Wednesday, July 24, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Bukti Alam Baharu (Dalilul Hudus)

Matan HPT

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2)

 

Syarah:

Kata Kunci: العَالَمَ كُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ (Semua alam raya sifatnya baharu yang diciptakan dariketiadaan)

Matan HPT di atas menyebutkan mengenai ciri firqah najihah seperti yang telah menjadi ijmak ulama salaf yaitu keyakinan bahwa alam raya sifatnya baharu. Dengan keyakinan ini, HPT ingin memberikan keterangan kepada kita bahwa hanya Allah saja yang qadim. Tidak ada satupun selain Allah yang mempunyai sifat qadim. Selain itu, ungkapan tersebut juga memberikan indikasi bahwa untuk mengetahui tentang Allah yang qadim, dapat dilihat dari alam ciptaan-Nya yang muncul dari ketiadaan. Alam ciptaan merupakan benda fisik (syahid), sementara Tuhan yang qadim adalah metafisik (ghaib). Dalam ilmu kalam, melihat alam ciptaan Allah guna mencari kebenaran keberadaan Allah, sering disebut dengan istilah dalilul hudus (argument alam yang sifatnya baharu).

Di kalangan mutakallimin, argument alam baharu (dalil hudus) menempati posisi sangat fital. Argumen alam baharu dijadikan sebagai pintu masuk serta pembuktian mengenai adanya Tuhan Sang Pencipta. Begitu pentingnya argument alam baharu, sehingga para ulama kalam meletakkan bab dalilul hudus (alam baharu) di awal bahasan ilmu kalam. Hal ini bias dilihat misalnya dari tiga kitab karya Imam Abu Hasan al-Asyari yaitu Alluma’ fi Ar-Raddi Ala Ahli Az-Zaigh Wal Bida, Al-Ibanah Fi Ushul ad-Diyanah dan Ushulu Ahli as-Sunnah wal Jamaah. Juga bisa dilihat dari kitab karya ulama kalam pengikut Imam Asyari seperti Syarhstani dalam kitab Nihayatul Iqdam fi Ilmil Kalam, Imam Ghazali dalam kitab al-Iqtishad fil I’tiqad, Imam Rasi dalam kitab al-Arbain fi Ushuliddin, Imam Iji dalam kitab al-Mawaqif, Imam Al-Amidi dalam Kitab al-Ibkar dan lain sebagainya.

Sebaliknya argument alam baharu, tidak kita temukan dalam kitab-kitab karya Muhammad bin Abdul Wahab seperti Ushulu ats-Tsalatsah, kasyfu Asyubuhat, Kitabuttauhid, al-Qawaid al-Arba’, Ushulul Iman dan lain sebagainya. Ini menandakan bahwa pembuktian keberadaan Tuhan seperti yang tertuang dalam Kitab HPT Bab Iman, sesungguhnya mengikuti pendapat dari para ulama kalam, khususnya Asyariyah. Bahkan firqah an-Najihah atau kelompok yang selamat, seperti pada matan HPT di atas, yang paling pertama adalah kepercayaan dan keyakinan mengenai baharunya alam raya.

Argument alam baharu (dalilul hudus) terdiri dari dua poin penting:
Pertama: menetapkan bahwa alam raya adalah ciptaan. Ia muncul dari ketiadaan. Ia ada murni dari kehendak Allah yang maha Kuasa.
Ketiga: menetapkan bahwa setiap makhluk pasti memerlukan Dzat Sang Pencipta. Alam raya beserta isinya, termasuk di dalamnya adalah manusia dan hewan-hewan, bergantung dari Tuhan Sang Pencipta. Oleh karenanya, ia sifatnya mumkinul hudus atau ciptaan yang mungkin ada. Ia selalu membutuhkan kepada Allah yang qadim dan memiliki sifat kehendak mutlak. Ia Adalah Allah swt.

Dalilul hudus terdiri dari dua premis, satu rabit dan kesimpulan (natijah).

