Saturday, January 20, 2018
Artikel Terbaru

Ushul Fikih

Benarkah Kiyas Burhan Tidak Memerlukan Kajian Induktif Seperti Kiyas Bayan?

Dalam sebuah diskusi, ada yang mempertanyakan, benarkah kiyas burhan lemah karena tidak ada unsur penelitian dan hanya bermain kata-kata, berbeda dengan kiyas bayan yang memerlukan penelitian?   Terkait pertanyaan di atas, jawabannya sebagai berikut: Untuk membuat kiyas burhan, syaratnya ada empat, yaitu Mukadimah shugra Mukadimah kubra Had al awsad Natijahlkonklusi Contoh: Mukadimah sughra: Setiap yang memabukkan adalah khamar. Mukadimah Kubra: ... Read More »

Sarana Fital Bagi Pelaksanaan Suatu Kewajiban

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa kata perintah (al-amr) mengandung makna wajib. Hanya saja, melaksanakan perintah terkadang bergantung sarana yang menjadi titik awal atas terwujudnya pelaksanaan perintah tersebut. Jika memang demikian, apakah mewujudkan sarana hukumnya menjadi wajib?   Sarana menuju perbuatan wajib dapat dibagi menjadi dua: Pertama: sarana tersebut di luar kemampuan mukallaf, seperti kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji, nisab dalam ... Read More »

Kata Perintah, Apakah Harus Segera Dilaksanakan?

Apakah kata perintah (al-amr) menunjukkan bahwa suatu perbuatan harus dilaksanakan sesegera mungkin, ataukah secara pelan-pelan? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Bagi yang berpendapat bahwa kata perintah (al-amr) harus dilaksanakan secara berulang kali, maka hal itu menunjukkan pada pelaksanaan perintah (al-amr) tersebut sesegera mungkin. Sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa kata perintah (al-amr) bisa jadi terikat ... Read More »

Dilâlatu’l Amri ‘Alâ al-Tikrâr

Tikrâr adalah Anda mengerjakan sesuatu kemudian Anda kembali melaksanakan perbuatan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah kata perintah (al-amr) tersebut mengharuskan terwujudnya perbuatan secara berulang-ulang? Kata perintah (al-amr), tidak otomatis menunjukkan pada pelaksanaan suatu perbuatan secara berulang-ulang, karena bentuk kata perintah hanya menunjukkan pada pelaksanaan perbuatan saja tanpa ada keharusan untuk melaksanakannya satu kali atau berulang-ulang kali. Pada dasarnya,  suatu perbuatan apakah ... Read More »

Kata Perintah Setelah Larangan (Al-Amru Ba’da al-Nahy)

Para ulama berbeda pendapat mengenai posisi makna kata perintah (al-amr) yang diletakkan setelah ungkapan kalimat yang sebelumnya melarang atau mengharamkan suatu perbuatan. Sebagian berpendapat bahwa ketetapan hukum yang dapat diambil adalah al-ibâhah (menunjukkan makna boleh). Mereka menyandarkan pendapat ini pada beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya adalah: وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُواْ Artinya: “Dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu”. ... Read More »

Lanjutan Contoh Praktis Makna-makna Kata Perintah

Al-Ta’jîz, yaitu tantangan yang ditujukan untuk menunjukkan kelemahan lawan. Contoh: يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ   Artinya: “Hai jamaah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (QS. Al-Rahmân: 33)   Al-Taswiyyah, yaitu menyamakan suatu perbuatan. ... Read More »

Contoh Praktis Makna-makna Kata Perintah

Contoh praktisnya sebagai berikut: Al-Ibâhah yaitu syariat memberikan pilihan kepada mukallaf untuk mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan. Dan bagi yang melakukan atau meninggalkannya tidak mendapatkan pujian atau celaan.[1] Contoh: وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ Artinya: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. ... Read More »

Amr (Kata Perintah)

Amr adalah perintah dari pihak yang lebih tinggi tingkatannya kepada pihak yang lebih rendah.[1] Lafazh amr (kata perintah) dalam bahasa Arab biasanya menggunakan standar (wazn)“if’al” atau bentuk fi`il mudhâri’ yang disertai dengan lamu’l amr (alif dan lâm yang menunjukkan arti perintah). Atau dengan kalimat berita,  namun dimaksudkan sebagai kata perintah atau  permintaan. Contoh bentuk pertama: وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَاحْذَرُواْ ... Read More »

Kesimpulan Hukum Dari Muthlaq Ke Muqayyad

Ungkapan kalimat dalam satu nash terkadang berbentuk muthlaq, namun dalam nash lain berbentuk muqayyad. Pertanyaannya adalah, apakah ungkapan kalimat dalam nash yang berbentuk muthlaq akan mengikuti ketetapan hukum dari ungkapan kalimat dalam nash lain yang muqayyad? Dengan kata lain, apakah ungkapan kalimat tersebut memiliki makna muthlaq, namun yang dimaksudkan nash adalah makna muqayyad? Ataukah ungkapan kalimat dalam nash yang berbentuk ... Read More »

Hukum Muqayyad

Jika lafazh dalam kalimat diikat dengan sifat tertentu, maka ketetapan hukum berlaku pada ikatan lafazh dalam kalimat tersebut. Tidak dibenarkan membuang sifat suatu lafazh dalam ungkapan kalimat jika tidak terdapat dalil yang dapat dijadikan sebagai argumentasi.[1] Contoh ketetapan hukum pada kafarat zhihâr dalam ungkapan ayat berikut: فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا Artinya: “Barang siapa yang ... Read More »

Open