Monday, September 16, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Benarkah Pembacaan Teks Ulama Klasik Tidak Tematis?

 

ثقه

Dala buku Fikih Kebinekaan, M. Amin Abdullah menuliskan berikut:

 

Fitur kemenyeluruhan (الكلية  : al-kulliyyah, wholeness). Elemen fitur ini ingin membenahi kelemahan ushul fikih klasik yang sering menggunakan pendekatan reduksionis dan atomistik. Pendekatan atomistik terlihat dari sikap mengandalkan hanya pada satu nas untuk menyelesaikan kasus-kasus yang dihadapinya tanpa memandang nas-nas lain yang terkait. Solusi yang diterapkan adalah menerapkan prinsip holisme melalui operasionalisasi “tafsir tematik” yang tidak lagi terbatas pada ayat-ayat hukum, melainkan juga melibatkan ayat-ayat al-Quran termasuk ayat-ayat yang terkandung di dalamnya pedoman kehidupan sosial dan budaya, sebagai pertimbangan dalam pemutusan hukum Islam secara komprehensif. (Fikih Kebinekaan: 62-63)

 

Benarkah demikian?

Mari sejenak kita lihat pemikiran ulama Islam klasik dalam mengkaji al-Quran (dan Sunnah nabi).

Dalam pembacaan teks al-Quran dan sunnah, setidaknya ada dua model:

Pertama adalah bacaan tahlili, yaitu mengkaji teks al-Quran, dari awal surat al-Fatihah hingga surat Annas. Mereka mentafsirkannya dari kata perkata, makna leksikal, makna retorik hingga kemudian diterangkan secara keseluruhan sesuai dengan kerangka berfikirnya masing-masing. Ada yang lebih menitik beratkan pada sisi balaghah dengan membawa ideologi muktazilah seperti tafsir Zamasyari, ada yang model tafsir leksikal dengan nuansa ahlu sunnah seperti tafsir Annasafi, ada yang tafsir birriwayah dan hukum seperti tafsir Thabari, ada yang bilma’tsur seperti tafsir Ibnu katsir, ada yang kenal dengan nuansa ilmu kalam seperti tafsir Mafatihul Ghaib karya Arrazi dan lain sebagainya. Pada prinsipnya, model penafsirannya dari ayat perayat. Kadang ditulis juga terkait munasabah, asbabunuzul dan keterkaitan dengan ayat lainnya.

 

Tafsir model ini memang tidak tematis. Sedari awal tujuan para mufassir ingin mengeksplorasi al-Quran secara komperhensif dari awal ayat hingga akhir ayat dan bukan. Ia berusaha menguak kandungan kitab suci, dengan berbagai sisi sesuai kemampuan dan latarbelakangnya masing-masing.

 

Kedua, tafsir tematik. Model ini tidak menafsirkan ayat al-Quran dari surat al-Fatihah hingga Annas. Ia lebih kepada kajian atas suatu persoalan umat yang membutuhkan solusi alternatif. Temanya berfariasi bergantung kepada persoalan yang dianggakat, baik politik, ekonomi, sosial dan lain sebagainya.

 

Dalam ranah hukum, kita bisa melihat berbagai buku ensiklopedi fikih Islam. Dalam hal ini ada dua model, pertama yang ditulis dari awal persoalan hingga akhir. Umumnya bemula dari bab thaharah, lalu ibadah baik shalat, puasa, zakat, atau haji, lalu muammalah, baik nikah, perniagaan, wesel, temuan, jaminan, pegadaian, pertanian, peternakan, dan lain sebagainya. Lalu menuju bab hukum pidana, baik dari dakwaan, saksi, bukti hingga hukuman. Semua ditulis secara rapi, terperinci dan sangat tematis. Contohnya adalah buku Arrisalah karya imam Syafii, al-Mughni karya Ibnu Qudamah, Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, al-Iqna karya Abu Suja, al-Majmu karya imam Nawawi dan lain sebagainya.

 

Ada bentuk kedua, yaitu kumpulan fatawa. Buku ini sesungguhnya merupakan jawaban dari pertanyaan yang berkembang di masanya, lalu jawaban tadi ditulis dan dibukukan. Meski pertanyaannya berfariasi dan memakan waktu lama, namun dalam pembukuannya ditulis secara sistematis. Contohnya adalah fatawa Imam Subki, Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya.

 

Selain hukum, ada juga ilmu kalam yang penulisannya juga sangat sistematis. Contoh al-Ibkar fi Ushuliddin karya imam Amidi, al-Iqtishad fil I’tiqad karya imam Ghazali, al-Mugni karya Qadhi Abdul Jabar yang berpaham Muktazilah dan lain sebagainya. Umumnya bahasan bermula dari ketuhanan, lalu sifat Tuhan, lalu para nabi dan terakhir terkait hari akhir dan imamah.

 

Ada juga buku-buku yang lebih spesifik, contoh buku politik Islam karya imam al-Mawardi. Buku ini kajian yang sangat bagus terkait dengan sistem politik, baik dari makna politik, urgensi politik, pemilihan pemimpin, pemilihan mentri, hak dan kewajiban pemimpin, hak dan kewajiban rakyat, pendapatan pemerintah dan lain sebagainya. Selain buku ini, ada juga Siyasah Syar’iyyah karya Ibnu Taimiyah, Thuruqul Hukmiyah karya Ibnul Qayim dan lain sebagainya.

 

Ada juga kitab al-Kharraj karya Abu Yusuf. Buku ini spesifik berbicara masalah pendapatan negara serta sistem distribusi keuangan negara. Buku ini dijadikan sebagai panduan tatanegara pada masa Harun ar-Rasid. Buku-buku itu merupakan interpretasi para ulama dalam memahami al-Quran dan sunnah yang dirumuskan dalam pemikiran politik Islam klasik.

 

Untuk ekonomi Islam ada kitab al-Amwal dan ahkamussuq. Al-Amwal ditulis oleh Abi Ubaid al-Qasim bin Salam. Buku ini spesifik pada keuangan negara, pendapatan negara dan juga distribusi keuangan. Juga ada kitab lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu Ahkamussuq. Buku ini spesifik masalah pengaturan pasar, pengawasan pasar, sejauh mana keterlibatan pemerintah dalam mengatur pasar dan lain sebagainya. Buku ini ditulis oleh Abu Zakarya al-Kannani al-Andalusi (828 H/901 M).

Mengapa buku-buku tematis itu saya anggap sebagai pembacaan teks al-Quran dan hadis secara tematis? Jawabnya adalah bahwa buku-buku tersebut ditulis berdasarkan pada kebutuhan umat sesuai dengan tema yang dibutuhkan dari hasil interpretasi mereka atas pembacaan al-Quran dan sunnah nabi. Dalam buku-buku itu, baik dari ilmu kalam, fikih, fatawa, politik, ekonomi Islam dan lain sebagainya, selalu menjadikan al-Quran dan sunnah nabi sebagai pijakan dalam berfikir.

 

Jadi buku-buku itu tidak datang dari ruang kosong. Buku-buku itu juga bukan berasal dari akal murni mereka. Buku-buku yang sangat sistematis itu merupakan pembacaan para ulama klasik terhadap nas al-Quran dan al-Sunnah. Jika demikian, masihkan kita menuduh bahwa ulama klasik tidak sistematsi dalam menulis buku? Lalu dari mana M. Amin Abdullah mendapatkan kesimpulan berikut, “Solusi yang diterapkan adalah menerapkan prinsip holisme melalui operasionalisasi “tafsir tematik”?”. Wallahu a’lam

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

8 + fifteen =

*