Saturday, July 21, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Berbeda Dengan Wahabi, Muhammadiyah Menggunakan Dalilul Hudus


Jika kita buka Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, kita akan menemukan ungkapan berikut ini:

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2)

Yang harus digaris bawahi adalah ungkapan berikut ini:
عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ
Mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah

Dalam ilmu kalam, ungkapan di atas disebut dengan istilah dalilul hudus, yaitu memberikan bukti kebenaran Tuhan yang sifatnya qadim, dengan melihat pada alam raya yang mempunyai permulaan (hudus). Alam raya adalah makhluk yang membutuhkan Sang Pencipta.

Bagi ulama kalam, dalil hudus mempunyai posisi yang sangat penting. Bahkan dalilul hudus merupakan pintu awal pembuktian adanya Tuhan. Begitu pentingnya dalilul hudus ini, sehingga para ulama kalam meletakkan bab dalilul hudus di awal bab seperti yang ditulis oleh Syarhstani dalam kitab nihayatul iqdam fi ilmil kalam, imam Ghazali dalam kitab al-Iqtishad fil i’tiqad dan imam Rasi dalam kitab al-Arbain fi Ushuliddin.
Dalilul hudus terdiri dari dua poin penting:
Pertama: Menetapkan bahwa alam raya adalah mahluk.
Dua: Menetapkan bahwa setiap makhluk pasti memerlukan Dzat Sang Pencipta
Dari dua poin itu lantas muncul kesimpulan bahwa alam raya yang sifatnya makhluk itu, harus ada Dzat Sang Pencipta yang qadim dan bukan makhluk. Ia adalah Dzat yang memiliki sifat kehendak mutlak. Ia Adalah Allah swt.

Terkati dalilul hudus, Imam Baqilani menyatakan sebagai berikut:
((وهذا الطريق من الكلام في حدوث الأجسام هو المعتمد في هذا الباب
Sarana yang menyatakan mengenai benda yang mempunyai permulaan, merupakan yang diakui di bab ini.
Imam Maturidi menyatakan sebagai berikut:
والأصل أن الله تعالى لا سبيل إلى العلم به إلا من طريقة دلالة العالم عليه
Prinsipnya bahwa Allah tidak akan dapat diketahui kecuali dengan melihat bukti alam raya
Imam Ghazali menyatakan sebagai beirkut:
من لا يعتقد حدوث الأجسام فلا أصل لاعتقاده في الصانع أصلا
Barangsiapa yang tidak yakin mengenai awal mula penciptaan benda (hudusul ajsam), maka ia tidak akan percaya dengan adanya Sang Pencipta.
Imam Nasafi berkata:
من المحال أن يكون من لا علم له بحدوث العالم وثبوت الصانع ووحدانيته وثبوت النبوة مؤمنا
Sangat mustahil dianggap beriman, orang yang tidak punya pengetahuan mengenai alam raya yang punya permulaan (hudusul alam), tidak tau Sang Pencipta, tidak mengesakan-Nya dan tidak menetapkan tentang kenabian.

Qadhi Albul Jabbar dari kalangan Muktazilah menyatakan sebagai berikut:
فإن قال قائل : فبينوا لي محل ما يلزم في التوحيد أن يعرفه ، قيل له : يدور ذلك على خمسة أصول : أولها : إثبات حدوث العالم
Jika ada yang berkata, ‘Terangkan kepada saya tentang sesuatu yang harus diketahui terkait dengan tauhiud? Saya katakana bahwa ia terdiri dari lima prinsip, yang pertama adalah menetapkan tentang hudusul alam (permulaan alam raya).
Imam Sanusi menyatakan sebagai berikut;
اعلم أن حدوث العالم أصل عظيم لسائر العقائد ، وأساس كبير لما يأتي من الفوائد
Ketahuilah bahwa pengakuan terkait permulaan alam raya (hudusul alam) merupakan prinsip terpenting dalam urusan akidah. Ia merupakan landasan terbesar yang akan mendatangkan banyak manfaat.

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnyua bahwa dalilul hudus tadi, mempunyai dua poin penting:
Pertama, terkait pengakuan bahwa alam raya mempunyai awal mula.
Kedua, bahwa alam raya merupakan makhluk yang membutuhkan sang pencipta.

namun apakah yang disebut sebagai alam raya? Bagi ulama kalam, yang dimaksud alam raya adalah segala sesuatu selain Allah. Alam raya terdiri dari berbagai benda (hidup atau mati) yang berada di kolong langit. Semua benda itu, terdiri dari materi-materi yang jika dibelah secara terus-menerus, maka akan didapatkan bagian yang tidak dapat dibelah lagi. Bagian tersebut dinamakan dengan atom. Atom adalah benda terkecil yang keberadaannya tidak membutuhkan yang lain. Sifat atom (a’rad) merupakan suatu sifat yang melekat pada atom dan bergantung pada atom.

