Tuesday, September 18, 2018
Artikel Terbaru

Ushul Fikih

Bagian sadd al-dzarî`ah

Bagian sadd al-dzarî`ah Imam Syathibi membagi sadd al-dzarî`ah dilihat dari besar kecilnya maslahat atau mafsadah yang ditimbulkan menjadi empat bagian: 1. Suatu perbuatan yang pasti (qath’iy) dapat menimbulkan mafsadah, seperti orang yang membuat sumur di tengah jalan, atau membuat lobang di rumahnya yang dapat meruntuhkan dinding rumah tetangga. Dalam hal ini ada dua poin yang harus diperhatikan. Pertama, perbuatan yang ... Read More »

Syarat Realisasi Kaidah Sadd al-Dzarî`ah

  Sadd al-dzarî`ah sebagai salah satu piranti ijtihad memiliki sumbangsih yang sangat besar dalam perkembangan fikih Islam. Meski demikian, sadd al-dzarî`ah tidak dapat diterapkan dengan hanya bersandar pada hawa nafsu. Ada standar dan batasan-batasan yang harus diperhatikan sehingga piranti tersebut tetap sejalan dengan tujuan dasar diturunkannya hukum syariah. Setidaknya ada lima poin yang dianggap sebagai standar atau syarat realisasi sadd ... Read More »

Argumentasi bagi Mereka yang Menolak Penggunaan Sadd al-Dzarî`ah

Aliran kedua, yaitu Ibnu Hazm dan para pengikut madzhab Zhâhiriyyah tidak mengakui sadd al-dzarî`ah sebagai salah satu piranti dalam menetapkan hukum fikih. Mereka hanya memahami nas dengan melihat pada zahir nas saja serta menggugurkan setiap argumentasi yang dibangun di atas logika seperti qiyâs, istishlâh, istihsân, termasuk juga sadd al-dzarî`ah.  Dalam kitab al-ihkâm fî ushûli’l ahkâm, Ibnu Hazm menuliskan bab khusus ... Read More »

Perbedaan antara al-Dzarî`ah dengan Muqaddimah

 Ada perbedaan antara al-dzarî`ah dengan muqaddimah. Bahwa muqaddimah sesuatu adalah keberadaan suatu perkara bergantung kepada perkara yang lain. Titik tolaknya terdapat pada kebergantungan maksud sesuatu pada sesuatu yang lain. Sementara titik tolak pada al-dzarî`ah  adalah sarana yang dapat mengantarkan kepada maksud dan tujuan. Sebagai contoh bahwa pondasi merupakan muqaddimah dari keberadaan suatu bangunan. Sementara tangga merupakan sarana atau jalan menuju ... Read More »

Sandaran Sadd al-Dzarî`ah

Sadd ad-Dzariah menggunakan hujah al-Quran, Sunnah dan jufa ijmak ulama.  1.      Al-Quran يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقُولُواْ رَاعِنَا وَقُولُواْ انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ْوَلِلكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah:104)   Wajhu al-dilâlah:   Orang-orang Yahudi menggunakan lafal رَاعِنَا  untuk ... Read More »

Pengertia al-Dzarî`ah atau Sadd al-Dzarî`ah

Sadd al-dzarî`ah merupakan murakkab idhâfiy (kata majemuk) yang terdiri dari lafal sadd dan al-dzarî`ah. Secara etimologi, sadd berarti menutup. Sementara dzarî`ah berarti sarana menuju sesuatu.[1] Dzarî`ah juga dapat berarti sebab dari sesuatu. Al-darî`ah menurut ulama ushul sebagai berikut: Menurut Ibnu al-Qayyim, dzarî`ah adalah sarana terhadap sesuatu.[2] Menurut al-Qarrafi, dzarî`ah  adalah suatu sarana dan jalan menuju sesuatu. Menurut al-Syathibi, dzarî`ah adalah ... Read More »

Sadd al-Dzarî`ah; Sebuah Tinjauan Praktis-Normatif

Allah menciptakan manusia di muka bumi dengan tujuan tertentu, yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah sendiri memiliki makna yang sangat luas. Segala perbuatan manusia yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan dimaksudkan hanya untuk mencari rida-Nya dinilai sebagai ibadah. Secara sederhana, ibadah dapat dibagi menjadi dua; ibadah yang bersifat vertikal dan ibadah yang bersifat horizontal. Ibadah vertikal sering disebut sebagai hablun minalLâh, ... Read More »

Dr. Yusuf al-Qardawi dan Fikih Taisir

Fikih adalah satu cabang ilmu Islam yang mengorientasikan kajian pada hukum syar’i yang bersifat praktis (amaliyah) dari dalil tafsîlî. Fikih juga dapat disebut sebagai cabang ilmu mengenai perundang-undangan dalam Islam. Bedanya dengan hukum konvensional adalah bahwa fikih mempunyai cakupan kajian lebih luas dan lebih mendalam.   Fikih dianggap sebagai perundangan yang universal dan komperhensif karena mengatur kehidupan individu seorang muslim ... Read More »

Al-Tsawâbit Wal Mutaghoyirât; Perspektif Qaradhawi

  Setelah meruntuhkan khilafah Islamiyah, Musthofa kamal mengganti hukum syari’ah yang berlaku di Turki dengan hukum Barat sekuler. Musthafa Kamal beranggapan bahwa hukum syari’ah bersumber dari agama yang tidak dapat berubah mengikuti perputaran zaman. Jika negara menjadikan agama sebagai rujukan hukum, maka negara selamanya tidak akan pernah berkembang. Untuk itu agama harus difungsikan sebagaimana mestinya, yaitu sekedar hubungan manusia dengan ... Read More »

Dr. Yusuf al-Qardhâwi dan Fikih Realitas

   Fikih Qaradawi juga realistis, artinya menyelaraskan hukum sesuai dengan realitas sosial dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan antara maslahah dengan mafsadah. Qaradawi sangat menjauhi permasalahan fikih yang bersifat mengada-ada (al-ahkâm al-iftiradhiyah) dan selalu menjauhi permasalahan klasik yang sudah tidak ditemukan dalam realitas kontemporer. Qaradawi juga tidak tertarik dengan pembahasan fikih klasik yang cenderung melebar sehingga permasalahan sederhana menjadi berbelit-belit.[1]   ... Read More »

Open