Sunday, April 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Benarkah Ilmu Maqashid Membuat Hukum Syariah Jadi Fleksibel?

hudud

Dalam sebuah diskusi, ada yang menyatakan bahwa bahwa “Dengan ilmu makashid syariah ini terkesan syareat Islam itu jadi fleksibel. Terutama jika membahas hukum pidana (qisos, rajam dll). Juga ketika membbahas masalah bid’ah serta khilafiyah”.

 

Benarkah demikian?

 

Maqashid syariah berpijak pada maslahat. Hanya saja, maslahat di sini bukan maslahat tanpa ada standar yang jelas dan hanya berdasarkan dari kepentingan individu saja. Maslahat di sini, berpijak dari hasil kajian induktif terhadap nas al-Quran dan hadis Rasulullah saw.

 

Imam Syathibi membagi maslahat menjadi tiga, yaitu dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat. Dharuriyat adalah maslahat yang terkait dengan kehidupan primer umat manusia. Jika ia tidak terpenuhi, maka akan terjadi ketimpangan bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat. Untuk maslahat dharuriyat ini, imam Syathibi membagi menjadi lima, yaitu menjaga agama, jiwa, harta, akal dan kehormatan atau keturunan.

 

Hajiyat adalah maslahat yang terkait dengan kebutuhan manusia, di mana jika ia tidak dilaksanakan maka akan memberatkan bagi dirinya. Hajiyat ini lebih kepada sifat rahmat Allah kepada manusia agar dapat melaksanakan berbagai macam perintah-Nya tanpa beban yang melebihi kemampuannya. Dalam istilah ilmu ushul, kebutuhan ini disebut dengan raful haraj. Contoh: ketika safar, agar tidak ada masyaqqah dan kesempitan bagi hamba, maka seorang hamba diberikan dispensasi dengan melaksanakan shalat jama’ dan qashar. Bagi orang tua yangs sudah tidak bisa berpuasa, maka ia diperkenankan untuk tidak puasa dan cukup membayar fidyah saja. Maslahat hajiat ini di antaranya berlandaskan dari firman Allah:


وَمَا جَعَلَ عَلَيْكمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ 
– الحج ﴿٧٨﴾ 

 ”Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”, (Qs al-hajj ayat: 78)

 

 

Tahsiniyat adalah kebutuhan tambahan, di mana jika tidak ia laksanakan, maka tidak akan mempengaruhi eksistensi dia di dunia. Tahsiniyat sekadar kebutuhan tambahan untuk memberikan penyempurnaan terhadap kebutuhan lainnya, baik yang terkait dengan dharuriyat atau tahsiniyat. Contoh, shalat yang wajib adalah shalat lima waktu. Namun ia diberi keleluasaan untuk memberikan tambahan shalat sunnah. Puasa yang wajib adalah puasa ramadhan, namun ia diberi keleluasaan untuk melaksanakan berbagai puasa sunnah. Jika ia tidak melakukan shalat sunnah, atau tidak melaksanakan puasa sunnah, maka ia tidak mendapatkan dosa. Ibadah yang telah dilakukan tetap sempurna. Jadi, shalat sunnah dan puasa sunnah ini masuk dalam tahsiniyat terkait dengan dharuriyat.

 

Bagaimana dengan qishash, hudud dan rajam? Apakah ia fleksibel? Seperti yang dipertanyakan di atas? Jawabannya sebagai berkut:

 

Abidl al-Jabiri, dalam tulisannya pernah menyatakan bahwa hukuman hudud, qishash atau rajam, sesungguhnya sudah tidak layak diterapkan di zaman kontemporer. Ia sesuai dengan maslahat di zaman Rasulullah saw, mengingat penjara belum membudaya. Sementara itu, saat ini penjara sudah sangat membudaya sehingga bentuk-bentuk hukuman tadi tidak relevan lagi.

 

Sebagian orang berpendapat bahwa hukuman hudud, qishash dan rajam bertentangand dengan prinsip hak asasi manusia. Ia adalah hukuman yangs angat kejam dan hanya cocok di zaman badui pada era Nabi Muhammad dan sahabat saja. Mereka ini sering menggunakan dalil Umar yang pernah tidak menghukum potong tangan bagi pencuri.

