Monday, May 28, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Berbeda Dengan Wahabi, Muhammadiyah Menganggap Bahwa Alam Sifatnya Hadis

Jika kita buka Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, kita akan menemukan ungkapan berikut ini:

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2)

Yang harus digaris bawahi adalah ungkapan berikut ini:
عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ
Mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa Muhammadiyah menganggap alam itu hadis atau punya permukaan. Bagi Muhammadiyah, di zaman azal, Allah ada dan tiada apapun selain Allah. Ilmu allah meliouti apapun, yang belum terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi. Termasuk adalah iomu Allah akan adanya alam raya. Lalu ilmu Allah itu dutakhsish dengan sifat iradah beruoa kehendak untuk menciptakan alam raya. Kehendak tadi, lantas diwujudkan dengan sifat qudrah. Sifat-sifat tersebut, semuanya azal dan melekat pada Allah yang azal. 

Alam raya sendiri, muncul dari ketiadaan. Allah ia ada, murni karena kehendak Allah yang Maha Mutlak. Tidak ada apapun yang dapat menghakangi kekuasaan Allah. 

Alam raya ada, sifatnya imkan. Artinya tidak ada kewajiban bagi Allah untuk mewujudkan alam raya. Dikatakan imkan, karena ia tidak ada, lalu ada permulaan. alam rayat sifatnya hudus dan bukan ma’luk dari illat ula seperti anggapan para filsuf sehingga alam menjadi qadim.

Bagaimana dengan pendapat ibnu taimiyah yang sering dinukil oleh oara ulama kalangan wahabi?

 Alam menurut Ibnu Taimiyah bisa dilihat dari dua sisi. Pertama adalah alam raya secara fakta (bil’ain). Menurut beliau, secara factual alam sifatnya hadis. Alam ada dari ketiadaan dan sifatnya bukan ma’lul dari Allah. Di sini, pandangan Ibnu Taimiyah mirip dengan pendapat para ulama kalam. Perhatikan pendapat beliau berikut ini:

كل ما سوى الله مخلوق حادث كائن بعد أن لم يكن، وأن الله هو وحده القديم الأزلي ليس معه شيء قديم تقدمه ” [درء التعارض 1/125].

Semua benda selain Allah adalah makhluk yang sifatnya hadis. Ia ada setelah sebelumnya tidak ada. Hanya allah saja yang qadim dan azal. Tidak ada sesuatu yang qadim yang mendahului-Nya (Dar’udda’arud, jilid 1 hal. 125)

 

” ويمتنع أن يكون مفعوله ( أي ما خلقه الله ) مقارناً له أزلياً معه، لأنه كونه مقارناً في الأزل يمنع كونه مفعولا له ” [منهاج السنة 1/177]

Tidak mungkin ciptaan Allah munculnya bersamaan dengan Allah dan bersifat azal seperti Allah. Karena sesuatu yang sifatnya makhluk tidak mungkin datang bersama dengan khaliq.

 

” وليس معه شيء قديم بقدمه، بل ليس في المفعولات قديم ألبته، بل لا قديم إلا هو سبحانه، وهو الخالق لكل ما سواه، وكل ما سواه مخلوق ” [المنهاج 8/272].

Tidak ada sesuatu yang qadim bersama Allah. Bahkan tidak ada makhluk yang sifatnya qadim sama sekali. Tidak ada yang bersifat qadim selain Allah. Allahlah pencipta atas segala sesuatu. Semua benda selain Allah adalah makhluk (Minhajussunnah, jilid 8 hal. 272)

 

Di sisi lain, jika alam raya ini sifatnya hadis, terdapat problem. Kapan alam raya diciptakan, mengapa pada waktu tertentu dan tidak di waktu lain?

Pertanyaannya, bukankah sifat Allah sifatnya fa’al atau Maha Pencipta? Artinya bahwa Allah selalu mencipta. Jika lantas ada iradah dan qudrah, kemudian ada spesifikasi kapan alam tercipta, itu artinya ada jeda sebelum alam raya diciptakan. Artinya ada waktu tertentu di mana Tuhan belum mencipta. Bukankah ini menafikan sifat ‘fa’al-nya Allah? Bukankah ini artinya Allah tidak Maha Pencipta?

