Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru

Artikel

Menyikapi Kritik Teks Ala Syahrur

Bagaimana pendapat Ust. Tentang pernyataan berikut ini: Ternyata kita kalah dengan pemikir liberal. Gelombang arus Filsafat Islam Kontemporer sejak 1990 sepertinya sedang menuju ke sana. Para pemikir Islam Kontempores dengan gaya khas “Kritiknya”, mendedahkan bahwa “Khazanah keilmuan Islam selama ini diperlakukan dalam kerangka repetisi (pengulangan), bukan progresi”. Sebuah pengantar dari Kitab ‘Al Kitab wa Al Quran: Qira’ah Mu’ashirah, karya Muhammad ... Read More »

Irfani Itu Bukan Monopoli Umat Islam

Sebeumnya pernah kami sampaikan terkait manhaj irfan. Pada dasarnya, manhaj irfan adalah sebuah epistem yang bertumpu pada hati, perasaan dan batin. Ilmu irfan bisa dikatakan sebagai ilmu olah batin dan perasaan. Ia berdasarkan pada latihan dan pengalaman batin seseorang. Terkait ilmu olah batin, tidak hanya berasal dari dunia Islam. Jauh sebelum agama ini ada, sudah banyak aliran kepercayaan yang juga ... Read More »

Bahaya Tidak Bermadzhab; Bagaimana Sikap Muhamadiyah?

Dr. Muhamad Said Ramadhan al-Buthi pernah menulis buku dengan judul, “Al-Laa Madzhabiyyah; Akhthar Bid’atin Tuhaddidu as-Syari’ah al-Islamiyyah”. Buku tersebut ditulis untuk mengcounter pendapt alkhanjali dan Syaih Nasirudin al-albani yang menyatakan bahwa bermazhab tidak diperlukan. Menurut dua ulama itu, bahwa bermadzhab tidak pernah diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw. Manusia kelak ketika meninggal dunia juga tidak akan ditanya terkait madzhab yang dia ... Read More »

Krisis Metodologi Dalam Pemikiran Islam

Kemarin selepas ngaji bersama Maha Guru, Syaih Hasan Syafi, saya sempatkan jalan-jalan ke belakang Masjid Azhar untnuk keliling took buku, serta membeli buku-buku baru karya beliau. Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa buku karangan beliau, di antaranya adalah maqalun fil manahij. Saya tertarik tulisan beliau di mukadimah buku. Di situ beliau menerangkan mengenai urgensi metodologi dalam pemikiran Islam. Menurut beliau, bahwa perkembangan ... Read More »

Ternyata Solusi Krisis Adalah Tafsir Hermeneutika?

Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 22.   Setelah menuduh tafsir pra-modern mengalami krisis, Hamim Ilyas mengusulkan apa yang disebut dengan paradigma rahmat, lalu beliau menyebutkan 7 metode dalam penafsiran. Selengkapnya, berkut ungkapan beliau:   Penafsiran dengan paradigma rahmat dan indikator seperti itu secara epistemologis meniscayakan penggunaan metode holistik. Metode demikian meliputi 7 metode dalam penafsiran ayat dapat diterapkan ... Read More »

Antara Idealisme dan Contoh Praktis  

    Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 23.   Beberapa hari ini saya buka-buka buku fikih kebhinekaan. Umumnya membicarakan mengenai sistem pembacaan teks yang ideal dan sesuai dengan konteks kekinian. Ide-ide itu, ada yang sifatnya orisinil dari penulis, ada pula yang sekadar copy paste dari para pemikir Islam kontemporer.   Hanya saja, menurut hemat saya, para penulis itu ... Read More »

Tafsir Pra-modern Tidak Bisa Dijadikan Rujukan

  Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 21.   Sebelumnya saya sampaikan bahwa Hamim ilyas menganggap tafsir pra-modern tidak menginspirasi terhadap kejayaan. Namun di paragraf selanjutnya, ketika mengartikan kata din dan nikmat, beliau secara panjang lebar menggunakan literatur kitab-kitab tafsir pra-modern. Di sini nampak ketidak konsistenan beliau.   Di paragraf selanjutnya, setelah berbicara tentang makna din dan nikmat dengan ... Read More »

Terkait Turas Islam, Hamim Ilyas Ternyata Tidak Konsisten

Seri Counter Buku FIkih Kebinekaan. Artikel ke 20. Sebelumnya telah kita sampaikan bahwa Hamim Ilyas menuduh agama Islam tidak menginspirasi kejayaan. Lalu menuduh tafsir pra-industri tidak relevan dengan zaman. namun jika kit abaca di paragraph-paragraf setelahnya, nampak sekali ketidakkonsistenan Hamim Ilyas terhadap pendapat sebelumnya.   Ketika menerangkan mengenai pijakan dan dasar rekonstruksi, beliau menggunakan surat at-taubah ayat 22. Untuk menerangkan ... Read More »

Ulama Islam Tidak Berwawasan?

    Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 19. Sebelumnya telah kami sampaikan mengenai tulisan Hamim Ilyas yang menganggap bahwa tafsir agama pra-industri sangat terbatas. Bahkan tidak segan-segan beliau membatasi sekadar menjadi ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu kalam akidah dan ilmu tasawuf. Kemudian telah kami bantah pendapat beliau ini dengan menampilkan banyak bukti empirik mengenai keluasan cakupan ... Read More »

Tema Bahasa Tafisr “Abad Tengah” Sangat Terbatas?

  Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 18. Sebelumnya telah kami sampaikan mengenai tulisan Hamim Ilyas yang emnggunakan periodisasi sejarah Barat untuk menganalisa dan mengkaji pemikiran sejarah Islam. Telah saya sampaikan bahwa penggunaan periodisasi sejarah lain untuk menganalisa sejarah Islam akan menimbulkan kerancuan. Selanjutnya, kita akan melihat kepada bahasa lain dari ungkapan Hamim Ilyas yang saya anggap bertentangan dengan ... Read More »

Open