Saturday, January 23, 2021
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Belajar Dari Ibnu Taimiyah; Studi Kasus Prof. Dr. Quraisy Shihab

mquraishshihab
Ibnu Taimiyah adalah salah seorang ulama ensiklopedis yang pernah dimiliki umat Islam. Berbagai cabag ilmu keislaman, baik fikih, ushul fikih, tafsir, ulumul Quran, perbandingan agama, logika hingga filsafat beliau kuasai.

Ibnu Taimiyah sangat kritis terhadap ulama lain yang bersebrangan dengannya. Jika ada pendapat yang menurutnya tidak sesuai dengan kebenaran, akan beliau tanggapi secara kritis  dengan bahasa yang jelas dan tajam.

Ibnu Taimiyah baru akan memberikan kritikan tajam kepada lawan pemikirannya, manakala beliau benar-benar telah mempelajari secara mendalam mengenai alur pikiran lawan ter sebut. Tidak segan-segan Ibnu Taimiyah melahap seluruh buku karya pemikir lawannya guna mengetahui secara pasti mana-mana saja argumen lawan yang bisa diterim, dan mana-mana saja argumen yang tidak dapat diterima.

Pebacaan terhadap seluruh karya pemikir lawan sangat penting. Hal ini dapat menghindari atas pengambilan kesimpulan yang salah karena membaca alur pemikiran seseorang secara partikular. Juga untuk menghindari pemotongan kata-kata lawan, supaya terkesan bahwa lawan memang salah. Padahal jika dibaca secara runut dan sesuai dengan konteks, serta kajian menyeluruh, bisa jadi pendapatnya benar adanya. Dengan demikian, Ibnu Taimiyah bisa terhindar dari penilaian subyektif dan demi kepentingan sendiri.

Penguasaan pemikiran Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran lawan, bisa dilihat tatkala beliau memberikan kritik tajam terhadap ilmu mantik, filsafat, tasawuf, kaum nasarni dan lain sebagainya.

Dalam kitabnya, Arraddu Alal Mantiqiyyin, kritik atas para pakar ilmu logika, dalam bab pendahuluan, beliau menerangkan secara gamblang mengenai logika aristetolian. Beliau menjelaskan dari awal, tentang pembagian mantik dari tashawuri dan tasdiqi, lalu kuliyatul khamsah dalam mantik tashawuri. Dijelaskan juga bagian-bagian qadhaya dan sistematika membuat definisi perspektif logika aresto. Dari sana beliau mulai menelaah, mana saja dari logika aresto yang mempunyai titik kelemahan. Baru kemudian dikritik secaara detail dan sangat sistematis.

Apa yang dituliskan Ibnu Taimiyah dalam kitab Arraddu Alal Mantiqiyyin, tidak jauh berbeda tatkala beliau memberikan kritikan tajam terhadap para filsuf muslim. Dalam bukunya Dar’u Taarrduil Aqli Wannaqli, beliau banyak mengkritik Imam Ghazali dan Ibnu Sina. Gaya kritikannya sama, dengan mencantumkan pendapatnya Imam Ghazali dan Ibnu Sina apa adanya. Lalu ditelaah secara kritis mana saja pendapat yang dianggap mempunyai titik kelemahan dan dikritik secara mendetail dan sistematis.

Dalam kritikannya kepada orang Kristen juga demikian adanya. Dalam bukunya Al-Jawab Ashahih Liman Baddala Diinal Masih, beliau sering sekali menukilkan apa adanya mengenai apa yang tercantum dalam kitab injil dan pendapat para pendeta Kristen. Setelah itu baru dikritik secara ilmiyah.

Jika pemikir lawan masih hidup, Ibnu Taimiyah tidak segan-segan melakukan debat terbuka (munazharah) untuk mengetahui argumen lawan secara langsung. Banyak contoh debat terbuka Ibnu Taimiyah tersebut, seperti yang dilakukan beliau dengan golongan sufi Refaiyyah. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah ulama ksatria. Beliau tidak hanya berani menyerang dengan tulisan, namun melakukan klarifikasi langsung dengan disaksikan oleh orang banyak.

Itulah Ibnu Taimiyah, ulama besar yang layak untuk dijadikan panutan dan suri tauladan.  Kita sangat membutuhkan ulama yang menguasai materi secara mendalam, menelaah pemikiran lawan, sebelum kemudian mengeluarkan kesimpulan. Apalagi jika kemudian sampai menghakimi lawan sesat. Menyesatkan orang lain bukanlah perkara mudah. Pertanggungjawabannya berat dihadapan Allah.

 

Belakangan muncul orang yang sangat mudah menghakimi pendapat orang lain tanpa melakukan telaah terlebih dahulu terhadap pemikir lawan. Baru membaca satu dua baris tulisan yang berseliweran di media, langsung terprofokasi dan menuduh orang lain salah. Tidak hanya sampai di situ, pemikir lawan bahkan dituduh sebagai pengikut Syiah, liberal, antek zionis, sesat dan seabrek tuduhan buruk lainnya.

Kasus terakhir dapat kita lihat dari pernyataan Prof Dr. Quraisy Shihab. Akibat pendapat Quraisy Shihab bahwa amal tidak akan menjamin seseorang masuk surga, dengan mengutip hadis shahih dari Rasulullah saw, beliau mendapatkan banyak sekali hujatan. Untung saja kemudian beliau memberikan klarifikasi. Jika tidak, hujatan demi hujatan akan terus bertebaran di media.

Mereka-mereka yang menghujat itu, hanya tau bahwa Quraisy Shihab mengatakan Rasulullah saw tidak dijamin masuk surga. Mereka ini belum tentu mengikuti serial tv yang diampu oleh beliau. Ia juga belum tentu menyelesaikan satu buku karya beliau. Apalagi beliau masih hidup, sudah sewajarnya meminta klarifikasi. Atau jika mau ksatria, lakukanlah debat terbuka (munazharah) seperti Ibnu Taimiyah.

Padahal, gaya-hata mudah klaim seperti ini terlarang. Dalam al-Quran allah berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurat: 6)

Entah apa yang terjadi pada umat ini, sehingga tradisi ilmiah warisan ulama kita ditinggalkan. Saat ini yang berkembang justru klaim benar sendiri. Orang mudah sekai merasa dirinya paling benar dan tau segalanya. Para sahabat dulu, jika ditanya suatu persoalan, tidak berani langsung memberikan jawaban kecuali memang benar-benar sudah tau. Bagaimana dengan kita? Fatalnya lagi, klaim kebenaran sendiri dan mudah menyalahkan orang lai itu disebarluaskan melalui berbagai media sosial. Ia sama sekali tidak merasa bersalah dengan perbuatannya itu. Baginya, ini adalah bagian dari amar makruf nahi munkar. Padahal sesungguhnya ia melakukan perbuatan tanpa ilmu. Sekecil apapun perbuatan kita, apalagi menyangkut orang lain, sungguh besar pertanggungjawaban kita di hadapan Allah kelak.
Kita merindukan ulama sekaliber Ibnu Taimiyah. Kita merindukan ulama yang tidak asal klaim hanya dengan modal bacaan satu dua kalimat dari media. Kita membutuhkan ulama yang memang mempunyai pendalaman ilmu mumpuni, yang jika ada ulama lain bersebrangan dengan pemikirannya, akan ia tanggapi secara ilmiah juga. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang benar. Wallahu a’lam,

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eleven − 7 =

*