Wednesday, February 20, 2019
Artikel Terbaru

Ushul Fikih

Posisi Ijtihad Dengan Akal Dalam Nash Zhâhir

Nash zhâhir wajib diamalkan karena ia adalah hujjah. Nash zhâhir merupakan makna yang diambil dari lafazh secara langsung dari shîghah lafazh (susunan bahasa). Makna yang diambil dapat dikatakan sebagai maksud musyarri’ (Allah). Ia hanya dapat ditakwilkan jika terdapat dalil yang jelas dan pasti.   Ijtihad dengan akal dalam nash zhâhir berkisar dalam beberapa hal sebagai berikut: Makna zhâhir adalah bukan ... Read More »

Hukum Zhâhir

Lafazh zhâhir memungkinkan adanya takwil. Yang dimaksudkan dengan takwil di sini adalah, memalingkan dari makna zhâhir, menuju makna lain yang dimaksud. Seperti mengkhususkan suatu lafazh yang masih bersifat umum (takhshîsu’l ‘âm), atau memberikan batasan (qayat) jika lafazh tersebut berbentuk mutlak, atau kemungkinan lafazh tersebut merupakan ungkapan metafor (al-majâz), bukan ungkapan yang sesungguhnya (al-haqîqah), atau bentuk-bentuk takwil lainnya. Selama tidak ada ... Read More »

Al-Zhâhir

Al-zhâhir secara etimologi adalah al-wudhûh yang berarti jelas. Secara terminologi adalah makna yang terkandung dalam suatu lafazh dapat dipahami dari lafazh itu sendiri tanpa harus bersandar dari makna yang berada di luar lafazh.[1] Menurut Fakhrul Islam al-Bazdawi, al-zhâhir adalah makna dari ungkapan kalimat di mana maksud dari kalimat tersebut dapat diketahui oleh pendengar langsung dari bentuk susunan kalimat.[2] Bagi mereka ... Read More »

Antara Mujtahid Mutlak dan Mujtahid Muqayyad

  Ijtihad secara bahasa adalah berusaha keras untuk melakukan sesuatu. Secara istilah ijtihad adalah seorang fakih yang meluangkan waktunya dan bekerja keras sekuat tenaga, untuk menggali hukum fikih meski hasilnya sifatnya zhanni.  Hasil dari usahanya tadi tidak harus benar seratus persen. Karena memang bukan tugas seorang mujtahid untuk bisa menghasilkan kebenaran yang bersifat pasti . Oleh karenanya, disebutkan “meski hasilnya ... Read More »

Al-Wâdhih al-Dalâlah

Al-wâdhih al-dalâlah dapat dibagi menjadi empat, al-zhâhir, al-nashsh, al-mufasshar dan al-muhakkam. Pembagian tersebut berdasarkan pada tingkatan kejelasan makna dari ungkapan kalimat. Lafazh yang memiliki makna terlemah disebut al-zhâhir, kemudian tingkatan yang lebih tinggi adalah al-nash, lalu al-mufashar dan tingkatan tertinggi adalah al-muhakkam.       Read More »

Landasan Utama Atas Klasifikasi Tingkatan Kejelasan Makna Nash

Ada perbedaan sikap dalam memandang nash antara ulama ushul dengan ulama bahasa. Pakar bahasa hanya berkutat pada makna lafazh dilihat dari segi kebahasaan sebagai makna pertama. Hanya saja kemudian makna tersebut terkadang berkembang dari makna pertama kepada makna kedua, yaitu makna metafora (majâzîy) sehingga makna lafazh berubah menjadi haqîqah ‘urfiyyah. Para pakar bahasa memandang bahasa sebagai suara yang terdiri dari ... Read More »

Standar Tingkatan Kejelasan Makna Nash

Ada perbedaan sikap dalam memandang nash antara ulama ushul dengan ulama bahasa. Pakar bahasa hanya berkutat pada makna lafazh dilihat dari segi kebahasaan sebagai makna pertama. Hanya saja kemudian makna tersebut terkadang berkembang dari makna pertama kepada makna kedua, yaitu makna metafora (majâzîy) sehingga makna lafazh berubah menjadi haqîqah ‘urfiyyah. Para pakar bahasa memandang bahasa sebagai suara yang terdiri dari ... Read More »

Interpretasi Atas Tingkatan Kejelasan Makna Nash

Dengan tingkatan kejelasan makna dari suatu nash tertentu bukan berarti bahwa tingkatan lain yang lebih rendah secara struktural tidak memiliki kejelasan makna, baik dari bentuk susunan kalimat atau ketentuan makna yang dimaksudkan. Sesungguhnya semua nash tersebut memiliki kejelasan makna. Hanya saja, suatu nash yang memiliki tingkatan tertinggi bisa jadi terdapat maksud tersembunyi yang dikehendaki Allah sebagai peletak syariah. Atau bisa ... Read More »

Al-Wâdhih al-Dalâlah dan Ghairu’l Wâdhih al-Dalâlah

Sikap para ulama ushul terhadap nash-nash yang memiliki kejelasan makna karena langsung dapat dipahami dari bentuk susunan kalimat, sehingga tidak lagi bergantung pada indikator (qarînah) atau bukti-bukti lain dari luar nash, sangat nampak dari metodologi mendetail yang mereka gunakan dalam menyusun dan menata tingkatan-tingkatan nash-nash tersebut. Mereka membuat susunan dengan memulai dari tingkatan yang memiliki kekuatan kejelasan makna tertinggi. Tentu ... Read More »

‘Umûmu’l Musytarak

‘Umûmu’l musytarak adalah lafazh yang memiliki makna ganda, dan memungkinkan untuk dipakai hanya satu makna saja. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama: Makna yang terdapat dalam lafazh musytarak tidak dapat dipakai secara utuh. Maka tidak diperkenankan menggunakan seluruh makna ganda untuk memahami ungkapan kalimat, namun harus dipilih mana makna yang sesuai dengan ungkapan kalimat tersebut. Boleh, ... Read More »