Saturday, October 31, 2020
Artikel Terbaru

Ushul Fikih

Maqashid Syariah Pada Masa Sahabat

Tatkala Rasulullah saw masih hidup, segala persoalan dapat ditanyakan langsung kepada beliau. Umat Islam tiggal menunggu jawaban, ketentuan hukum dan solusi yang diberikan oleh Rasulullah saw. Apa yang disampaikan Rasulullah saw, sesungguhnya adalah wahyu Allah. Karena beliau tidak akan memberikan ketetapan hukum, kecuali telah mendapatkan wahyu dari Allah saw. Terkait hal ini, Alah swt berfirman: وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (3) ... Read More »

Antara Maqashid Syariah dan Sikap Prakmatisme

  Kerangka maqashid syariah bertumpu pada kajian induktif atas nas al-Quran dan sunnah Nabi dan menjadikan nas sebagai poros maslahat. Dengan kata lain bahwa hokum syariah yang menentukan sesuatu mengandung maslahat atau tidak. Jika suatu perbuatan dianggap haram oleh syariat, dipastikan ia tidak mengandung maslahat. Namun sebaliknya, jika suatu perbuatan diwajibkan atau dianjurkan untuk dikerjakan, maka ia mengandung maslahat.   ... Read More »

Memngapa Tidak Menggunakan Hermeneutika?

  Terkati dengan sistem pembacaan teks, baik model ijtihad semantik maupun maqashidi, mempunyai karakteristik dan porsi ijtihad masing-masing. Keduanya saling melengkapi dan tidak saling menegasikan. Menggunakan salah satu dari dua model ijtihad tadi, akan mengakibatkan pada kepincangan dalam sistem ijtihad.   Belakangan muncul berbagai pemikiran yang menyatakan bahwa pembacaan teks yang ada dalam turas Islam telah ketinggalan jaman. Metodologi maupun ... Read More »

Perbedaan Maqashid Syariah dan Ijtihad Semantik Dari Sisi Epistem

Selain perbedaan dari sisi teks dan konteks, antara ijtihad semantik dan ijtihad maqashidi juga mempunyai perbedaan dari sisi epistem. Jika semantik menggunakan epistem bayan, maka maqashid menggunakan epistem burhan. Yang dimaksudkan dengan epistem bayan adalah bahwa sumber ilmu pengetahuan atau rumusan kaedah yang muncul, bertitik tolak dari bahasa dengan berbagai cabangnya. Bahasa adalah titik sentral ilmu pengetahuan. Dengan bahasa tadi, ... Read More »

Lagi, Tanggapa Untuk Ustadzah Irene Radjiman

Kepada Yth. Ustadzah Irene Radjiman Terimakasih banyak atas tanggapannya. Jika ustadzah baca baik-baik apa yang saya tuliskan, ustadzah tidak akan menemukan ungkapan saya yang melarang seseorang adzan di awal waktu, atau permohonan agar saya membiarkan saja “tradisi adzan” menjelang ahir waktu shalat. Perhatikan tulisan saya berikut ini: ”Saya sepakat dengan penulis bahwa memang harus ada penyadaran untuk menggerakkan masyarakat agar ... Read More »

Perbedaan Antara Ijtihad Maqashidi Dengan Ijtihad Sematik

Dalam buku “Ijtihad Semantik dalam Ushul Fikih” saya sampaikan bahwa buku tersebut merupakan buku pertama yang akan saya lanjutkan dengan buku kedua yaitu ijtihad maqashidi dalam ushul fikih. Sepintas dalam buku tersebut saya mengnai perbedaan antara ijtihad semantik dengan maqashidi. Di antaranya perbedaan antara keduanya adalah bahwa ijtihad semantik banyak membahas tentang teks. Ijtihad semantik merupakan upaya para ulama untuk ... Read More »

Hati-hati, Jangan Memasukkan Furu Fikih Ke Dalam Perkara Akidah

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tulisan yang viral di Wa. Tulisan tersebut membahas tentang kejadian di daerah wonosob terkait dengan adzan yang dilakukan tidak tepat waktu. Terahit, tulisan ditutup dengan anggapan bahwa persoalan umat sudah sangat kronis, karena menyangkut perkara akidah. Penulis juga menghimbau para ulama untuk turun gunung guna menyelesaikan persoalan akidah yang sangat urgen ini Ada beberapa hal ... Read More »

Kapan Hajiyat Berubah Menjadi Dharuriyat?

Benarkah ini kaidah fikih? الحَاجَةُ قَدْ تَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ Jika benar, contohnya piye? Jawa: Benar. Ungkapan di atas adalah kaedah fikih. Ulama pertama yang menyatakan kaedah tersebut adalah Imam Haramain dalam kitab al-Burhan. Setelah beiau, lalu dinukil oleh ulama setelahnya seperti Imam Ghazali, Imam Suyuti, Iz Ibnu Abdussalam dan lain sebagainya. Makna dari kaedah di atas adalah bahwa al-hajah, dapat ... Read More »

Kebijakan Seorang Pemimpin Atas Rakyat Harus Berdasarkan Kemashlahatan

Ada kaedah yang sangat popular di kalangan para ulama ushul, terkait dengan kebijakan pemerintah. kaedah ini adalah التصرف على الرعية منوط بالمصلح Atau Kebijakan seorang pemimpin atas rakyatnya harus berdasarkan kepada kemaslahatan. Kaedah ini sesungguhnya bermula dari pernyataan imam Syafii yang berbunyi: منزلة الإمام من الرعية منزلة الولي من اليتيم Artinya: Posisi seorang pemimpin itu bagi rakyatnya seperti posisi seorang ... Read More »

Pengertian Maqashid Syariah

Maqashid berasal dari fiil tsulatsi qashada yaqshudu qashdan. Kata tersebut dalam bahasa Arab mempunyai banyak makna, di antaranya adalah: Qashada, al-qashdu: mendatangkan sesuatu. Qashadahu, qashada lahu, qashada ilaihi: menuju kepada sesuatu Qashada qashdahu; berjalan menuju arah tertentu Al-qaashid: dekat. Contoh: bainana wa bainal ma’i lailah qaashidah (jarak antara aku dengan air sudah dekat) Lantas apa yang dimaksud dengan ilmu maqashid ... Read More »