Premis pertama: Alam raya adalah sesuatu yang baharu.

Premis kedua: Alam raya ini ada yang menciptakan, yaitu Allah.

Pengikat (rabit): alam raya

 

Makna premis pertama: yang dimaksudkan dengan alam adalah adalah segala sesuatu selain Allah baik berupa benda mati atau makhluk hidup. Alam raya beserta isinya, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, sel-sel, molekul, materi, unsur dan energi, semua ada, meskipun sebelumnya tidak ada. Artinya bahwa alam raya ini menjadi ada, setelah sebelumnya tidak ada. Ada setelah tidak ada, namanya baharu (hudus). Oleh karena itu, alam berdasarkan makna ini, sudah pasti merupakan sesuatu yang sifatnya baharu.

Pengelihatan inderawi sucara fakta menyatakan bahwa alam raya adalah sesuatu yang ada, padahal sebelumnya tidak ada. Ia ada, lalu muncul hal lain yang sebelumnya tidak ada. Sementara itu, yang sudah ada, pada ahirnya akan sirna. Seperti halnya manusia yang tidak ada, lahir menjadi ada dan kelak akan meninggal dunia. Ia sirna menjadi tida ada.

Keterangan premis kedua: bahwa semua hal yang baru pasti ada penciptanya, merupakan hal umum yang sudah diketahui bersama. Sesuatu yang tidak masuk akan, muncul sesuatu, dengan sendirinya tanpa sang pencipta. Sederhananya, ketika kita melihat kursi, tentu kita akan berfikir bahwa kursi tersebut ada pembuatnya. Mustahil kursi muncul dengan sendirinya tanpa ada yang membuat. Jadi, wujudnya sesuatu terkait erat dengan sesuatu yang mewujudkan.

Sama halnya dengan alam raya yang kita saksikan ini. Gunung-gung, pepohonan, bintang,matahari, bulan, bumi, awan, air, binatang, manusia dan semua makhluk di jagat raya ini, ada. Ia tidak lah mungkin muncul begitu saja tanpa adanya Tuhan yang menciptakan. Ia ada, tentu karena sebab yang mengadaannya.

Orang Arab badui yang tinggal di pedalaman, mempunyai ungkapan sederhana namun sangat logis, yang mengatakan, “bekas telapak kaki unta, tentu menunjukkan bahwa ada unta”. Hal ini, sama dengan apa yang disampaikan oleh ulama kalam, bahwa “Setiap makhluk pasti memerlukan Dzat Sang Pencipta”. Jika secara logika, akal menetapkan bahwa alam raya sifatnya baharu (hudus), maka tidak dapat dielakkan lagi bahwa alam raya membutuhkan Tuhan Sang Pencipta. Maka benarlah kesimpulan dari dua premis di atas, bahwa “Setiap makhluk pasti memerlukan Dzat Sang Pencipta”.

Seringkali ada yang menyanggah pendapat di atas, khususnya kalangan athesi dan anti Tuhan yang mengatakan bahwa wujud alam raya, muncul secara kebetulan. Alam raya datang berdasarkan pada dialektia materi yang muncul pada wkatu tertentu secara kebetulan. Alam datang dengan menciptakand irinya sendiri.

Tentu saja, pendapat seperti ini sangat lemah.

  1. Asumsi bahwa alam raya menciptakan dirinya sendiri, benar-benar sama dengan asumsi bahwa alam raya makhluk dan pencipta. Dengan kata lain, alam raya adalah illat (sebab), dan dalam waktu yang bersamaan, alam raya adalah ma’lul (akibat).
  2. Alam dilihat dari sisi illat (sebab), ia sifanya harus ada. Hal ini karena alam sebagai pencipta. Namun dilihat dari sisi lain (ma’lul/akibat), ia adalah ciptaan yang sifatnya mungkin ada atau mungkin tidak ada.
  3. Secara logika, tidak masuk akal sesuatu harus ada, namun di sisi lain ia tidak ada atau mungkin ada. Hal ini karena antara ada dan tiada adalah dua hal yang saling kontradiktif dan tidak dapat dipertemukan.