 

Untuk menengahi masalah ini, Ibnu Taimiyah menggunakan konsep imkan hawadis la awwala laha إمكان حوادث لا أول لها

Atau ciptaan yang bersifat imkan (mungkin terjadi) namun ia muncul tanpa awal mula. Artinya, bahwa alam raya sifatnya imkan, dan imkan ini jika ditarik ke belakang sifatnya tiada batas. Ia ada bersama dengan adanya Tuhan. Ia sifatnya “qadim”.

Tuhan ada dan Tuhan sudah bersifat qudrah. Dengan qudrah itu, secara otomatis alam raya ada. Maka alam raya ini ada bersamaan dengan qudrah Tuhan itu. 

Dari sini Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa alam raya dapat dilihat dari dua sisi. Pertama min haitsu an-au’ maka alam raya itu qadim. Namun min haitsu al-jinsi, alam raya itu hadis.

Hal ini bisa dilihat pendapat ibnu Taimiyah berikut ini:

والكلام على هذه الامور مبسوط فى غير هذا الموضع وذكر ما يتعلق بهذا الباب من الكلام فى سائر الصفات كالعلم والقدرة والارادة والسمع والبصر والكلام فى تعدد الصفة واتحادها وقدمها وحدوثها او قدم النوع دون الاعيان او اثبات صفة كلية عمومية متناولة الاعيان مع تجدد كل معين من الاعيان او غير ذلك مما قيل فى هذا الباب فان هذه المواضع مشكلة وهي من محارات العقول 

Ungkapan terkait persoalan ini telah dibahas di bab kain sementara di bab ini sekadar disebutkan terkait sifat-sifat lainnya seperti ikmu, qudrah, iradah, sama, basar dan kalam yang merupakan berbagai macam sifat namun ia satu. Ia qudum namun hadis. Atau qudum nau’ bukan qudum secara faktual. Atau itsbat sifat kuliyah umumiyah yang nampak secara faktual dengan memperhatikan sifat pembaruan (tajadud) setiap benda, atau bahasan lain.  Tema ini memang problem dan butuh kecerdasan akal. (Ibnu Taimiyah, majmuaturrasail wal masail jilid 3 hal. 112)

Ini dikuatkan juga oleh ulama wahabi  syaih Ibnu Abi al Iz ketika mensyarah aqidah tahawiyaj dengan mengatakan sebagai berikut:

والقول بان الحوادث لها اول يلزم منه التعطيل قبل ذلك وان الله سبحانه وتعالى لم يزل غير فاعل ثم صار فاعلا

Ungkapan yang menyatakan bahwa alam raya punya permulaan mengajibatkan pengguguran (sifat Allah) sebelum itu dan bahwa Allah sebelumnya tidak melakukan sesuatu lalu (setelah mencipta) ia dianggap melakukan sesuatu (fa’il). (Ibnu Abu Al-Iz, syarhu ath Thahawiyah, hal 111)

Pendapat ibu Taimiyah ini sesungguhnya ingin menengahi ulama kalam yang secara tegas mengatakan alam raya itu hadis, dan para filsuf yang secara tegas mengatakan bahwa alam raya itu qadi. Dua-duanya menurut ibnu Taimiyah ada celah prolem. 

Pendapat ini, sesungguhnya bukan berasal murni dari Ibnu Taimiyah. Satu cara jujur dalam kitab dar’u ta’arrudi al aqli wa annaqli, ibnu Taimiyah mengambil pendapatnya dari filsuf Abu Barakat. Pendapat ini, juga umum dipakai oleh para cendekiawan dari kelompok karamiyah.

Hanya saja, pendapat ibnu taimiyah justru memunculkan problem baru. Jelas beda antara qadim dan hadis. Bagaimana bisa sesuatu di satu sisi dianggap tidak bermula, namun di sisi lain dianggap bermula?

Muhammadiyah jelas memilih pendapatnya ukama kalam yang menyatakan bahwa alam raya ada permukaan. Tidak perlu ada kegamangan dengan berfikiran bahwa Allah pernah menganggur karena ada jeda antara qudrah dan penciotaan. 

Bukankah ulama kalam telah jelas menyatakan bahwa ilmu Allah meliputi masa? Bahwa ilmu itu ditakhsish oleh sifat iradah? Jadi penciptaan alam raya di waktu tertentu itu, sudah sesuai dengan ilmu Allah. Tidak ada masalah dalam hal ini. Dan Muhammadiyah sudah tepat memilih pendapat yang lebih kuat dan jelas ini. Wallahu a’lam

=====================
 Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open