Saturday, October 19, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Derajat Murid dan Murad Di Dunia Sufi

haj

Ust. Zuhdi Amin, Lc.

Mengenal Allah itu perasaan yang lahir dari keridhaan, mengenal Allah (makrifatullah) itu cahaya yang Allah letakkan di hati hambanya yang paling dicintai-Nya, dan hakikat makrifat itu hidupnya hati dengan yang Maha Hidup,
Diriwayatkan dalam atsar: sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dalam kegelapan, lalu Allah menerangi mereka dengan sebagian cahaya-Nya, barang siapa yang mendapatkan cahaya-Nya mendapat petunjuk, dan barang siapa yang tidak mendapatkan cahaya-Nya tersesat.
Dalam al Quran Allah berfirman: (Allah adalah cahaya langit dan bumi…Allah memberi petunjuk dengan cahaya-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki).

Jika engkau tidak bersamaku maka Dzikir darimu itu bersamaku
Hatiku melihat-mu walaupun engkau tidak terlihat oleh mataku

Malaikat Jibril bertanya kepada nabi Muhammad, apa itu al-ihsan? Nabi Muhammad menjawab: kamu menjadi hamba Allah seolah olah kamu melihat Allah, apabila kamu tidak melihat-Nya, maka sungguh Allah melihat kamu.
Derajat ilmu murad itu melihat Allah, Nabi Muhammad melihat Allah dengan kelopak matanya (basar) dan mata hatinya (basirah), Nabi Muhammad melihat Allah dalam keadaan sadar bangun bukan dalam keadaan mimpi, sedangkan derajat ilmu murid melihat Allah dengan perantara fitrah penciptaan, murid melihat Allah dengan perantara makhluk yg diwujudkan, oleh sebab itu nabi menggunan huruf tamsil (seolah olah) untuk murid yang melihat Allah, karena murid tidak mungkin sampai pada derajat murad (melihat Allah dengan mata dan hati), murid (Nabi Musa) tidak melihat Allah seperti Nabi Muhammad melihat Allah, bahkan ketika Allah menampakkan diri-Nya nabi Musa tersungkur pingsan, huruf tamsil (kaannka) yang digunakan nabi itu menunjukkan bahwa derajat ilmu irfani murid dalam melihat Allah itu berbeda tingkatannya.
Imam Bushiri memuji derajat ilmu yang dimiliki murad (Nabi Muhammad) dalam burdahnya:

ولم يدانوه فى علم وﻻ كرم
Dan semua para Nabi tidak mampu mendekati derajat ilmunya dan kemuliaannya.

Allah berkata kepada Nabi Daud: wahai Daud kenali aku, dan kenali dirimu, lalu nabi Daud bertafakur, dan berkata: wahai Tuhanku aku mengenalimu dengan ke-Esaan-Mu, kekuasaan-Mu dan ke-kekalan-Mu, sedangkan aku mengenali diriku dengan ketidak mampuanku dan kefanaanku, Allah berfirman: sekarang kamu mengenal aku.

Dikisahkan dari abdul Bari: aku keluar bersama saudaraku Dzu-Nun al-Masri, tiba tiba ada dua anak kecil yang sedang melempar batu ke salah satu orang, saudaraku bertanya kepada dua anak kecil itu, apa yang kalian inginkan darinya?
Anak lelaki itu menjawab: ini orang laki laki gila, dia mengira bahwa dia melihat Allah!
Lalu kami mendekatinya, ternyata dia adalah anak pemuda yang wajahnya berseri, terlihat diwajahnya tanda orang yang mengenal Allah, lalu kami mengucapkan salam kepadanya, dan kami bertanya: mereka beranggapan bahwa engkau mengaku melihat Allah! Lalu dia menjawab: terserah apa yang dianggap! Jikalau aku tidak melihat Allah sekejap saja aku langsung mati, kemudian pemuda ini bersyair:

Yang di minta dari kekasih kepada kekasih adalah keridhaannya
Dan cita cita kekasih kepada kekasih adalah pertemuannya
Selamnya akan melingkupi hatinya
Dan hati mengenali Tuhannya dan melihatnya

Lalu aku bertanya kepadanya: apakah kamu gila? Dia menjawab: menurut pandangan penduduk bumi iya aku gila, tetapi menurut pandangan penduduk langit aku tidak gila.
Aku bertanya lagi: bagaimana keadaanmu dengan kekasihmu itu? Dia menjawab: sejak aku mengenalinya aku tidak melupakannya.
Sejak kapan kamu mengenalinya?sejak dia menjadikan namaku dalam daftar orang gila.

Imam Bushiri menulis dalam burdahnya:

ان المحب عن العذال فى صمم

Begitulah agaknya orang yang sudah dimabuk cinta menjadi tuli dari celaan.

Nabi Muhammad saw. bersabda:

ذاق طعم اﻹيمان من رصى بالله ربا وباﻹسﻻم دينا وبمحمد نبيا.
Yang dapat merasakan manisnya iman adalah orang yang ridha Allah sebagai Tuhannys dan islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai nabinya.

Derajat nabi Muhammad sangat tinggi didalam mengenal Allah, karena nabi Muhammad menjadi maksud (murad) Allah di dalam semua penciptaan-Nya, (bahasa gampangnya mungkin seperti ini, Allah memberitakan kepada umat manusia: ikuti saja Muhammad ini kamu akan mengenal aku) sedangkan para nabi (selain nabi Muhammad), dan semua manusia derajat pengetahuannya kepada Allah akan selamanya tetep pada derajat murid dengat tingkat makrifat yang berbeda beda.
Nabi Muhammad itu wasilah (perantara) semua para nabi dan umat manusia dalam mengenal Allah dan wasilah menuju Allah, Tauhid para sufi itu
Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, ketahuilah Tauhid tidak sempurna dan tidak benar kecuali dengan beriman kepada Muhammad Rasulullah, sangat mengherankan orang yang bertawasul dengan Dzat nabi Muhammad kepada Allah dianggap syirik?

يا رب بالمصطفى بالغ مقاصدنا
واعغر لنا ما مضى يا واسع الكرم

Wahai Tuhanku, dengan Nabi Muhammad al musthafa sampaikanlah maksud kami
Dan ampunilah dosa kami yang lalu wahai yang maha luas kemuliaan-Nya.

Syaikh alamah sufi imam Alawi al Maliki berkata:

ما زلت طالبا
Selamanya aku menjadi murid.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twelve + 4 =

*