Saturday, October 20, 2018
Artikel Terbaru

Ilmu Kalam

Athard dan Al-Aks

Untuk dapat mengetahui suatu kesimpulan huku, mesti tau dulu mengenai illat hukum tersebut. Hanya saja dalam menentukan suatu illat, tidaklah sederhana. Banyak unsur yang bisa jadi secara kasat mata, ia illat suatu huklum, namun kenyataannya ia bukan illat hukum.   Untuk dapat mengetahui kepastian suatu ilat, maka ada beberapa cara yang bisa ditempuh, di antaranya adalah dengan apa yang disebut ... Read More »

Kiyas Ghaib Ala Syahid

Kiyas ghaib ala syahid yaitu mengkiyaskan alam metafisik dengan alam fisik karena kesamaan alhad, illat, syarat atau dalil. Contoh kesamaan had di alam fisik: Jika di alam fisik, orang dianggap alim jika ia berilmu, maka demikian juga yang terjadi di alam metafisik. Tuhan dianggap alim, karena Tuhan berilmu. Contoh kesamaan illat: Di alam fisik, ilaat orang orang dianggap alim karena ... Read More »

Mengapa Ilmu Kalam Klasik?

Dalam tulisan terdahulu, saya pernah menyinggung mengenai para ulama kontemporer yang membela akidah Islam dengan ilmu kalam. Selain itu, saya juga mengulas sekilas mengenai rekonstruksi ilmu kalam. Jika pembahasan ilmu kalam harus direkonstruksi, lantas untuk apa mempelajari ilmu kalam klasik? Mengapa dalam blog ini saya justru membahas panjang lebar secara berseri terkait dengan ilmu kalam klasik? Jawabannya sederhana. Sebelum merekonstrulsi ... Read More »

Kiyas Al-Farrasah

Kiyas ini mirip dengan kiyas tamtsili. Hanya saja, persamaan antara asal dengan cabang bukan karena illat yang sama, namun lebih karena kemiripan saja (dalil ala al-illah). Ia bukan illat yang sebenarnya. Contoh: Panglima perang itu maju di medan perang bak serigala buas. Antara oanglima perang dengan serigala buas sama sekali tidak ada kesamaan illat. Hanya saja, keduanya disamakan karena mempunyai ... Read More »

Kiyas Tamtsil

3) Kiyas tamtsil, yaitu mengkiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang lain karena persamaan ilat. Rukun kiyas tamsil ada empat, yaitu asal, cabag, illat dan hukum. Kiyas tamtsil ini mirip dengan kiyas yang digunakan oleh para fuqaha. Kiyas seperti ini, hasilnya tidak pasti (zhan). Dalam kiyas tamsil, antara illat dengan hukum sangat berkaitan. Jika dalam suatu cabang ada kesamaan illat, bearti kesimpulan ... Read More »

Bukti Kebenaran Semu

Terdapat bukti-bukti yang oleh sebagian orang dianggap bisa memberikan kebenaran pasti, padahal jika diteliti kembali ternyata tidak demikian. Bukti tadi bisa saja kita namakan dengan bukti kebenaran semu.   Bukti kebenaran semu ini ada 6 macam; 1) Kajian induktif (istiqra’) Yaitu memberikan kepastian hukum kepada semua unsur, baik secara positif atau negatif, berdasarkan penelitian terhadap elemen dari unsur-unsur tadi. Kajian ... Read More »

Syarat Dalil Akal

Di antara syarat dalil akal adalah bahwa ia harus bersifat tetap dan pasti (mutharidan). Keberadaan madlul (yang dibuktikan) tidak harus bergantung kepada dalil (bukti). Artinya, kiyas berbalik (mun’akis) di sini tidak berlaku. Contoh: Ada alam raya, bearti ada Sang Pencipta. Alam raya: dalil (bukti) Sang pencipta: madlul (yang dibuktikan) Jika pun tidak ada alam raya, Sang Pencipta tetap ada. Ini ... Read More »

Bagian-bagian Kiyas Istitsna’i

Kiyas istitsnai dibagi menjadi dua: 1) Mutasil 2) Munfashil Contoh muttashil: Jika matahari terbit, ada siang. Ternyata matahari terbit, jadi ada siang. Contoh munfashil: Bikangan, bisa jadi genap atau ganjil. Bedanya antara mutasil dan munfashil. Konklusi dari muttasil selalu berhubungan dengan mukadimah sebelumnya. Konklusi dari munfasil, ia hanya berupa pilihan satu dari dua atau lebih suatu perkara, seperti contoh di ... Read More »

Lanjutan Macam-macam Dalil; Bagian Keempat

Bagian keempat, yaitu had awsat di mukadimah sughra ia sebagai maudhu, sementara di mukadimah kubra ia sebagai mahmul. Syaratnya: Salah satu mukadimah berbentuk positif. Salah satu mukadimah berbentuk kulli.   Model seperti ini ada 5 bentuk: 1) Mukadimah sughra kulli negatif dan mukadimah kubra kulli positif. Contoh: Tidak ada manusia yang (ia itu) batu. Setiap yang berbicara adalah manusia. Jadi ... Read More »

Lanjutan Macam-macam Dalil; Bagian Ketiga

Bagian ke tiga: had awsad berada di posisi maudhu, baik di mukadimah sughra mupun kubra. Syaratnya, bentuk positif di mukadimah sughra dan salah satu dari dua mukadimah berbentuk kulli.  Ini juga ada empat bentuk 1. Mukadimah sughra dan kubra berbentuk kulli positif. Contpoh: Setiap manusia adalah hewan. Setiap manusia adalah bicara. Jadi sebagian hewan adalah bicara. 2. Mukadimah sughra juzi ... Read More »

Open