yang rumahnya jauh dan tidak sempat ke masjid, bisa mengambil manfaatnya. Mereka bisa mendengarkan halaqah imiah bakda Subuh di rumah mereka.

 

Tanggal 4 Desember 2014 saya kembai pulang  ke tanah air. Hanya saja, saya baru bisa ke kampung halaman pada tanggal 7 Desember. Ternyata halaqah ilmiah bakda Subuh masih berlanjut.  Para pemateri berasal dari asatiz Pondok Kalong Madrasah Nurul Hidayah Tretep.  Untuk materi, ada hadis, fikih, dialog umum dan hikmah. Para jamaah cukup lumayan.

 

Sebelum memulai pengajian, dipimpin oleh Imam Masjid membaca asmaul husna, lalu doa bersama dengan bertawasul melalui asmaul husna. Tentu saja, bacaan asmaul husna dan doa, dilagukan seperti khas pesantren. Pertama kali mendengarkan doa ini, saya tidak kuasa meneteskan air mata. Sangat menyentuh hati dan membuat jiwa ini bergetar.

 

Saya teringat dengan pengajian Muhammadiyah. Saya berkhayal jika setiap masjid Muhammadiyah juga mempunyai kontinyu selepas halaqah bakda subuh. Dengan materi yang tersetruktur, maka wawasan keislman jamaah akan bertambah. Halaqah subuh ini menjadi semacam kuliah terbuka bagi para anggota jamaah.

 

Selama ini sering ada keluhan bahwa masjid Muhammadiyah diserobot oleh kelompok Islam lain. Masjid muhammadiyah dimakmurkan oleh mereka yang tidak sealiran dengan nafas gerakan. Pada akhirnya, di internal Muhammadiyah terjadi perpecahan. Masjid yang sejatinya menjadi pemersatu jamaah dan menjadi sumber ilmu bagi jamaah, justru sebaliknya menjadi sumber konflik.

 

Penyerobotan kelompok lain terhadap masjid Muhammadiyah ini, kadang tidak mutlak kesalahan kelompok lain tadi. Memakmurkan masjid menjadi amalan yang sangat dianjurkan oleh al-Quran. Sayangnya terkadang anggota Muhammadiyah sendiri tidak pandai untuk memakmurkan masjid. Bahkan terkadang, pengajian yang dilakukan oleh muhammadiyah sendiri, sepi peminat.

 

Anehnya, tatkala kelompok lain datang dan berusaha memakmurkan masjid, jamaah Muhammadiyah geger. Semua ribut-ribut terkai klaim amal usaha. Sejatinya ini menjadi koreksi kita bersama. Masjid menjadi tanggungjawab semua jamaah. Jika pengurus Muhammadiyah tidak bisa bergerak, maka anggota Muhammadiyah yang mempunyai kemampuan kapabel harus berperan.  Memakmurkan masjid bukan sekadar tanggungjawab pengurus Muhammadiyah, tapi menjadi tanggungjawab bersama anggota Muhammadiyah. Wallahu a’lam

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen − fourteen =

*