Saturday, October 20, 2018
Artikel Terbaru

Ushul Fikih

Antara Mujtahid Mutlak dan Mujtahid Muqayyad

  Ijtihad secara bahasa adalah berusaha keras untuk melakukan sesuatu. Secara istilah ijtihad adalah seorang fakih yang meluangkan waktunya dan bekerja keras sekuat tenaga, untuk menggali hukum fikih meski hasilnya sifatnya zhanni.  Hasil dari usahanya tadi tidak harus benar seratus persen. Karena memang bukan tugas seorang mujtahid untuk bisa menghasilkan kebenaran yang bersifat pasti . Oleh karenanya, disebutkan “meski hasilnya ... Read More »

Al-Wâdhih al-Dalâlah

Al-wâdhih al-dalâlah dapat dibagi menjadi empat, al-zhâhir, al-nashsh, al-mufasshar dan al-muhakkam. Pembagian tersebut berdasarkan pada tingkatan kejelasan makna dari ungkapan kalimat. Lafazh yang memiliki makna terlemah disebut al-zhâhir, kemudian tingkatan yang lebih tinggi adalah al-nash, lalu al-mufashar dan tingkatan tertinggi adalah al-muhakkam.       Read More »

Landasan Utama Atas Klasifikasi Tingkatan Kejelasan Makna Nash

Ada perbedaan sikap dalam memandang nash antara ulama ushul dengan ulama bahasa. Pakar bahasa hanya berkutat pada makna lafazh dilihat dari segi kebahasaan sebagai makna pertama. Hanya saja kemudian makna tersebut terkadang berkembang dari makna pertama kepada makna kedua, yaitu makna metafora (majâzîy) sehingga makna lafazh berubah menjadi haqîqah ‘urfiyyah. Para pakar bahasa memandang bahasa sebagai suara yang terdiri dari ... Read More »

Standar Tingkatan Kejelasan Makna Nash

Ada perbedaan sikap dalam memandang nash antara ulama ushul dengan ulama bahasa. Pakar bahasa hanya berkutat pada makna lafazh dilihat dari segi kebahasaan sebagai makna pertama. Hanya saja kemudian makna tersebut terkadang berkembang dari makna pertama kepada makna kedua, yaitu makna metafora (majâzîy) sehingga makna lafazh berubah menjadi haqîqah ‘urfiyyah. Para pakar bahasa memandang bahasa sebagai suara yang terdiri dari ... Read More »

Interpretasi Atas Tingkatan Kejelasan Makna Nash

Dengan tingkatan kejelasan makna dari suatu nash tertentu bukan berarti bahwa tingkatan lain yang lebih rendah secara struktural tidak memiliki kejelasan makna, baik dari bentuk susunan kalimat atau ketentuan makna yang dimaksudkan. Sesungguhnya semua nash tersebut memiliki kejelasan makna. Hanya saja, suatu nash yang memiliki tingkatan tertinggi bisa jadi terdapat maksud tersembunyi yang dikehendaki Allah sebagai peletak syariah. Atau bisa ... Read More »

Al-Wâdhih al-Dalâlah dan Ghairu’l Wâdhih al-Dalâlah

Sikap para ulama ushul terhadap nash-nash yang memiliki kejelasan makna karena langsung dapat dipahami dari bentuk susunan kalimat, sehingga tidak lagi bergantung pada indikator (qarînah) atau bukti-bukti lain dari luar nash, sangat nampak dari metodologi mendetail yang mereka gunakan dalam menyusun dan menata tingkatan-tingkatan nash-nash tersebut. Mereka membuat susunan dengan memulai dari tingkatan yang memiliki kekuatan kejelasan makna tertinggi. Tentu ... Read More »

‘Umûmu’l Musytarak

‘Umûmu’l musytarak adalah lafazh yang memiliki makna ganda, dan memungkinkan untuk dipakai hanya satu makna saja. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama: Makna yang terdapat dalam lafazh musytarak tidak dapat dipakai secara utuh. Maka tidak diperkenankan menggunakan seluruh makna ganda untuk memahami ungkapan kalimat, namun harus dipilih mana makna yang sesuai dengan ungkapan kalimat tersebut. Boleh, ... Read More »

Hukum Lafazh Musytarak

Jika dalam nash syarit terdapat lafazh musytarak, maka ketetapan makna harus dilihat terlebih dahulu. Jika makna ganda tersebut satu berasal dari makna bahasa dan yang lain berasal dari makna syariat, maka yang harus didahulukan adalah makna syariat. Contoh lafazh shalat, zakat dan lain-lain. Jika lafazh tersebut memiliki makna ganda, maka yang harus dipakai adalah satu makna saja sesuai dengan indikator ... Read More »

Sebab-sebab Munculnya Lafazh Musytarak Arab

Dalam ungkapan bahasa Arab, terdapat lafazh yang memiliki makna ganda. Para ulama menyebutkan beberapa sebab terjadinya makna ganda dalam satu lafazh sebagai berikut: Perbedaan suku Arab dalam menerapkan dan menggunakan lafazh bahasa. Terkadang satu suku menggunakan lafazh tertentu untuk makna tertentu, sementara suku lain menggunakan lafazh yang sama namun dengan makna yang berbeda. Lafazh dipakai sesuai dengan makna terapan lafazh, ... Read More »

Hukum Takhshishu’l ‘Umûm

Jumhur ulama berpendapat bahwa takhshîshu’l ‘umûm dibolehkan, baik lafazh tersebut berbentuk amr (kata perintah), nahiy (larangan) atau jumlah khabariyah (ungkapan berita). Sementara sebagian ulama berpendapat bahwa takhshîsh tidak diperbolehkan dalam jumlah khabariyah (ungkapan berita). Sebagian lain berpendapat bahwa takhshîsh tidak diperbolehkan dalam amr (kata perintah).   Dalil yang digunakan jumhur ‘ulama Menurut jumhur ulama, bahwa takhshîs dalam jumlah khabariyah (ungkapan ... Read More »

Open