Monday, August 20, 2018
Artikel Terbaru

Artikel

Pemikiran Keislaman Islam Didominasi Corak Epistemologi Klasik?

Seri counter fikih kebhinekaan, artikel ke-25 Di halaman 103, Muhammad Azhar menulis sebagai berikut: Saat ini, berbagai literatur pemikiran keislaman masih didominasi oleh corak epistemologi klasik. Adapun beberapa ciri epistemologi keilmuan klasik tersebut antara lain sebagai berikut: Pertama, pemikiran Islam klasik, secara epistemologis (metode, rujukan, validitas) masih bercorak teologis-ilahiah-metafisis. Kedua, litelaur Islam klasik-terutama salafy dengan berbagai variannya-masih bersifat normatis-bayani. Umumnya ... Read More »

Mengganti Keyakinan Fikih Klasik?

  Seri counter fikih kebhinekaan. artikel ke-24 Di halaman 101, Muhammad Azhar menulis sebagai berikut: Urgensi dari perspektif epistemology keilmuan fikih kebhinekaan ini adalah dalam rangka menghindari ketidaktahuan (ignorance) konsepsi fikih kebhinekaan, dan mengganti keyakinan fikih (Islamic judicial belief)  yang masih berkutat pada pemahaman fikih klasik yang sudah tidak memadai dan tidak akomodatif terhadap dinamika pluralitas kewarganegaraan dan kebangsaan tanah ... Read More »

Menghadang Badai Globalisasi

      Sebagian orang melihat bahwa globalisasi tidak lebih dari istilah modern yang digaungkan oleh Barat demi kepentingan Barat. Globalisasi hamper sama dengan hegemoni serta eksploitasi barat kepada Negara-negara lemah. Jadi, globalisasi adalah istilah imperalisme modern.   Jika ditengok lebih mendalam, globalisasi memiliki karakteristik seperti halnya imperalisme klasik. Namun dengan nama berbeda yang kiranya lebih dapat diterima oleh masyarakat ... Read More »

Menyikapi Kritik Teks Ala Syahrur

Bagaimana pendapat Ust. Tentang pernyataan berikut ini: Ternyata kita kalah dengan pemikir liberal. Gelombang arus Filsafat Islam Kontemporer sejak 1990 sepertinya sedang menuju ke sana. Para pemikir Islam Kontempores dengan gaya khas “Kritiknya”, mendedahkan bahwa “Khazanah keilmuan Islam selama ini diperlakukan dalam kerangka repetisi (pengulangan), bukan progresi”. Sebuah pengantar dari Kitab ‘Al Kitab wa Al Quran: Qira’ah Mu’ashirah, karya Muhammad ... Read More »

Irfani Itu Bukan Monopoli Umat Islam

Sebeumnya pernah kami sampaikan terkait manhaj irfan. Pada dasarnya, manhaj irfan adalah sebuah epistem yang bertumpu pada hati, perasaan dan batin. Ilmu irfan bisa dikatakan sebagai ilmu olah batin dan perasaan. Ia berdasarkan pada latihan dan pengalaman batin seseorang. Terkait ilmu olah batin, tidak hanya berasal dari dunia Islam. Jauh sebelum agama ini ada, sudah banyak aliran kepercayaan yang juga ... Read More »

Bahaya Tidak Bermadzhab; Bagaimana Sikap Muhamadiyah?

Dr. Muhamad Said Ramadhan al-Buthi pernah menulis buku dengan judul, “Al-Laa Madzhabiyyah; Akhthar Bid’atin Tuhaddidu as-Syari’ah al-Islamiyyah”. Buku tersebut ditulis untuk mengcounter pendapt alkhanjali dan Syaih Nasirudin al-albani yang menyatakan bahwa bermazhab tidak diperlukan. Menurut dua ulama itu, bahwa bermadzhab tidak pernah diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw. Manusia kelak ketika meninggal dunia juga tidak akan ditanya terkait madzhab yang dia ... Read More »

Krisis Metodologi Dalam Pemikiran Islam

Kemarin selepas ngaji bersama Maha Guru, Syaih Hasan Syafi, saya sempatkan jalan-jalan ke belakang Masjid Azhar untnuk keliling took buku, serta membeli buku-buku baru karya beliau. Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa buku karangan beliau, di antaranya adalah maqalun fil manahij. Saya tertarik tulisan beliau di mukadimah buku. Di situ beliau menerangkan mengenai urgensi metodologi dalam pemikiran Islam. Menurut beliau, bahwa perkembangan ... Read More »

Ternyata Solusi Krisis Adalah Tafsir Hermeneutika?

Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 22.   Setelah menuduh tafsir pra-modern mengalami krisis, Hamim Ilyas mengusulkan apa yang disebut dengan paradigma rahmat, lalu beliau menyebutkan 7 metode dalam penafsiran. Selengkapnya, berkut ungkapan beliau:   Penafsiran dengan paradigma rahmat dan indikator seperti itu secara epistemologis meniscayakan penggunaan metode holistik. Metode demikian meliputi 7 metode dalam penafsiran ayat dapat diterapkan ... Read More »

Antara Idealisme dan Contoh Praktis  

    Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 23.   Beberapa hari ini saya buka-buka buku fikih kebhinekaan. Umumnya membicarakan mengenai sistem pembacaan teks yang ideal dan sesuai dengan konteks kekinian. Ide-ide itu, ada yang sifatnya orisinil dari penulis, ada pula yang sekadar copy paste dari para pemikir Islam kontemporer.   Hanya saja, menurut hemat saya, para penulis itu ... Read More »

Tafsir Pra-modern Tidak Bisa Dijadikan Rujukan

  Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 21.   Sebelumnya saya sampaikan bahwa Hamim ilyas menganggap tafsir pra-modern tidak menginspirasi terhadap kejayaan. Namun di paragraf selanjutnya, ketika mengartikan kata din dan nikmat, beliau secara panjang lebar menggunakan literatur kitab-kitab tafsir pra-modern. Di sini nampak ketidak konsistenan beliau.   Di paragraf selanjutnya, setelah berbicara tentang makna din dan nikmat dengan ... Read More »

Open