Menurut ulama kalangan Asyari dan Maturidi bahwa atom-atom mempunyai berapa sifat yaitu penggabungan (ijtima), pemisahan (iftiraq), diam dan gerak. Benda, bagi ulama kalam merupakan implikasi dari penggabungan atas atom-atom. Jika suatu benda dipisah, sesungguhnya yang mengalami pemisahan (iftiraq) pada atom-atom.

Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa atom punya sifat. Sifat atom secara sederhana dapat diketahui dari perubahan bentuk benda. Sifat benda yang berupa warna, panjang, lebar dan sejenisnya, sesungguhya merupaan sifat (a’rad) dari atom itu. Menurut mereka, perubahan pada sifat benda, sesunggu bukan dari benda-benda itu, namun implikasi dari perubahan sifat (a’rad) atom.

Bagi ulama kalam, perbuhana sifat atomom ini merupakan bukti bahwa sifat atom (a’rad) juga hudus (bermula). Karena yang tidak akan berubah, hanya dzat yang sifatnya Qadim. Perubahan merupakan sifat dari makhluk yang hudus dan bermula.

Ringkasnya bahwa benda-benda, jika dibelah secara terus menerus, akan sampai pada esensi terkecil dari benda yaitu atom yang tidak bisa dibelah lagi. Artinya bahwa benda-benda itu, ada titik ahir. Sesuatu yang ada titik ahir, bearti ada titik mula. Titik mula itu, mustahil muncul begitu saja tanpa ada yang memulakan. Maka atom itu hudus yang bearti butuh permulaan.

Atom itu, mempunyai sifat yang selalu berubah. sifat itu disebut dengan al’arad. Di antara sifat itu adalah gerak, diam, berkumpul dan berpisah. Empat hal tadi selalu melekat pada atom dan selau mengalami pergerakan. Hal-hal yang bergerak, itu mendandakan ada permulaan. Ia tidak mungkin ada dengan sendirinya.

Benda-benda di jagat raya ini, menurut ulama kalam merupakan kumpulan dari atom-atom karena ada pengumpulan atom (ijtima). Karena atom dan juga sifat atom (a’rad) butuh permulaan, secara otomatis, alam raya yang merupakan kumpulan dari atom-atom itu, juga butuh permulaan.

Karena ia butuh permulaan, maka sifatnya hadis. Sesuatu yang hadis, harus ada yang menciptakan. Hadis tidak akan datang begitu saja. Karena ia butuh pencipta, maka harus ada Sang Pencipta yang tidka butuh permulaan dan sifatnya harus qadim dan azal. Ia adalah Allah ta’ala.

Dalilul hudus ini juga akan berimplikasi pada hal lain yaitu bahwa Tuhan, hanya boleh mempunyai sifat ketuhanan yang qadim. Ia tidak boleh menerima sifat apapun yang dimiliki sifat makhluk. Tuhan berbeda dalam berbagai macam hal terhadap makhkluknya. Maka ulama kalam termasuk Asyariyah dan Maturidiyah menolak apa yang disebut dengan hululul hawadis la awwala laha

Dalilul hudus ini, menjadi pijakan terpenting bagi ulama kalam, termasuk di madzhab Asyari dan maturidi. Hanya saja, dalilul hudus mendapat kritikan dari para filsuf yang menggunakan teori ilat ma’lul sehingga mengatakan bahwa alam qadim. Juga mendapatkan kritikan dari kalangan wahabi yang menganggap bahwa hujah dalilul hudus bidah.

Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab dar’u ta’arrudi al aqli wa annaqli dan sering dinukil oleh para ulama eahabi, bahwa dalilul hudus sama sekali tidak pernah diajarkan oleh nabi Muhammad, sahabat atau generasi slaf. Secara tegas Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa menetapkan Tuhan dengan model dalilul hudus ini adalah bidah yang nyata.

Bagi Ibnu Taimiyah, pengetahuan Tuhan itu, sesungguhnya sifatnya fitrah yang sudah ada dalam hati manusia. Tidak perlu lagi membuktikan keberadaan Tuhan dengan argument atom yang sangat jlimet itu.

Berbeda dengan ulama kalam, Ibnu Taimiyah menetapkan kemungkinan Tuhan mempunyai sifat-sifat mahkluk atau apa yang disebut dengan hululul hawadis la awwala laha. Bahkan alam raya ini, bagi ibnu taimiyah dianggap qadim min haitsu annau, hadis min haitsu jinsi.

Jika melihat dari apa yang disebutkan dalam HPT, terlihat bahwa dalilul hudus ternyata merupakan pendapat ulama kalam termasuk di antaranya kalangan Aysari dan Maturidi. Muhammadiyah merajihkan pendapat ini dan memarjuhkan pendapat Ibnu Taimiyah yang menggunakan dalil fitrah. Ini membuktikan bahwa secara teologi, Muhammadiyah memang berbeda dengan kalangan wahabi. Muhamamdiyah dalam banyak hal selalu merajihkan pendapat ulama ahli sunnah dari kalangan Asyariyah dan Maturidiyah. wallahu a’lam.

=====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open