 

Benarkah demikian?  Mari kita lihat. Hukuman hudud, qishash dan rajam telah termaktub dalam al-Quran secara jelas. Hukuman tersebut ditujukan untuk menjaga harta, jiwa atau kehormatan seseorang.

 

Hukuman potong tangan bagi pencuri, untuk menjaga harta agar harta yang milik seseorang tidak mudah diganggu. Ini sesuai dengan Firman Allah berikut:


وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ فَمَن تَابَ مِن بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Lelaki yang mencuri dan wanita yang mencuri,potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri,maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.  (QS. al-Ma’idah: 38-39)

Juga hadis Rasulullah saw:

روي انه فى زمن النبي صلى الله عليه وسلم اتهمت امرأة من نبي مخزوم بالسرقة فلما ثبتت عليها الجريمة امر النبي بقطع يدها. وقد فزع بنو مخزوم لهذا العار الذى سينالهم من تطبيق حكم السرقة على امرأة من اشرافهم, فقصدوا أسامة بن زيد الذى كان مقربا من النبي صلى الله عليه وسلم ليشفع لهم بشأن هذه المرأة فلكم النبي فى العفو عنها, فكان جواب النبي : (اتشفع فى حد من حدود الله) ثم دعا المسلمين وخطبهم قائلا : (أيها الناس إنما أهلك من كان قبلكم انهم كانوا يقيمون الحد على الوضيع ويتركون الشريف, والذي نفسى بيده لو ان فاطمة (اي بنت النبي) فعلت ذلك لقطعت يدها (رواه البخارى

 

“Diceritakan bahwa di zaman Nabi SAW, seorang wanita dari Bani Makhzum dituduh mencuri. Ketika terbukti bahwa ia telah melakukan pencurian, Rasulullah SAW memerintahkan agar ia segera dihukum potong tangan. Orang-orang Bani Makhzum terkejut mendengar berita memalukan yang akan menimpa salah seorang wanita keturunan terhormat mereka karena pasti akan dipotong tangannya. Lalu mereka menghubungi sahabat Utsamah ibnu Zaid yang menjadi kesayangan Nabi, agar ia mau memintakan grasi dari Rasulullah terhadap wanita kabilahnya. Kemudian Utsamah memohon grasi untuk wanita tersebut, dan ternyata jawaban beliau : “Apakah kamu meminta grasi terhadap salah satu hukuman had Allah?”. Kemudian Nabi memanggil semua kaum muslimin lalu beliau berpidato : “Wahai umat manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah hancur, karena mereka menerapkan hukuman had terhadap orang yang lemah, sedangkan yang mulia, mereka biarkan saja. Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fathimah (anak Nabi) mencuri, maka pasti akan kupotong tangannya”( HR. Bukhari).

 

Jadi potong tangan bukan tujuan. Ia adalah sarana untuk menjaga harta. Menurut ar-Raisuni bahwa hukuman potong tangan sesungguhnya hukuman yang paling simpel dan ekonomis. Ia tidak membutuhkan banyak waktu dan dana yang besar. Namun efeknya sangat nyata. Ia mengandung unsur jera baik bagi pelaku maupun bagi orang lain. Para pelaku kriminal menjadi berpikir dua kali untuk melakukan tindakan pencurian.

 

Beda dengan hukuman penjara, yang membutuhkan dana besar, sementara tidak menimbulkan efek jera. Bahkan banyak yang keluar penjara dalam melakukan tindakan kriminal lebih profesional. Penjara menjadi tempat efektif bagi dia untuk menimba ilmu dari para penjahat kakap lainnya.

 

Mengapa Umar bin Khatah ra. pernah tidak menghukum potong tangan bagi pencuri? Jawabnya adalah bahwa pencuri tersebut belum memenuhi syarat. Oleh karena itu, ia belum bisa dikenai hukuman potong tangan. Jadi tidak semua pencuri langsung dijatuhi hukuman potong tangan. Jika salah dalam memberikan hukuman, tangan yang sudah terlanjur lepas tidak bisa disambung lagi.

 

Syarat hukuman potong tangan cukup ketat, baik terkait dengan kondisi sosial, prilaku pencuri dan barang yang dicuri. Pelaku pencurian bukan karena terpaksa untuk menyambung hidup. Pencuri itu memang benar-benar pelaku kriminal. Ia adalah sampah masyarakat yang layak untuk mendapatkan hukuman.