Dengan logika di atas, jelas bahwa alam raya tidak mungkin wujud dengan sendirinya. Alam raya tidak masuk akal muncul dengan menciptakan dirinya sendiri. Maka mereka yang menganggap bahwa kejadian di alam raya sekadar reaksi dari pergerakan materi, pendapat ini gugur dengan sendirinya.

Terkati argumen alam baharu (dalilul hudus), Imam Baqilani menyatakan sebagai berikut:

وهذا الطريق من الكلام في حدوث الأجسام هو المعتمد في هذا الباب

Argumen yang menyatakan mengenai baharunya alam raya, merupakan pembuktian yang diakui pada bab ini.

Imam Maturidi menyatakan sebagai berikut:

والأصل أن الله تعالى لا سبيل إلى العلم به إلا من طريقة دلالة العالم عليه

Prinsipnya bahwa Allah tidak akan dapat diketahui kecuali dengan melihat bukti alam raya.
Imam Ghazali menyatakan sebagai beirkut:

من لا يعتقد حدوث الأجسام فلا أصل لاعتقاده في الصانع أصلا

Barangsiapa yang tidak percaya mengenai baharunya alam raya, maka ia tidak akan percaya dengan adanya Sang Pencipta.

Imam Nasafi berkata:

من المحال أن يكون من لا علم له بحدوث العالم وثبوت الصانع ووحدانيته وثبوت النبوة مؤمنا
Sangat mustahil orang akan beriman, manakala ia tidak punya pengetahuan mengenai alam raya yang sifatnya baharu, tidak tau Sang Pencipta, tidak mengesakan-Nya dan tidak percaya tentang kenabian.

Qadhi Albul Jabbar dari kalangan Muktazilah menyatakan sebagai berikut:

فإن قال قائل : فبينوا لي محل ما يلزم في التوحيد أن يعرفه ، قيل له : يدور ذلك على خمسة أصول : أولها : إثبات حدوث العالم

Jika ada yang berkata, ‘Terangkan kepada saya tentang sesuatu yang harus diketahui terkait dengan tauhiud? Saya katakana bahwa ia terdiri dari lima prinsip, yang pertama adalah menetapkan tentang baharunya alam raya.

Imam Sanusi menyatakan sebagai berikut;

اعلم أن حدوث العالم أصل عظيم لسائر العقائد ، وأساس كبير لما يأتي من الفوائد

Ketahuilah bahwa pengakuan terhadap baharunya alam raya merupakan prinsip terpenting dalam urusan akidah. Ia merupakan landasan terbesar yang akan berimplikasi kepada banyak hal.

Sebagaimana kami sampaikan bahwa ahli sunnah, sepakat terkait dengan baharunya alam raya. Ahli Sunnah di sini bukan hanya dari kalangan Asyari, namun juga dari kalangan Maturidi. Terkait hal ini, bias kita lihat misalnya dalam kitab Umdatul ‘Aqaid atau lebih dikenal dengan kitab ‘Umdatu Aqidati Ahli ssunnah Wal Jamaah karya Imam Abu Barakat an-Nasafi al-Maturidi. Buku ini salah satu karya tauhid terdepan di kalangan penganut madzhab Ahli Sunnah dari kalangan Maturidi. Berikut kami sampaikan cuplikan dari kitab tersebut:

Pasal Tentang Baharunya Alam Raya

Alam raya merupakan benda ciptaan. Pendapat ini berbeda dengan kalangan Dahriyah. Alam merupakan nama segala sesuatu selain Allah. Alam raya sebagai ciptaan, bisa jadi ia bisa independen yaitu yang disebut dengan al-ain (benda) atau keberadaannya membutuhkan yang lain. Ia adalah al-a’rad (sifat). Sesuatu yang independen tersebut, bisa jadi terdiri dari kumpulan atom, yaitu benda, atau merupakan sesuatu terkecil, yaitu atom. A’rad (sifat atom) sendiri sifatnya baharu. Hal ini bisa dilihat, di antaranya secara inderawi. Baharunya atom tadi, juga bias dilihat dari sisi lain, yaitu bahwa ia menerma kemusnahan. Segala sesuatu yang mungkin musnah, merupakan ciptaan yang sifatnya baharu.

