Monday, March 30, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Dari Sini Kita Memulai; Mimpi Membangun Peradaban Islam Kontemporer

ايستنن

 

Sebelumnya, bangsa Arab adalah bangsa “pinggiran”. Bangsa Arab berada di luar peradaban dunia. Belum pernah ada kerajaan di kawasan Mekkah atau Madinah. Mereka masih hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Fanatisme golongan sangat kental. Perseteruan antara kabilah seringkali terjadi.

 

Namun semua berubdah dengan datangnya agama Islam. Islam datang membawa risalah ilmu. Bahkan ayat pertama yang diturunkan pun terkait dengan ilmu pengetahuan, yaitu perintah kita agar membaca (QS, Al-Alaq: 1-5). Tentu saja membaca apa saja, yang kiranya dapat memberikan manfaat bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat. Jalan terjal menuntut ilmu, merupakan jalan lapang menuju surga. Bahkan para penuntut inilmu, dianggap sama derajadnya dengan para mujahid yang pergi ke medan perang.

 

Karena risalah ilmu ini, umat Islam menjadi bangsa besar. Makkah Madinah yang dulu bukan apa-apa, menjadi awal munculnya peradaban besar. Dari dua kota ini, muncullah peradaban Islam yang bahkan kelak umat Islam mampu menggulung dua negara Adidaya, yaitu Romawi dan Persia.

 

Risalah ilmu menjadikan umat Islam bangsa besar. Semangat untuk menuntut ilmu pengetahuan terus dibawa oleh generasi Islam awal, para sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan seterusnya. Masa Abbasiyah, merupakan zaman keemasan bagi peradaban Islam. Berbagai cabang ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan pesat, baik terkait dengan ilmu-ilmu keagamaan, sosial maupun eksakta.

 

Namun kondisi ini berubah. Saat ini umat Islam kembali ke pinggir peradaban. Negara-negara maju yang menjadi poros peradaban dunia, dikuasai oleh negara non muslim, baik yang berada di belahan dunia bagian Barat maupun Timur. Umat Islam menjadi “penonton” dan konsumen terhadap hasil ilmu pengetahuan bangsa lain.

 

Rasa-rasanya sedih ketika kita memandangi ribuan turas Islam yang begitu banyak. Ada semacam perasaan miris dalam hati kita. Perasaan bersalah karena kita tidak bisa mewarisi semangat mereka. Emosi dan kemarahan serasa membuncah dengan memaki diri sendiri.

 

Begitu besar sumbangsih mereka ke dunia. Lantas, mengapa kita sekarang menjadi begini? Begitu disegani umat Islam di kancah internasional, mengapa sekarang kita menjadi bulan-bulanan bangsa lain? Begitu kuat dan independen ekonomi umat, mengapa sekarang kita menjadi bangsa “pengemis”? Mengapa dunia Islam menjadi negara yang penuh dengan persoalan? Mengapa kita menjadi bangsa subordinat?

 

Memang kita bangga dengan kehebatan para ulama terdahulu karena kemampuan mereka dalam rangka mencari berbagai solusi alternatif terhadap persoalan umat yang ada di zamannya. Kita bangga dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang telah dihasilkan oleh para ilmuan muslim. Namun, apatah arti sebuah kebanggaan jika dalam realitanya kita tidak ada apa-apa?

 

Kadang muncul pertanyaan besar dalam diri saya, sebenarnya apakah yang salah dari umat Islam ini? kitab suci yang mereka baca, sama dengan kitab suci yang kita baca. Hais nabi yang mereka pelajari, juga sama dengan hadis nabi yang mereka pelajari. Lantas, di mana letak perbedaannya?

 

Ternyata, perbedaan terletak dari sisi pengamalan dan penghayatan. Generasi awal sangat menjunung ilmu pengetahuan dan menerapkan berbagai nilai norma yang ada dalam kitab suci dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Mereka sangat percaya diri dengan risalah Islam. Mereka tidak pernah merasa minder dengan bangsa-bangsa lain. Bahkan bangsa lain yang akhirnya banyak yang nyontek dan berguru kepada umat Islam.

 

semangat ilmy harus ditumbuhkembangkan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghrmati perkembangan ilmu pengetahuan. Selama ilmu pengetahuan masih terpinggirkan, selama itu pula mimpi untuk membangun peradaban tetap akan menjadi mimpi. Keterpurukan itu harus diakhiri. Kita harus memulai dari sini, dari ilmu pengetahuan.

 

Kita tidak harus memulai dari nol. Untuk ilmu-ilmu sosial keagamaan, para ulama telah meninggalkan warisan intelektual yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita mengesplorasi warisan intelektual ulama kita, untuk kemudian kita sesuaikan dengan konteks kehidupan Islam kontemporer. Persoalan yang belum ada jawabannya dan belum dikaji oleh ulama terdahulu, menjadi ladang ijtihad bagi ulama kontemporer untuk mecarikan solusinya agar tetap sesuai dengan al-Quran dan Sunnah.

 

Terkait dengan ilmu eksakta, bisa dimulai dari titik akhir kemajuan ilmu modern. Menjadi tugas ilmuan untuk bisa menguasai “titik akhir” perkembangan ilmu pengetahuan tersebut. Dari sana lantas kita maju bersama dalam berbagai medan keilmuan dalam mengembangkan sains dan tegnologi.

 

Tentu ini bukan hal sepele. Perlu kerja besar, kerja keras dan kerja cerdas. Perlu penyadaran dan pembibitan sejak dini. Dengan demikian, mimpi kita untuk menjadikan Islam sebagai poros peradaban bisa terwujud.

 

Semoga Allah meridhai setiap gerak perjuangan umat Islam dan para pejuang Islam yang selalu gigih dalam berdakwah sehingga kita menjadi umat terbaik dan menjadi percontohan bagi bangsa-bangsa dunia. Amiin. Waallhu alam/

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

sixteen + four =

*