 

Barang yang dicuri harus sudah sampai pada takaran tertentu. Jadi tidak bisa orang mencuri sebiji pisang lalu tangannya dipotong. Satu saja syarat tidak terpenuhi, maka hukuman potong tangan ditangguhkan. Bisa saja ia tetap dihukum, namun sifatnya hukuman ta’zir yang ukurannya ditentukan oleh pengadilan. Ini artinya, Umar tidak menggugurkan nas, namun menerapkan hukuman sesuai dengan perintah nas.Ini terkait dengan kaedah ushul:

“درء الحدود بالشبهات”

 

“Hukuman diangkat karena adanya syubuhat (Sesuatu yang meragukan)”

Akedah ini diambil dari hadis riwayat Tirmidzi yang berbunyi:

ادرؤوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم

Sedapat mungkin kalian tidak menerapkan hudud bagi orang muslim.

Atau hadis lain dalam kitab Kanzul Ummal:

ادرؤوا الحدود بالشبهات

Angkatlah hudud karena ada syubuhat (sesuatu yang meragukan)

 

Ini juga berlaku pada hukuman qishash. Seseorang membunuh, tidak bisa langsung dihukum qishash. Harus dilihat terlebih dahulu latar belakangnya. Apakah ia membunuh karena sengaja, apakah karena terpaksa, atau membunuh karena salah? Jadi, syarat-syarat tadi harus terpenuhi sebelum hukuman qishash diterapkan.

 

Hukuman Qishash sendiri, sesungguhnya untuk menjaga jiwa. Dengan hukuman yang sepadan ini, maka seseorang tidak akan mudah untuk membunuh orang lain. Menjaga jiwa sendiri merupakan salah satu dari maqashid dharuriyat yang terkait dengan hifzunnafs. Firman Allah:

 

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 179).

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأُنثَى بِالأُنثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاء إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ . وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, qisas diwajibkan atasmu berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka, barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabbmu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 178-179).

 

Sedangkan dalil dari as-Sunnah di antaranya adalah hadits Abu Hurairah Ra. Rasulullah saw bersabda:

 

مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَل

Artinya: “Barangsiapa yang menjadi keluarga korban terbunuh maka ia memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga dibunuh (qisas).” (HR. al-Jama’ah).

 

Rajam atau cambuk adalah hukuman bagi pezina muhsan yang tujuannya adalah untuk menjaga keturunan atau kehormatan. Dalam istilah ilmu maqashid ia masuk dalam dharuriyatul khamsah terkait dengan hifz annasl atau hifz al irdh. Dilaksanakannya hukuman rajam atau cambuk agar perzinaan tidak meraja lela. Perzinaan merupakan penyakit sosial yang sangat berbahaya dan harus dihindari. Ia bisa merusak nasab (keturunan), menghancurkan keluarga, merusak nama baik seseorang dan merusak kehormatan.

 

Islam sangat menjaga kehormatan seseorang. Islam memberikan hukuman yang sangat tegas terkait mereka yang melanggar kehormatan. Oleh karena itu, Islam menjatuhkan hukuman berat bagi pezina. Bagi pezina muhshan, yaitu pezina yang sudah berkeluarga hukumannya adalah di rajam sampai mati. Sementara  bagi pezina ghairu muhsan, pezina yang belum berkeluarga hukumannya adalah dicambuk sebanyak seratus kali.

Terkait perzinaan tersebut, dalil yang digunakan sebagai berikut:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS: al-Isrâ:32)

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”. (QS. al-Furqân: 68-69)

Dalam hadits, Nabi juga mengharamkan zina seperti yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ûd Ra., beliau berkata:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟، قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ للَِّهِ نِداً وَهُوَ خَلَقَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ

“Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab: Engkau menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah , padahal Allah Azza wa Jalla telah menciptakanmu. Aku bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab: Membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi : Kemudian apa ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab lagi: Kamu berzina dengan istri tetanggamu”. (HR. Bukhari)

 

Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anh menjelaskan dalam khuthbahnya :

إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ عَلَى نَبِيِّهِ الْقُرْآنَ وَكَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ فَقَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا وَرَجَمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ وَ أَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُوْلُوْا : لاَ نَجِدُ الرَّجْمَ فِيْ كِتَابِ الله فَيَضِلُّوْا بِتَرْكِ فَرِيْضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ وَ ِإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ ثَابِتٌ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَلَى مَنْ زَنَا إِذَا أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَل أَوْ الإِعْتِرَاف.

