Monday, October 22, 2018
Artikel Terbaru

Ilmu Kalam

Insting dan Akal

Pertanyaannya, insting, masuknya ke akal atau indra? Karena ada binatang yang dengan instingnya mampu keluar dr suatu ruangan, seperti tikus percobaan. Ada lagi, kita sering menemukan binatang yang bisa pandai melakukan suatu pekerjaan. Biasanya ruang percobaan tsb terdiri dr berbagai jalan, tapi tikus yang pintar itu mampu menemukan pintu tmpt keluarnya. Insting bukan akal, bukan indra. Dia tersendiri. Namanya gharizah. ... Read More »

Hubungan Akal dengan Jauhar

Jika yang dimaksud adalah hubungan akal dan jauhar secara umum, maka tidak ada. Akal independen dan jauhar independen. Karen yang dimaksud akal disini bukan otak, namun hal lain yang bersifat abstrak. Sementara otak adalah kumpulan jauhar. Mengenai hubungan akal dengan otak akan dibahas kemudian. Mengenai letak proses berfikir bisa dilihat tulisan sebelumnya. Akal jugaa bukan a’raad karena orang bsa disbut ... Read More »

Nazar

Secara bahasa, nazar bisa diartikan melihat, menunggu, bertemu, berfikir dan merenung Dalam ilmu kalam, nazar biasa diartikan dengan berfikir dan merenung (Bukan melamun lhoo…) Menurut Qadhi Abu Bakar nazar adalah proses berfikir untuk menghasilkan pengetahuan atau mendapatkan prasangka yang dekat dengan pengetahuan/ilmu. Nazar dibagi dua, ayitu 1. Nazar dimana sarana menuju obyek pemikiran benar, maka nazarnya benar. Sederhananya, metodologi yang ... Read More »

Proses Berfiki (Nazar) Dan Mati

Masuk ke pembahasan analisa atau proses berfiki (nazar) Proses berfikir (nazar) juga antonim dari ilmu (pengetahuan). Karena Proses berfikir merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu. Atau sarana untk mendapatkan pengetahuan terhadap obyek yang sedang dia fikirkan. Masuk pembahasan “kematian”. Menurut Abu Hasyim, mati merupakan hilangnya struktur tertentu yang menjadi syarat kehidupan. Pendapat ini dipertanyakan oleh imam Amidi, karena dapat dipahami bahwa ... Read More »

Lalai dan Lupa

Setelah pembahanas ilmu, bodoh, ragu dan praduga, sekarang kita masuk kepada pembahasan lalai dan lupa. Lalai dan lupa juga antonim dari ilmu. Karena seseorang tidak mungkin ‘mengetahui’, namun disatu waktu dia juga ‘lupa dan lalai’. Apakah lupa dan lalai berkaitan dengan dua esensi? Hal ini sama pembahasannya dengan ilmu, bodoh, ragu dan praduga. Jawabannya bisa dirujuk ke belakang. Semua sepakat ... Read More »

Praduga

Praduga adalah memilih antara dua kemungkinan yang saling bertentangan. Praduga juga bukan ilmu, karena ilmu adalah sebuah keyakinan Antara ilmu dan praduga juga tidak dapat terjadi dalam satu waktu dan dalam menyikapi esensi yang sama Contoh: “Kayaknya saya akan makan pisang, tapi di satu waktu saya yakin akan makan pisang” “Kayaknya” dan “keyakinan” tidak dapat terjadi dalam satu waktu pada ... Read More »

Ragu-ragu

Apakah ‘ragu-ragu’ itu? Menurut Abu Hasyim, ragu ragu adalah ketiadaan ilmu Namun pendapat ini ditolak oleh al-Amidi Karena benda mati juga tiada ilmu Namun tidak disbeut ragu ragu Jika dikatakan, ketiadaan ilmu yang (tidak tau) semestinya ia berilmu (semestinya tau), juga tidak dapat diterima Karena dengan ketidak tauannya tersebut, ia tidak dapat menghukumi sesuatu benar atau salah Jadi ia tidak ... Read More »

Anonim Ilmu, Bodoh bastih dan murakkab

Kebalikan (antonim) dari al-ilmu al-hadis adalah: bodoh, ragu2, praduga, lalai, tidur, pingsan dan mati   Bodoh bastih dan murakkab Bodoh dibagi menjadi bocoh basith (sederhana) dan bodoh murakab Yang dimaksud basith adalah dia tidak berilmu, meski dia sesungguhnya dapat berilmu jika mau mencarinya Bodoh basith bukan bearti seseorang tidak berilmu sama sekali Karena benda-benda mati juga tidak berilmu, namun tidak ... Read More »

Apakah Ilmu Itu Tetap atau Berubah?

Asyariyah berpendapat bahwa ilmu tersebut ‘tidak tetap’. Dengan kata lain, ilmu selalu berubah. Karena ilmu adalah a’rad dan a’rad selalu berubah tiap waktu Muktazilah berpendapat bahwa jika berkaitan dengan ilmu daruri dan kasbi, dan tidak ada hubungannya dengan taklif (beban syariat), maka ia tidak tetap. Namun jika berkaitan dengan beban taklif, maka ia ‘tetap’. Muktazilah ingin mengatakan bahwa manusia bertanggung ... Read More »

Dalam Diri Kita, di Manakah Tempat Ilmu Pengetahuan?

Namun di manakah letak ilmu? Para filsuf mengatakan bahwa ilmu terletak di dalam jiwa (nafs) Para mutakalimun mengatakan bahwa ilmu terletak dalam dua esensi (tempat), pertama yang bersifat zahir (nampak)n yaitu panca indera. Panca indera ini menyimpan ilmu pengetahuan Lisan menyimpan ilmu ‘rasa’ Mata menyimpan ilmu ‘melihat’ Hidung menyimpan ilmu ‘mencium’ Dan demikian seterusnya Dengan kata lain, panca indera punya ... Read More »

Open