Monday, April 6, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Contoh Hujah Ta’lil Dari al-Sunnah

kutubussittah

 
Sebelumnya kita telah melihat  contoh praktis terkait dengan ta’lil dari beberapa ayat al-Quran. Ta’lil tersebut kadang menggunakan lafal كي  kadang لعل  kadang menggunakan maf’ul li’ajlih dan lain sebagainya. Di sini kita akan mengambil contoh ta’lil yang termuat dari hadis Rasulullah saw.  Perhatikan contoh berikut ini:

 

عن سهل بن سعد قال اطلع رجل من جحر في حجر النبي صلى الله عليه وسلم ومع النبي صلى الله عليه وسلم مدرى يحك به رأسه فقال لو أعلم أنك تنظر لطعنت به في عينك إنما جعل الاستئذان من أجل البصر

 

Sahl bin Sa’d Al Anshari; Telah mengabarkan kepadanya; bahwa seorang laki-laki mengintip ke rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui lubang pintu. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyisir rambut dengan sebuah sisir besi. Maka Beliau berkata: Kalau aku tahu engkau mengintip, aku tusuk matamu. Sesunggunyah Allah mensyari’atkan Izin (memberi salam) demi menjaga pandangan. (HR. Muslim)

 

Hadis di atas menceritakan mengenai tujuan meminta izin jika akan masuk ke rumah atau ruangan saudaranya. Izin tersebut dimaksudkan, agar orang yang ada di dalam rumah melakukan persiapan terlebih dahulu. Bias saja ia sedang buka aurat sehingga dilarang untuk dilihat orang lain. Maka izin menjadi sarana efektif menjaga pandangan.  “Sesunggunyah Allah mensyari’atkan Izin (memberi salam) demi menjaga pandangan”.

 

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوِ الطَّوَّافَاتِ (رواه الجماعة)

 

Artinya: “Dari Qotadah r.a., ia berkata; Bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘Kucing itu tidak najis, ia termasuk binatang yang selalu ada di sekitar kamu (dalam lingkunganmu)’.” (HR. Jamaah)

Hadis tersebut menceritakan mengenai liur kucing atau jilatan kucing yang dianggap tidak Janis. Memang tidak disebutkan secara sharih terkait illat medis, namun sekadar memberikan petunjuk (dilalatul ima) terkait sebab mengapa ia suci, yaitu bahwa kucing adalah hewan yang suka berputar-putar di sekeliling kita. Ia selalu ada di lingkungan kita.

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ، جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا، أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ» {البخاري وغيره}

 

Artinya : Dari sahabat mulia Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : Bahwa seorang dari kabilah Juhainiyah datang menjumpai Nabi Shollallahu alaihi wasallam seraya berkata : sesungguhnya ibuku pernah bernadzar untuk berhaji lalu beliau wafat sebelum berhaji, apakah saya harus menghajikannya? Beliau bersabda : Ya anda hajikan atas namanya ; tidak kah engakau melihat andaikata ibumu punya hutang apakah anda akan membayarnya? Karenya tunaikan lah hak Allah karena memenuhi hak Allah harus diutamakan (HR.Bukhori).

 

Hadis di atas memberikan keterangan mengenai hokum dibolehkannnya seorang anak menghajikan orang tuanya. Rasulullah saw mengkiyaskan dengan hutang. Jika hutang harus dibayar, maka hutang ibadah dari orang tua juga harus di bayar. Di sini ada sebab, mengapa badal haji menjadi boleh

 

حدثنا أبو اليمان أخبرنا شعيب عن الزهري قال أخبرني حميد بن عبد الرحمن أن أبا هريرة رضي الله عنه قال بينما نحن جلوس عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ جاءه رجل فقال يا رسول الله هلكت قال ما لك قال وقعت على امرأتي وأنا صائم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هل تجد رقبة تعتقها قال لا قال فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين قال لا فقال فهل تجد إطعام ستين مسكينا قال لا قال فمكث النبي صلى الله عليه وسلم فبينا نحن على ذلك أتي النبي صلى الله عليه وسلم بعرق فيها تمر والعرق المكتل قال أين السائل فقال أنا قال خذها فتصدق به فقال الرجل أعلى أفقر مني يا رسول الله فوالله ما بين لابتيها يريد الحرتين أهل بيت أفقر من أهل بيتي فضحك النبي صلى الله عليه وسلم حتى بدت أنيابه ثم قال أطعمه أهلك

