Tuesday, January 23, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Definisi Takwil

1.1294840390.the-last-emperor-s-chair

Takwil secara etimologi adalah رجع. (kembali). Firman Allah:

وَابْتِغَاءتَأْوِيلِهِ

Artinya: Dan untuk mencari-cari kembaliannya (takwilnya). (QS. Ali Imrân: 7).

 

Maksudnya adalah sesuatu yang dikembalikan kepadanya. Sedangkan takwil secara terminologi adalah membawa makna lafazh kepada makna lain yang tidak sama dengan makna zhâhirnya, namun demikian ada kemungkinan lafazh tersebut mempunyai makna secara zhâhir. Takwil yang benar adalah takwil dengan membawa makna lafazh kepada makna lain karena ada dalil yang menunjukkan kepada makna lain tersebut. Menurut Shâhibu Al-talwîh, takwil adalah memalingkan makna suatu lafazh dari maknanya yang zhâhir kepada makna lain yang marjûh karena ada sesuatu yang menunjukkan kepada makna tersebut.[1] Atau, membawa makna yang zhâhir kepada makna lain yang memungkinkan. Jika makna lain tersebut didasari oleh argumentasi tertentu (dalil), maka takwil tersebut dianggap benar. Jika argumentasi tersebut sekadar praduga, takwil tersebut salah (fâsid), dan jika tanpa dalil, maka hal tersebut tidak dianggap sebagai takwil, namun justru memainkan makna lafazh.[2]

Al-zhâhir dan al-nash masih ada kemungkinan takwil. Namun demikian, tidak diperkenankan memalingkan lafazh dari makna zhâhir kepada makna lain terkecuali terdapat dalil yang menuntut adanya takwil. Dari sini maka takwil dapat dikelompokkan menjadi dua, pertama shahîhyang dapat diterima, kedua fâsid dan tidak dapat diterima.

Takwil dianggap shahîh, jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Lafazh tersebut menerima takwil, yaitu lafazh alzhâhir atau al-nash. Sementara al- mufassar dan al-muhakkam tidak menerima takwil.
  2. Lafazh tersebut memiliki kemungkinan takwil. Dengan kata lain, masih ada kemungkinan memiliki makna lain meskipun lemah (marjûh). Jika lafazh sama sekali tidak ada kemungkinan takwil maka takwil tersebut dianggap tidak sah.
  3. Takwil harus didasari pada pertimbangan dan bukti logis baik yang bersumber dari nash, qiyas, ijma’, atau hikmah dari tasyri’ dan prinsip dasar tasyri’ (mabâdi âmmah). Jika takwil tidak bersandar pada bukti yang dapat diterima maka takwil tersebut fâsid..
  4. Takwil tidak boleh bertentangan dengan nash yang sharîh.

 

Bisa jadi takwil dekat dari pemahaman sehingga dalam menetapkan takwil tersebut cukup dengan dalil yang paling rendah. Atau, takwil tersebut jauh dari pemahaman sehingga membutuhkan dalil kuat supaya takwil dapat diterima.

Di antara takwil yang dianggap benar adalah mengkhususkan (takhshîsh) ungkapan jual beli yang masih bersifat umum, dengan Sunnah yang melarang terhadap beberapa macam jual beli, seperti menjual minuman keras, atau sesuatu yang bukan menjadi hak miliknya.

Contoh firman Allah:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. Al-Baqarah: 275)

 

Ayat tersebut masih bersifat umum. Namun kemudian ditakhshish dengan hadits Nabi yang berbunyi:

إٍن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام (متفق عليه)

Artinya: Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamr, bangkai, daging babi dan berhala. (HR. Muttafaq ‘Alaih)[3]

Contoh lain firman Allah:

 

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوَءٍ

Artinya: “Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali qurû’ (QS. Al-aqara:228).

 

Ayat tersebut khusus bagi wanita yang telah dicampuri. Ini dibuktikan dengan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya”. (QS. Al-Ahzâb: 49).