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan al-Qur`an kepada NabiNya dan diantara yang diturunkan kepada beliau adalah ayat Rajam. Kami telah membaca, memahami dan mengetahui ayat itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan hukuman rajam dan kamipun telah melaksanakannya setelah beliau. Aku khawatir apabila zaman telah berlalu lama, akan ada orang-orang yang mengatakan: “Kami tidak mendapatkan hukuman rajam dalam kitab Allah!” sehingga mereka sesat lantaran meninggalkan kewajiban yang Allah Azza wa Jalla telah turunkan. Sungguh (hukuman) rajam adalah benar dan ada dalam kitab Allah untuk orang yang berzina apabila telah pernah menikah (al-Muhshân), bila telah terbukti dengan pesaksian atau kehamilan atau pengakuan sendiri”. (HR. Bukhari)

Sedangkan lafadz ayat rajam diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Mâjah berbunyi:

وَالشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَهْ نَكَلاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya: “Syaikh lelaki dan perempuan apabila keduanya berzina maka rajamlah keduanya sebagai balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana (HR. Ibnu Majah)
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah (cambuklah) tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk)”. (QS. An-Nur:2)

 

 

Hanya saja, tidak setiap orang yang diisukan zina langsung bisa dihukum. Syaratnya sangat ketat supaya pengadilan tidak salah dalam menerapkan hukuman. Jika masih ada esuatu yang meragukan, maka hukuman harus ditangguhkan. Di antaranya syaratnya adalah adanya 4 orang saksi yang benar-benar melihat pelaku berzina. Kurang satu saksi saja, ia bisa lepas dari jeratan hukuman rajam. Atau ada 4 saksi, namun yang satu tidak pasti melihatnya, maka ia bisa lepas dari hukuman rajam.

 

Jadi, pelepasan hukuman baik bagi pencuri, pembunuh ataupun pezina, bukan karena ilmu maqashid. Ilmu ini tidak mentolerin hukuman bagi semua tindak kriminal yang telah menyalahi hukum syariat. Hanya saja, semua hukuman dalam Islam tidak bisa diterapkan begitu saja. Ada syarat yang harus dipenuhi. Manakala pelaku kriminal tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh syariat, maka sesorang tadi bisa lepas dari jerat hukum.

 

Untuk kasus khilafiyah, memang kita harus toleran. Persoalan khilafiyah muncul dari sistem istidlal yang berbeda, baik dengan ilmu maqashid maupun ilmu semantik. Sikap toleran terkait khilaffiyah sudah diajarkan sejak zaman sahabat. Jadi, toleransi dengan persoalan khilafiyah itu bukan karena disebabkan oleh ilmu maqashid.

 

Dari paparan singkat di atas, jelas kiranya bahwa ilmu maqashid sama sekali tidak membuat sebuah hukuman hilang begitu saja, atau ilmu maqashid tidak membuat hukuman rajam, qishash atau pencurian diganti dengan penjara. Pengangkatan hukuman bagi pelaku kriminal, lebih terkait karena syarat-syarat yang belum terpenuhi. Jika semua syarat sudah terpenuhi dan bukti-bukti sudah jelas, maka hukuman qishash, hudud dan rajam tetap harus dilaksanakan.

 

Bagaimana dengan bidah? Apakah ia jadi fleksibel? Tentu saja tidak. Bahkan imam Syathibi, yang disebut sebagai bapaknya ilmu maqashid mengarang buku yang berdujul “il-I’tisham”. Buku ini memberikan penjelasan secara gambling terkait bidah serta perbedaan antara bidah dengan maslahat mursalah. Hanya saja kita harus jeli, manakah persoalan yang benar-benar bidah, mana persoalan yang terkait dengan maslahat mursalah dan mana persoalan fikih yang sifatnya khilafiyah akibat sistem istidlal yang berbeda. Jadi, tidak semua yang berbeda dengan kita itu bidah. Bisa saja itu akibat perbedaan dalam sistem istidlal atas suatu nas. Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

15 − five =

*