 

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy berkata : telah mengabarkan kepada saya Humaid bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata : Ketika kami sedang duduk bermajelis bersama Nabi saw tiba-tiba datang seorang laki-laki lalu berkata : Wahai Rasulullah, binasalah aku. Beliau bertanya : Ada apa denganmu ?. Orang itu menjawab : Aku telah berhubungan dengan isteriku sedangkan aku sedang berpuasa. Maka Rasulullah saw bertanya : Apakah kamu memiliki budak, sehingga kamu harus membebaskannya ?. Orang itu menjawab : Tidak. Lalu Beliau bertanya lagi : Apakah kamu sanggup bila harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut ?. Orang itu menjawab : Tidak. Lalu Beliau bertanya lagi : Apakah kamu memiliki makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin ?. Orang itu menjawab : Tidak. Sejenak Nabi saw terdiam. Ketika kami masih dalam keadaan tadi, Nabi saw diberikan satu keranjang berisi kurma, lalu Beliau bertanya : Mana orang yang bertanya tadi ?. Orang itu menjawab : Aku. Maka Beliau berkata : Ambillah kurma ini lalu bershadaqahlah dengannya. Orang itu berkata : Apakah ada orang yang lebih faqir dariku, wahai Rasulullah. Demi Allah, tidak ada keluarga yang tinggal diantara dua perbatasan, yang dia maksud adalah dua gurun pasir, yang lebih faqir daripada keluargaku. Mendengar itu Nabi saw menjadi tertawa hingga tampak gigi seri Beliau. Kemudian Beliau berkata : Kalau begitu berilah makan keluargamu dengan kurma ini. (HR. Bukhari)

 

Hadis tersebut memberikan berbagai pilihan kepada sahabat yang telah melakukan pelanggaran puasa. Sejatinya, ia harus memilih sesuai dengan urutankemampuan untuk menggantikan puasa yang telah batal. Kenyataannya, dari semua opsi yang diberikan rasulullah saw, satu pun tidak ada yang ia snggupi. Dari sini, maka rasul memberikan dispensasi. Jadi, keringanan yang diberikan kepada sahabat tersebut bukan tanpa sebab, namun terkait dengan kamampuan hamba.

 

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً

Apabila lalat hinggap di bejana salah seorang dari kamu, maka hendaklah ia celupkan semuanya, kemudian hendaklah ia membuangnya, karena sesungguhnya pada salah satu dari kedua sayapnya terdapat penyakit, sedangkan pada sayap yang lain terdapat obatnya. (HR. Bukhari)

 

Hadis ini menceritakan bahwa lalat sayap lalat mengandung penyakit, namun salah satu sayap ada obat penawar. Ini mengingat sering sekali air yang akan diminum, terkena lalat. Rasul memberikan sebab, mengapa air tidak perlu dibuang? Karena ada obat di salah satu sayap lalat.

 

‎أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda ia: Seandainya tidak memberatkan aku ke atas umatku nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak (hadits riwayat al-Bukhari)

Sesungguhnya sikat gigi merupakan perkara sangat penting. Idealnya seseorang melakukan sikat gigi 5 kali dalam sehari, yaitu sebelum ia melaksanakan shalat wajib. Hanya saja, jika umat Islam diwajibkan melakukan sikat gigi setiap waktu shalat, akan memberatkan umat. Oleh sebab ini, maka ia sekadar menjadi anjuran yang hendaknya dilakukan (sunnah) dan bukan suatu kewajiban.

 
=====================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

10 + 17 =

*