Wednesday, June 20, 2018
Artikel Terbaru

Ilmu Kalam

Kiyas Tamtsil

3) Kiyas tamtsil, yaitu mengkiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang lain karena persamaan ilat. Rukun kiyas tamsil ada empat, yaitu asal, cabag, illat dan hukum. Kiyas tamtsil ini mirip dengan kiyas yang digunakan oleh para fuqaha. Kiyas seperti ini, hasilnya tidak pasti (zhan). Dalam kiyas tamsil, antara illat dengan hukum sangat berkaitan. Jika dalam suatu cabang ada kesamaan illat, bearti kesimpulan ... Read More »

Bukti Kebenaran Semu

Terdapat bukti-bukti yang oleh sebagian orang dianggap bisa memberikan kebenaran pasti, padahal jika diteliti kembali ternyata tidak demikian. Bukti tadi bisa saja kita namakan dengan bukti kebenaran semu.   Bukti kebenaran semu ini ada 6 macam; 1) Kajian induktif (istiqra’) Yaitu memberikan kepastian hukum kepada semua unsur, baik secara positif atau negatif, berdasarkan penelitian terhadap elemen dari unsur-unsur tadi. Kajian ... Read More »

Syarat Dalil Akal

Di antara syarat dalil akal adalah bahwa ia harus bersifat tetap dan pasti (mutharidan). Keberadaan madlul (yang dibuktikan) tidak harus bergantung kepada dalil (bukti). Artinya, kiyas berbalik (mun’akis) di sini tidak berlaku. Contoh: Ada alam raya, bearti ada Sang Pencipta. Alam raya: dalil (bukti) Sang pencipta: madlul (yang dibuktikan) Jika pun tidak ada alam raya, Sang Pencipta tetap ada. Ini ... Read More »

Bagian-bagian Kiyas Istitsna’i

Kiyas istitsnai dibagi menjadi dua: 1) Mutasil 2) Munfashil Contoh muttashil: Jika matahari terbit, ada siang. Ternyata matahari terbit, jadi ada siang. Contoh munfashil: Bikangan, bisa jadi genap atau ganjil. Bedanya antara mutasil dan munfashil. Konklusi dari muttasil selalu berhubungan dengan mukadimah sebelumnya. Konklusi dari munfasil, ia hanya berupa pilihan satu dari dua atau lebih suatu perkara, seperti contoh di ... Read More »

Lanjutan Macam-macam Dalil; Bagian Keempat

Bagian keempat, yaitu had awsat di mukadimah sughra ia sebagai maudhu, sementara di mukadimah kubra ia sebagai mahmul. Syaratnya: Salah satu mukadimah berbentuk positif. Salah satu mukadimah berbentuk kulli.   Model seperti ini ada 5 bentuk: 1) Mukadimah sughra kulli negatif dan mukadimah kubra kulli positif. Contoh: Tidak ada manusia yang (ia itu) batu. Setiap yang berbicara adalah manusia. Jadi ... Read More »

Lanjutan Macam-macam Dalil; Bagian Ketiga

Bagian ke tiga: had awsad berada di posisi maudhu, baik di mukadimah sughra mupun kubra. Syaratnya, bentuk positif di mukadimah sughra dan salah satu dari dua mukadimah berbentuk kulli.  Ini juga ada empat bentuk 1. Mukadimah sughra dan kubra berbentuk kulli positif. Contpoh: Setiap manusia adalah hewan. Setiap manusia adalah bicara. Jadi sebagian hewan adalah bicara. 2. Mukadimah sughra juzi ... Read More »

Kita Butuh Ilmu Kalam Baru

Seperti pernah kami sampaikan, bahwa ilmu kalam, mempunyai dua tujuan utama: 1. Pembentengi akidah umat dari gempuran kepercayaan non muslim, seperti Majusi, Manawi, Dahriyun, Yahudi, Kristen dan lain sebagainya. 2. Menyerang kepercayaan musuh dengan berpijak pada al-Quran dan menggunakan senjata logika aristetolian untuk mematahkan keyakinan mereka. Tujuannya, mereka menyadari kesalahannya dan tuntuk terhadap akidah Islam. Dari sisi subtansi: Umumnya yang ... Read More »

Masih Perlukah Belajar Ilmu Kalam?

Pertanyaan penting, apakah kita masih perlu belajar ilmu kalam? Apakah ilmu ini masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer? Untuk menjawabnya, perlu kembali kita lihat tujuan awal terbentuknya ilmu kalam. Seperti pernah saya sampaikan, bahwa ilmu kalam, mempunyai dua tujuan utama: 1. Membentengi akidah umat dari gempuran kepercayaan luar, seperti Majusi, Manawi, Dahriyun, Yahudi, Kristen dan lain sebagainya. 2. Menyerang ... Read More »

Mengapa Pakar Ushul Fikih Umumnya juga Pakar Ilmu kalam?

Jika kita menilik para ulama terdahulu, kita akan mendapati bahwa para pakar ilmu ushul fikih, umumnya adalah pakar kalam.  Kita ambil contoh beberapa ulama berikut: Imam Amidi dari kalangan Aysariyah: Beliau mengarang  kitab ushul fikih dengan judul Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Muntaha Ashul Fi Ilmil ushul, Al makhudz Alal Mahshul dan lain-lain Belaiu mengarang kitab ilmu kalam dengan judul Abkarul Afkar fi ... Read More »

Pendapat Qadhi Baqilani Terkait Pertanyaan “Di Mana Allah?”

Mengenai “Di mana Allah”, menjadi perdebatan panjang di kalangan mutakallimun. Terdapat banyak pendapat dengan argumentasi masing-masing. Berikut saya sampaikan satu pendapat dari kalangan Asyariyah, seperti yang dituliskan oleh Qadhi al-Baqilani:     “ولا نقول إن العرش له- أي الله- قرار ولا مكان، لأن الله تعالى كان ولا مكان، فلما خلق المكان لم يتغير عما كان” Artinya: Kita tidak bisa mengatakan ... Read More »

Open