Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru

Ilmu Kalam

Mengenal Kiyas Aristetolian

Sebagaimana dalam kiyas ushuli, kiyas mantik (dalil) juga terdiri dari 4 hal, yaitu mukadimah pertama, mukadimah kedua, pengikat dan konklusi Pengikat, seperti illat Konklusi, seperti hukum Jika kita bandingkan dengan kiyas usuli, maka akan kita temukanbahwa rukun kiyas bagi mereka juga empat, yaitu al-aslu, al-far’u, illah dan al-hukmu. Salah benarnya konklusi dalam kiyas Arestotelian ini, sangat bergantung kepada mukadimah pertama. ... Read More »

Manthiq Tashdiqi

Selanjutnya, kita akan membahas mengenai mantik tasdiqi. Imam Amidi menyebutnya dengan istilah dalilyang mencakup ke dalam tujuh bahasan: 1. Batasan dalil, bagian dalil akal dan selain dalil akal. 2. Dalil akal yang terdiri dari dua mukadimah 3. Bentuk-bentuk mukadimah 4. Pembagian dalil menjadi qati dan selain qat’I 5. Bentuk-bentuk dalil 6. Pembagian dalil akal 7. Dalil yang dianggap meyakinkan, ternyata ... Read More »

Syarat Pembentukan Had

Dalam membentuk had, ada dua syarat penting, yaitu: 1. Jami : artinya tidak ada sesuatu yang keluar dari yang didefinisikan. 2. Mani: artinya tidak ada sesuatu yang diluar definisi, namun masuk ke dalam definisi. Jika tidak jami, maka sesuatu yang didefinisikan akan lebih umum dari definisi. Jika tidak mani, maka definisi akan lebih umum dari sesuatu yang didefinisikan. Jadi, jika ... Read More »

Pembagian Hadd

Dalam ilmu bayan, ini mirip ketika kita membuat permisalan/istiarah. Maka permisalan harus lebih jelas dibandingkan dengan yang dimisalkan. Contoh, Lampunya terang seterang matahari. Padahal dalam kenyataannya, matahari lebih terang dari lampu tersebut. Akan kurang tepat jika kita membuat permisalahn dengan yang lebih rendah. Contoh, lampunya sangat terang seperti lilin. Atau dengan sesuatu yang mempunyai tingkatan setara, contoh: lilinnya sangat terang ... Read More »

Batasan dan Definisi Had

Di sini terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa batasan had adalah al-jami dan al-mani (simpel dan mencakup). Hanya pendapat ini lemah. Contoh, jika ditanya tentang batasan manusia, siapakah manusia? Jawabnya, ia adalah manusia. Jawaban tersebut simpel dan mencakup (jami mani) namun tidak benar. Karena ia mendefinisikan sesuatu, dengan sesuatu itu sendiri. Padahal untuk membuat definisi, ungkapan definisi harus lebih ... Read More »

Lanjutan Tentang Had

Had (batasan tadi) bisa jadi kembali kepada perkataan orang yang membuat had atau kembali kepada sifat sesuatu yang dilakukan had. Mengenai hal ini, para ulama Asyari berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa had kembali kepada sesuatu atau benda yang bersangkutan. Menurut mereka, antara had dan hakikat artinya sama. Oleh karenaitu mereka mengatakan, had adalah hakekat dan makna atas sesuatu. ... Read More »

Mantik Tahsawuri: Had

Had artinya batasan. Yang dimaksudkan dengan had si ini adalah bahwa ketika seseorang akan membuat suatu definisi, maka dalam definisi tersebut harus ada batasan yang jelas. Dengan batasan-batasan tadi, maka segala sesuatu yang tidak masuk dalam pokok bahasan otomatis keluar dari definisi.   Contoh: Shalat adalah perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan niat ibadah shalat. Dengan ... Read More »

Urgensi Ilmu Mantik dalam Pemikiran Islam

Setelah ini kita akan membahas tentang mantik (logika aristetolian). Dalam ilmu kalam, bab ini sangat penting, karena menjadi landasan pembahasan setelahnya. Ilmu ini juga penting bagi mereka yang spesialis belajar ushul fikih. Ushul fikih kalam, menjadikan ilmu mantik sebagai sarana “berdebat” (bermunazarah). Sementara ushul fikih burhan khusunya ibnu Hazm, menjadikan ilmu mantik sebagai landasan epistemologi dalam menelurkan berbagai kaidah ushuliyahnya. ... Read More »

Fujur dan Takwa Menurut Mutakalimun

Fujur adalah perbuatan buruk dan prilaku yang bertentangan dengan syariat. Kebalikan fujur adalah takwa, yaitu kebenaran dan segala tatanan yang disyariatkan Allah. Tentang fujur dan takwa ini, dalam al-Quran, Allah berfirman: فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa.   Lantas bagaimana pandangan mutakallimun terhadap ayat di atas? Menurut Qadhi Abdul Jabar Muktizilah, dan ... Read More »

Jawaban Imam Amidi atas Kewajiban Pertama Bagi Mukalaf

Jika ragu-ragu dengan eksistensi Allah adalah wajib, bearti ragu-ragu, merupakan sebuah perintah. Padahal manusia agar dapat ragu dengan eksistensi Allah, ia harus tahu terlebih dahulu tentang pengetahuan perintah Allah. Sementara, pengetahuan perintah Allah dan ragu-ragu, adalah dua hal yang kontradiktif. Jadi pendapat di atas gugur. Kewajiban ragu-ragu tadi, juga bisa jadi atas perintah syariat, atau akal. Jika pengetahuan ragu-ragu itu ... Read More »

Open