Tuesday, November 20, 2018
Artikel Terbaru

Ushul Fikih

Mafhûm Mukhâlafah

Mafhûm mukhâlafah adalah menetapkan hukum yang tidak tertera dalam nash, kebalikan dari ketetapan hukum sebagaimana yang tertera dalam nash.[1] Atau, dilâlah mafhûm mukhâlafah adalah memberikan ketetapan hukum yang bertolak belakang  dari ketetapan hukum pada manthûq nash, lantaran tidak adanya suatu ikatan (qayat) yang membatasi penerapan ketetapan hukum tersebut. Dengan demikian, satu nash sekaligus dapat menunjukkan dua ketetapan hukum, yaitu hukum ... Read More »

Syarat Mafhûm Muwâfaqah

Baik Hanafiyah maupun mutakallimûn mengakui akan keberadaan mafhûm muwâfaqah, atau dalam mazhab Hanafi disebut dengan dalâlatu al-nas, sebagai salah satu ijtihad dalam metode dilâlah, karena didasarkan pada  persamaan makna antara yang diucapkan (manthûq) dan yang tidak terucapkan (maskût) tanpa mengharuskan ijtihad dan istinbâth. Dilâlah tersebut dapat diketahui langsung dari pengetahuan terhadap bahasa dan makna terapan dalam bahasa. Contoh: فَلاَ تَقُل ... Read More »

Mafhûm

Mafhûm juga dibagi menjadi dua: Pertama: mafhûm muwâfaqah Kedua: mafhûm mukhâlafah.   Mafhûm muwâfaqah Mafhûm muwâfaqah adalah ketetapan hukum yang tidak tertulis dalam nash sesuai dengan ketetapan hukum yang tertulis dalam nash.[1] Atau, Mafhûm muwâfaqah adalah petunjuk lafazh terhadap ketetapan hukum yang terucapkan atas hukum yang tidak terucapkan. Disebut mafhûm muwâfaqah karena  ketetapan hukum yang tidak terucapkan atau terungkapkan dalam ... Read More »

Pembagian Mantûq Ghairu sharîh

Manthûq ghairu sharîh dibagi menjadi tiga: 1.   Al-iqtidhâ’ 2.   Al-isyârah 3.   Al-îmâ’.   Al-iqtidhâ’ adalah benar tidaknya makna yang dimaksud pembicara, baik secara syariat atau logika bergantung pada lafazh yang terbuang. Al-isyârah adalah makna yang tidak dimaksudkan oleh pembicara. Al-îmâ’ adalah  makna yang dimaksud pembicara disertai dengan sifat tertentu yang menjadi illah dari ketetapan hukum. Al-iqtidhâ’ dan al-îmâ’ berkaitan erat ... Read More »

Pembagian Manthûq

Manthûq dibagi menjadi dua: Pertama: mantûq sharih Kedua: manthûq ghair sharih. Manthûq sharîh adalah makna yang ditunjukkan oleh lafazh ketika diucapkan sesuai dengan makna lafazh (muthâbaqah), atau bagian dari makna lafazh (tadhammun). Di sini berarti manthûq mencakup juga dilâlah muthâbaqah dan dilâlah tadhammun. Bagian ini dalam madzhab Hanafi disebut dengan ‘ibâratu al-nash. Contoh manthûq sharih pada dilâlah muthâbaqah: Kewajiban melaksanakan ... Read More »

Pembagian Dilâlah Menurut Ulama Mutakallimûn

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Hanafiyah membagi dilâlah menjadi empat, yaitu ‘ibâratu al-nash, isyâratu al-nash, dilâlah al-nash dan dilâlatu’l iqtidhâ’. Sementara ulama mutakallimûn menambahkan dilâlah lain yang mereka sebut sebagai mafhûm mukhâlafah. Sebagian ulama ushul menyebutnya dengan istilah dalîlu’l khitâb”. Di kalangan mutakallimûn, dilâlah dibagi menjadi dua, yaitu dilâlatu’l manthûq dan dilâlatu’l mafhûm. Mantûq adalah makna yang ditunjukkan lafazh ketika ... Read More »

Definisi Dilâlatu’l Iqtidhâ’

Al-iqtidhâ secara etimologi berarti meminta. Sementara secara terminologi adalah petunjuk suatu lafazh terhadap suatu makna, di mana pengertian dari lafazh tersebut tidak sesuai  kecuali dengan adanya sesuatu tersebut. petunjuk makna tidak dapat dipahami dari lafazh, melainkan menuntut adanya lafazh lain yang tersembunyi.[1] Jika kebenaran suatu ungkapan kalimat, baik secara bahasa, syariat atau logika bergantung kepada makna yang berada di luar ... Read More »

Iqtidhâ‘u an-Nash (Dilâlatu’l Iqtidhâ’)

Pada prinsipnya, bahwa makna hakikat bahasa atas suatu lafazh adalah bahasa sesuai dengan maksud pembicara.  Maka makna bahasa harus sesuai dengan makna terapan lafazh dalam struktur bahasa. Dengan kata lain, tidak boleh membawa makna bahasa kepada makna metafora karena prinsip makna bahasa adalah makna yang sesungguhnya (haqîqiy). Biasanya pembicara mengungkapkan sesuatu sesuai dengan pemakaian kata dalam struktur bahasa. Makna tersebut ... Read More »

Indahnya Menuntut Ilmu di Masjid Al-Azhar

Al-Azhar merupakan masjid dan universitas. Keduanya menyatu dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Jika universitas merupakan bentuk dari pelajaran formal, maka masjid menjadi pelajaran tidak formal. Di dalamnya  terdapat banyak ruang kelas tempat belajar para santri dari seluruh dunia. Jadwal tersusun rapi dan sangat padat. Pelajaran mulai selepas subuh hingga bakda isya. Semua cabang ilmu keislaman diajarkan, dari fikih dari 4 mazhab, ... Read More »

Apakah Hukum Fikih Bisa Berbeda-Beda?

Dalam sebuah diskusi, ada yang melontarkan pertanyaan berikut: “Bisakan dalam satu teks hukumnya bisa berbeda-beda? Misalnya teks hadits tentang menipiskan kumis dan memelihara jenggot. Menipiskan kumis (sunnah), memelihara jenggot (wajib)?   Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan di atas, perlu kita ketahui beberapa hal berikut: Dalam menentukan kesimpulan hukum, hendaknya dilihat terlebih dahulu, apakah teks terkait merupakan teks yang qathil wurud ... Read More »

Open