 

Sebagaimana ayat di atas juga bersifat umum bagi wanita-wanita yang ditalak namun bukan wanita hamil, karena masa iddah bagi wanita hamil adalah sampai mereka melahirkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

وَأُوْلَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Artinya: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”. (QS. Al-thalâq: 4)

 

Di antara takwil yang juga diperkenankan adalah memberikan takwil kambing dari hadits Nabi:

وفي كل أربعين شاة شاة

Artinya: Dan dalam tiap 40 ekor kambing (wajib zakat) satu ekor kambing.

 

Satu ekor kambing kemudian ditakwil dengan harga satu ekor kambing. Maka makna dari hadits tersebut sebagi berikut: Maka yang wajib zakat dalam setiap 40 ekor kambing adalah satu ekor kambing atau harga yang sama dengan satu ekor kambing (dengan uang). Yang dapat dijadikan sandaran dalam takwil tersebut bahwa tujuan dari zakat adalah untuk menutupi kebutuhan orang miskin. Sementara hal ini dapat dicapai dengan memberikan kambing kepada fakir, atau juga dengan nilai dari seharga satu ekor kambing.

Terkadang takwil terlampau jauh dan tidak bersandar pada dalil yang dapat diterima. Takwil seperti ini tidak diperkenankan. Contoh seperti dalam hadits, bahwa Fairus al-Dailami masuk Islam sementara ia mempunyai dua istri saudara kandung. Maka Nabi bersabda:

أمسك أيتهما شئت و فارق الأخرى

Artinya: “Peganglah mana saja yang kamu sukai, dan pisahkan yang lain”.

 

Hadits di atas dapat dipahami bahwa sesungguhnya Nabi mengizinkan Fairus untuk memisahkan (mentalak) istri mana saja yang ia kehendaki. Namun Hanafiyah memberikan takwilan dengan mengatakan bahwa maksud dari hadits tersebut adalah memegang istri yang pertama serta mentalak istri yang kedua, jika pernikahan dengan keduanya berlangsung dalam satu akad. Argumentasi yang digunakan Hanafiyah adalah dalil qiyas, yaitu permasalahan di atas disetarakan dengan hukum seorang muslim yang menikah dua saudara kandung dalam satu akad atau dalam dua akad yang berturut-turut.

Argumentasi mereka dianggap lemah sehingga takwil mereka terlampau jauh. Nabi tidak menanyakan Fairus mengenai bagaimana ia menikahi keduanya. Apakah ia menikah dengan satu akad ataukah dengan dua akad? Jika benar bahwa yang dimaksudkan dalam hadits tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh Hanafiyah, semestinya Rasul menanyakan mengenai cara pernikahan sahabat tersebut. Atau minimal beliau akan menjelaskan hukumnya sejak awal. Hal ini dikarenakan hadits tersebut berkaitan dengan hukum Islam. Dengan demikian sudah selayaknya jika Rasul memberikan keterangan yang jelas. Namun karena dalam kenyataan hal ini tidak terjadi, takwil Hanafiyah tersebut dianggap takwil dhâ’îf  yang marjûh dan tidak dapat diterima.[4]

[1] Dr. Abdul Karim Zaidan, op. cit., hal. 341

[2] Dr. Muhammad Sâlim Abû ‘Ashî, Maqâltâni fî al-Ta’wîl, Ma’âlim fî’l Manhaj wa Rashdun li’inhirâf, Dâr al-Bashâir, Kairo, cet. I, 2003, hal. 16.

[3] Dr. Yusuf al-Qardhawi,  Al Halâl wa’l Harâm fî’l Islâm, Al Maktab al Islâmiy, cet. XV. 1994, hal. 232

[4]Dr. Abdul Karim Zaidan, op. cit., hal 341-343

Comments

comments

 border=
 border=

One comment

  1. kalau bedanya takwil dengan tafsir apa? mohon penjelasannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open