Tuesday, October 16, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Biografi Singkat Imam Amidi

Nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Ali bin Muhammad bin Salim al-Amidi. Ia dilahirkan di daerah Amid, sebuah wilayah Turki pada tahun 551 H/1157 M. Di daerah ini pula, ia memulai belajar berbagai cabang ilmu pengetahuan, baik yang berkaitan dengan fikih, bahasa arab, ilmu kalam dan lain sebagainya. Untuk fikih, beliau mengikuti mazhab imam Ahmad bin Hambal.

Ia lahir dari keluarga biasa, bukan dari kalangan ilmuan atau bangsawan. Keluarganya hidup sangat sederhana. Meski demikian, ia mempunyai semangat besar yang luar biasa. Beliau menimba ilmu dari para masyayih di daerahnya hingga menguasai banyak cabang ilmu pengetahuan.

Pada umur 14 tahun, ia pergi ke Bagda untuk melanjutkan proses belajarnya. Lama ia menetap dan belajar di Bagdad. Bahkan sejak menginjakkan kakinya di Bagdad, ia tidak lagi kembali ke kampong halamannya.
Bagdad adalah menara ilmu. Bagdad selain sebagai ibu kota Khilafah Islamiyah pada waktu itu, juga menjadi tempat berkumpulnya para ulama. Banyak lembaga pendidikan ternama yang diampu oleh para ulama besar. Di sana, Imam Amidi menempa dirinya.

Meski demikian, Imam Amidi tidak merasa puas dengan menimba ilmu dari Bagdad. Ia berkelana ke berbagai wilayah Islam mendatangi para guru untuk memperdalam ilmunya. Ia pergi ke Damaskus, Halb, Mesir, lalu kembali ke Damaskus. Di sini ia mengabdikan ilmunya hingga ahir hayatnya.

Terhitung sekitar 66 tahun beliau menghabiskan umurnya untuk belajar, melakkan riset, menulis dan mengajar. Meski demikian, beliau bukan tipe ulama yang cinta pangkat, jabatan dan harta benda. Meski memiliki keilmuan luar biasa, namun tidak tercatat beliau pernah menjadi pegawai pemerintahan pada masa itu. Waktunya benar-benar dihabiskan untuk ilmu pengetahuan.

Jika kit abaca biografinya, kita akan menemukan banyak julukan atau nama lain yang semuanya ditujukan kepada dirinya. Di antaranya adalah Saifuddin, Saifuddunya waddin, Saif dan lainnya. Semua julukan ini diberikan kepadanya karena tinggi dan dalamnya ilmu pengethauan yang ia kuasai. Dari sekian julukan, yang paling popular adalah al-Amidi, yang dinisbatkan ke daerah al-Amid kampong halamannya.

Awalnya secara fikih, imam Amidi bermadzhab Hambali. Namun setelah berguru kepada ibnu Fadhlan di Bagdad yang bermadzhab Syafii, maka ia pindah dari madzha Hambali ke Syafii. Dari gurtuya ini, imam Amidi belajar ilmu fikih perbandingan, ilmu ushul fikih, ilmu jadal dan ilmu kalam.

Untuk ilmu filsafat, mulanya beliau belajar di Bagdad. Kemudian ia memperdalam ilmu ini ketika tinggal di Syam. Konon di antara para gurunya adalah para filsuf Kristen dan Yahudi. Al Qufthi menceritakakan sebagai berikut, “Imam Amidi belajar ilmu filsafat dari kalangan orang Kristen dan Yahudi daerah al-Kurkh”. Ini menunjukkan bahwa imam Amidi mempunyai pemikiran terbuka. Ia akan mengambil ilmu dari mana saja berada. Bahkan meski ilmu itu berasal dari non muslim, tetap ia pelajari selagi dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan agamanya. Terbukti, ilmu filsafat yang ia miliki, justru digunakan untuk mencounter para filsuf, orang Krsiten, Yahudi, Majusi, Manawi, Dahri dan lain sebagainya. Ia menggunakan ilmu filsafat untuk membela agama Islam. Hal ini Nampak jeas dari berbagai karyanya terutama Ibkarul Afkar fi Ushuliddin yang merupakan buku ilmu kalam yang berjumlah lima jilid besar.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open