Benda-benda selalu mempunyai sifat benda, dibuktikan bahwa benda ada dua kemungkinan, gerak atau diam. Jika ia bergerak, bearti ia berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain. Jika tidak bergerak, bearti ia tetap di ruang tertentu, namun tetap melewati waktu tertentu. Sementara jika benda bergerak, bearti ia akan melewati ruang dan waktu yang berbeda. Sesuatu yang berada dalam perubahan ruang waktu tersebut, menandakan bahwa ia merupakan ciptaan.

Sesuatu yang baharu, tentu memerlukan permulaan. Sesuatu yang wujudnya dimulai pada masa tertentu dari ketiadaan, mustahil muncul dengan sendirinya. Artinya bahwa benda tersebut, ada dua kemungkinan, bias jadi akan wujud atau tidak wujud sama sekali. Jika ia ternyata wujud, dan bukan berada dalam ketiadaan, bearti membuktikan bahwa ia ciptaan.

Pencipta benda tadi, sifatnya harus wajibul wujud, artinya keberadaan Sang Pencipta memang suatu keharusan dan keniscayaan. Karena jika keberadaan Sang Pencipta sifatnya imkan, maka Sang Pencipta bias jadi ada bias jadi tidak ada. Tidak mungkin sang pencipta berada dalam dua kemungkinan itu, ada atau tidak ada. Jika sang pencipta tidak ada, tentu wujud-wujud yang lain yang sifatnya imnkan, tidak akan pernah ada. Jika Sang Pencipta wujudnya bersifat imkan, artinya ada yang mewujudkan Sang Pencipta. Jika demikian, wujudnya Sang Pencipta tadi, juga membutuhkan zat lain untuk mewujudkannya. Hal ini akan terus terjadi secara berantai dan tentu mustahil. Maka yang masuk akal adalah adanya Wajibul Wujud, Tuhan Sang Pencipta yang keberadaannya pasti ada tanpa membutuhkan yang lain.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa argumen terkait baharunya alam raya (dalilul hudus) mempunyai dua poin penting, yaitu
terkait pengakuan bahwa alam raya mempunyai awal mula, dan pengakuan bahwa alam raya merupakan makhluk yang membutuhkan Sang Pencipta. Alam raya yang tidak datang dengan sendirinya.

Apakah yang disebut sebagai alam raya? Bagi ulama kalam, yang dimaksud alam raya adalah segala sesuatu selain Allah. Alam raya terdiri dari berbagai benda (hidup atau mati) di jagat raya. Semua benda tadi, terdiri dari materi-materi yang jika dibelah secara terus-menerus, maka akan didapatkan bagian terkecil yang tidak dapat dibelah lagi. Bagian tersebut dinamakan oleh ulama kalam disebut dengan atom. Ia sifatnya independen. Atom mempunyai sifat atom (a’rad) dan keberadaannya terkait erat dengan adanya atom.

Menurut ulama kalangan Asyari dan Maturidi bahwa atom-atom mempunyai berapa sifat yaitu penggabungan (ijtima), pemisahan (iftiraq), diam dan gerak. Benda, bagi ulama kalam merupakan implikasi dari penggabungan atas atom-atom. Jika suatu benda dipisah, sesungguhnya yang mengalami pemisahan (iftiraq) adalah atom-atom.

Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa atom punya sifat. Sifat atom secara sederhana dapat diketahui dari perubahan bentuk benda. Sifat benda yang berupa warna, panjang, lebar dan sejenisnya, sesungguhya merupaan sifat (a’rad) dari atom itu. Menurut mereka, perubahan pada sifat benda, sesunggu bukan dari benda-benda itu, namun implikasi dari perubahan sifat (a’rad) atom.

Bagi ulama kalam, perubahan sifat atomom merupakan bukti bahwa sifat atom (a’rad) juga bermula (hudus). Menurut mereka, perubahan merupakan sifat dari makhluk. Karena yang tidak akan berubah, hanya dzat yang sifatnya Qadim.

Ringkasnya bahwa benda-benda, jika dibelah secara terus menerus, akan sampai pada esensi terkecil dari benda yaitu atom yang tidak bisa dibelah lagi. Artinya bahwa benda-benda itu, ada titik ahir. Sesuatu yang ada titik ahir, bearti ada titik mula. Titik mula itu, mustahil muncul begitu saja tanpa ada yang memulakan atau menciptakan. Maka atom itu sifatnya baharu (hudus) yang bearti butuh permulaan.

Atom itu, mempunyai sifat yang selalu berubah. sifat itu disebut dengan al’arad. Di antara sifat itu adalah gerak, diam, berkumpul dan berpisah. Empat hal tadi selalu melekat pada atom dan selau mengalami pergerakan. Hal-hal yang bergerak, itu mendandakan ada permulaan. Ia tidak mungkin ada dengan sendirinya.

Benda-benda di jagat raya ini, menurut ulama kalam merupakan kumpulan dari atom-atom karena ada pengumpulan atom (ijtima). Karena atom dan juga sifat atom (a’rad) butuh permulaan, secara otomatis, alam raya yang merupakan kumpulan dari atom-atom itu, juga butuh permulaan.

Karena ia butuh permulaan, maka sifatnya baharu (hadis). Sesuatu yang baharu, harus ada yang menciptakan. Benda yang sifat baharu tidak akan muncul begitu saja. Karena ia butuh pencipta, maka harus ada Sang Pencipta yang tidak butuh permulaan dan sifatnya harus qadim dan azal. Ia adalah Allah ta’ala.

Ibnu Hazm, dalam kitab milal dan nihal menggunakan logika Aresto untuk membuktikan bahwa alam raya sifatnya baharu. Beliau menyatakan sebagai berikut:

Benda-benda mempunyai ciri-ciri baharu. Segala sesuatu yang mempunyai ciri-ciri baharu,maka ia baharu. Allah menciptakan benda-benda menjadi wujud, dalam waktu tertentu.

Argument bahwa alam raya baharu (dalilul hudus) ini juga akan berimplikasi pada hal lain yaitu bahwa Tuhan, hanya boleh mempunyai sifat ketuhanan yang qadim. Ia tidak boleh menerima sifat apapun yang dimiliki sifat makhluk. Tuhan berbeda dalam berbagai macam hal dari makhkluk-Nya.

Dari sini, ulama kalam termasuk kalangan Asyariyah dan Maturidiyah menolak anggapan bahwa alam itu qadim. Ulama kalam juga menolak pendapat Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa alam qadim di satu sisi, namun baharu di sisi lain atau yang disebut dengan istilah (hululul hawadis la awwala laha). Karena pendapat ini mengandung sisi ketuhanan pada alam raya.

Argument alam baharu, (dalilul hudus), menjadi pijakan terpenting bagi ulama kalam, termasuk di madzhab Asyari dan maturidi untuk membuktikan mengenai keberadaan Tuhan. Argument alam baharu (dalilul hudus) ditolak oleh para filsuf yang menggunakan bahwa alam sifatnya qadim dengan teori ilat ma’lul. Pendapat ini juga ditolak oleh Ibnu Taimiyah yang menganggap salah satu sisi alam raya adalah qadim.

 

===================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

16 + 10 =

*