Tuesday, August 4, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Benarkah Tafwith Adalah Sikap Bodoh

Benarkah Tafwith Adalah Sikap Bodoh
Seri Syarah HPT Bab Iman.
Artikel ke-53

الإِيْمَانُ بِا للهِ عَزَّ وَجَلَّ

( 6) ولاَ ( يُشْبِهُهُ شَيئٌ مِنَ الكَائِنَاتِ ( 7)
4
IMAN KEPADA ALLAH YANG MAHA MULIA

Tiada sesuatu yang menyamai-Nya (7).

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa Ibtnu taimiyah berpegang pada manhaj itsbat, yaitu melihat makna bahasa secara semantis. Bahasa adalah lafal dan simbul yang digunakan umat manusia dalam berkomunikasi sehinga satu sama lain saling memahami. Lafal yang digunakan dalam ayat sifat, merupakan lafal yang umum digunakan umat manusia. Oleh karena, maknanya juga sama dengan yang dipahami manusia.
Ibnu Taimiyah lantas mencounter pendapat ulama yang melakukan tafwith, yaitu membaca lafal ayat apa adanya, lalu menyerahkan makna ayat kepada Allah semata. Menurut Ibnu Taimiyah, sikap tafwith adalah sebuah kebodohan.
Na mun, jika kita tengok kembali, ungkapan kebodohan terhadap manhaj tafwit, tidak tepat. Para sahabat, tabiin dan generasi salaf, melakukan tafwith. Mereka membaca lafal ayat sifat, namun mereka diam, tidak menerangkan maknanya secara mendalam. Bahkan Imam Malik ketika ada yang bertanya tentang makna istiwa, marah besar dan menganggap bahwa orang yang bertanya sebagai pelaku bidah. Apakah kita juga akan mengatakan bahwa para generasi salaf itu bodoh?
Pernyataan Imam Malik, bahwa istiwa sudah diketahui, maksudnya adalah bahwa makna istiwa secara bahasa memang sudah diketahui bersama di kalangan orang Arab. Namun untuk Allah, biarkan maknanya diserahkan kepada Allah. Kita tidak usah bertanya maknanya apa, caranya bagaimana. Bahkan untuk sekadar bertanya saja, oleh Imam Malik tidak diperkenankan. Biarkan lafal seperti apa adanya. Karena jika kita memberikan makna seperti makna semantis, maka kita akan jatuh pada penyamaan antara Allah dengan makhluk. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluk.
Para sahabat dan tabiin, sama-sama menyadari untuk diam dan tidak berkomentar terkait makna ayat sifat. Bukan bearti mereka bodoh dan tidak tau kandungan ayat. Sebagian sahabat mengetahui kapan ayat diturunkan. Mereka juga selalu bersama rasul, sehingga mengetahui kapan rasulullah saw berbicara tentang sifat Allah. Mereka paham,. Dari pemahaman itulah, maka mereka diam. Bertanya pun, oleh Imam Malik dianggap bid’ah.
Para sahabat dan tabiin mengetahui tentang kandungan kitab suci dan sunnah nabi Muhammad saw. Mereka mempunyai kemampuan bahasa dan sastra arab secara natural. Bahkan secara bahasa, mereka para pakar dan ahlinya. Kemampuan bahasa yang datang secara alami yang diwariskan dari nenek moyang dan lingkungan mereka. Meski demeikian, mereka diam dan tidak memaknai lafal apa adanya. Ini bukti bahwa manhaj tafwith bukanlah sifat bodoh.
Diam, bearti mengesakan dan menyusikan Allah secara mutlak. Diam bearti menyerahkan semua hal yang terkait dengan dzat dan sifat Allah hanya kepada-Nya. Diam bearti mereka paham bahwa Allah berbeda dari apa yang ada dalam abstraksi otak manusia. Diam menandakan sifat tawadhu, rendah hari dan akhlak mulia di hadapan Allah Tuhan semesta alam. Diam bearti tidak mau menyamakan dan mengabstrasikan gambaran dzat dan sifat Allah dengan benda-benda di alam raya.
Ibnu Taimiyah menolak takwil namun menerima tafsir. Padahal sesungguhnya, tafsir adalah menerangkan lafal sehingga dapat dipahami dan diabstraksikan dalam gambaran otak manusia. Menerima tafsir bearti menerima untuk mengabstraksikan syat sifat ke dalam gambaran otak manusia. Sementara otak manusia sudah terbiasa dengan gambaran sesuatu yang sifatnya materi. Menafsirkan ayat sifat, seperti yang diungkapkan Imam Razi, sama artinya dengan membendakan dan berupaya mengabstraksikan gambaran ketuhanan sama dengan apa-apa yang ia lihat di alam materi. Tuhan yang ghaib, menjadi Tuhan yang sifatnya materi. Keyakinan seperti ini, sesungguhnya cukup berbahaya. Karena ia cenderung menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya. Padahal Allah sama sekali tidak sama dengan makhluk.

Menafsirkan ayat sifat, sama artinya mengabstraksikan sifat Allah kepada sesuatu yang
Jadi tafwith sesungguhnya adalah mensucikan Allah secara mutlak. Lafal-lafal tadi, bukannya tanpa makna, namun hanya Allah saja yang mengetahui hakekat maknanya. Karena pada dasarnya, akal manusia lemah dan terbatas yang tidak mampu memahami hal-hal yang ghaib, apalagi terkait dengan dzat dan sifat Allah. Akal manusia terbatas, sementara Allah Tuhan yang tiada batas. Wallahu a’lam.

 

======================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

two × 2 =

*