Tuesday, June 19, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Berbeda Dengan Wahabi, Nazhar Bagi Muhammadiyah Wajib Syar’an

Jika kita baca Himpunan Putusan Tarjih BAB Iman, kita akan menemukan kalimat berikut ini:
اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.
Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.
Yang harus digarisbawahi dari kalimat di atas adalah ungkapanberikut ini:
وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا
Dam bahwa an-Nazhar atas alam raya untuk mengetahui Allah hukumnya wajib sesuai syariat.

Apakah yang dimaksudkan bahwa nazhar wajib secara syariat?
Maksudnya adalah bahwa keharusan mrlakukan nazhar untuk marifat Allah, pijakannya adalah syariat dan bukan akal. Jadi yang mrngharuskan melakukan nazhar bukankah akal namun syariat.

Mari kita lihat teks HPT tadi, dan kita komparasikan dengan teks yang ada dalam madzhab Asyari.

Badruddin Bin Muhammad Bahadru az Zarkasyi dalam kitab Al Bahru al Muhith menyatakan sebagai berikut:

النظر واجب شرعا . قال ابن القشيري : بالإجماع ; لأن الإجماع قام على وجوب معرفة الله ، ولا تحصل إلا بالنظر ، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب . ) البحر المحيط, بدر الدين بن محمد بهادر الزركشي
Nazhar hukumnya wajib syar’an. Ibnu al Qusayairi mengatakan, secara ijmak, karena ijmak menyatakan mengenai wajibnya makrifatullah yang hanya bisa dilakukan dengan nazhar. Suatu kewajiban yang tidak dapat terlaksana kecuali dengan mendatangkan suatu sarana, maka mewujudkan sarana itu hukumnya wajib. (Al Bahru al muhith karya badruddin Bin Muhammad Bahadru az Zarkasyi

Muhammad as Safarini al Hambali dalam kitab Lawamiul Anwar Al Bahiyyah Wa Sawathiul Asrar Al Atsariyah menyataian sebagai berikut:
في كتاب الشيرازي ( جامع الأنوار لتوحيد الملك الجبار ) من الأشعرية أن وجوب معرفة الله بالعقل والشرع معا . والتحقيق وجوب معرفة الباري – جل شأنه – شرعا ، )لوامع الأنوار البهية وسواطع الأسرار الأثرية, محمد السفاريني الحنبلي(

Dalam kitab karya Imam Syairazi, Jamiu Anwar Litauhidi al Mulk al Jabbar dari kalangan Asyariyah menyatakan bahwa keharusan makrifat Allah dengan akal dan syara secara bersamaan.
Hanya yang benar adalah bahwa keharusan makrifat Allah itu dengan Syariat. (Lawamiul Anwar Al Bahiyyah Wa Sawathiul Asrar Al Atsariyaj karya Muhammad as Safarini al Hambali.

Pendapat ini sesungguhnya untuk mencounter pendapat kalangan muktazilah dan Syiah yang menyatakan bahwa nazhar itu wajib, namun dengan akal. Maksudnya adalah bahwa akal secara independen dapat mengetahui baik buruk. Nazhar adalah perbuatan baik. Jadi keharusan melakukan nazhar, tidak harus menunggu syariat. Akal secara mandiri mampu mengetahui urgensi nazhar tersebut.

Nazhar syar’an atau aqlan ini, seaunggugnya implikasi lain dari konsep tahsin dan taqbih, apakah dengan akal atau syariat. Bagi muktazilah dan syiah, akal secara independen dapat mngetahui baik buruk. Alasannya adalah baik buruk, itu sifatnya dzati (substansial) dan bukan ‘irdhiy ( faktor lain).

Bagi kalangan asyairah dari kalangan Ahli Sunnah berpendapat bahwa baik buruk sifatnya isrdhi (faktor lain). Ia hanya dapat diketahui melalui syariat. Jika syariat mengatakan sesuatu itu baik, maka baiklah ia. sebaliknya jika syariat menyatakan sesuatu itu buruk, maka buruklah ia.

Bagaimanakah dengan Ibnu Taimiyah yang pendapatnya juga dinukil oleh Muhammad bin abdul Wahab dan juga ulama wahabi lainnya seperti syaih Utsaimin dan syaih bin Baz?
Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya bahwa kalangan wahabi tidak mengakui nazhar. Bagi mereka, makrifatullah sifatnya fitri. Manusia secara fitrah telah mengenal Tuhan.

Karena mereka tidak menggunakan nazhar terkait makrifatullah, maka secara otomatis, sandaran nazhar baik melalui akal seperti pendapatnya syiah dan muktazilah atau melalui syariat seperti pendapat ahli sunnah, juga tidak diakui.

Bagaimanakah dengan Muhammadiyah?
Jika kita baca teks di HPT, lalu kita bandingkan dengan teks dari ulama Asy’ariyah, ternyata sama, yaitu landasan syariat terkait keharusan melakukan nazhar. Jadi pendapat ini yang dirajihkan Muhammadiyah.
Muhammadiyah memarjukan pendapat muktazilah dan syiah yang menyatakan bahwa akallah yang mendasari keharusan melakukan nazhar. Berbeda juga dengan Ibnu Taimiyah dan kalangan ulama Wahabi yang sama sekali tidak menggunakan nazhar untuk makrifatullah. Wallahi a’lam

=====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open