Tuesday, April 7, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Begini Ushul Fikih Memandang istilah “Islam Nusantara”

krt

 

Islam adalah agama terahir yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Ajaran Isam sangat mulia dan mengatur segala sendi kehidupan. Islam memerintahkan umat manusia untuk hanya menyembah Allah; “Tiada Tuhan selain Allah”.

 

Ketentuan Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sering disebut dengan syariat Islam. Syariat sendiri terbagi menjadi tiga bagian; akidah, akhlak dan muammalah dunyawiyah. Akidah terkait dengan kepercayaan seorang muslim mengenai keesaan Tuhan dan bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya.

 

Aklak tetkait dengan perilaku sehari-hari seorang hamba. Akhlak Islam mengatur seluruh gerak gerik seorang muslim, baik tetkait urusan yang sangat kecil, hingga persoalan besar. Islam mengatur sistem interaksi seorang muslim, baik etika dengan Allah, dengan manusia, binatang, alam raya bahkan juga dengan dirinya sendiri.

 

Muamalah dunyawiyyah terkait dengan urusan manusia dengan sesame dan berhubungan dengan hajat hidup antar mereka. Jadi, lengaplah ajaran Islam tersebut.

 

 

Islam datang tidak di ruang kosong, namun ia datang di tengah temgah budaya Arab. Islam memberikan solusi hukum terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat Arab waktu itu.

 

Sebelum Islam datang, bangsa Arab sudah merupakan bangsa yang berbudaya. Mereka juga mempunyai berbagai macam tradisi yang melekat dalam tatanan masyarakat. Budaya tersebut dibawa oleh nenek moyang mereka secara turun temurun.

 

 

Islam datang bukan untuk menghapus seluruh budaya Arab dan diganti dengan budaya baru. Meski demikian, Islam juga tidak membiarkan budaya Arab berjalan apa adanya tanpa ada proses seleksi. Islam memberikan tuntunan dan timbangan terkait dengan budaya tersebut. Tuntuntunan dan timbangannya tentu saja al-Quran dan sunnah nabi.

 

Di antara tradisi jahiliyah adalah sikap mereka yang suka menghormati tamu. Tradisi memberikan layanan terbaik kepada tamu ternyata sesuai dengan ajaran Islam. Untuk itu, Islam datang dan menguatkan tradisi tersebut. Rasululah saw bersabda:

 

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليقل خيرا أو ليصمت ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم جاره ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم ضيفهرواه البخاري ومسلم .

 

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam, dan barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhir, maka hormatilah tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada allah dan hari akhir, maka hormatilah tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim

 

 

Orang Arab suka menolong saudaranya yang dizhalimi. Ini bisa dilihat dari kisah “Halfu al fudhul”, yatu tatkala ada suku Arab  yang dizhalimi, maka berbagai suku arab, di antaranya dari Bani Hasyim, Bani Muthallib, Bani Asad, dan Bani Zahrah berkumpul di rumahnya Abdullah bin Jud’an untuk melakukan kesepakatan bersama, bahwa tidak boleh ada kezhaliman di antara suku Arab. Jika ada yang dizhalimi, maka semua suku tadi berkoalisi untuk memberikan pembelaan. Tradisi ini juga dikuatkan oleh Islam dengan sabda nabi Muhammad saw:

 

انصر أخاك ظالما أو مظلوما

Artinya: Tolonglah saudaramu baik yang menzhalimi atau yang dizhalimi. (HR. Bukhari)

 

Menolong orang yang menzhalimi dengan mencegah mereka agar tidak berlaku zhalim. Ini artinya kita menyelamatkan mereka dari siksaan api neraka. Menolong orang yang dizhalimi, dengan memberikan bantuan agar ia tidak dizhalimi orang lain.

 

 

 

Budaya qishash bagi pembunuh sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Bagi yang dimaafkan, boleh mengganti dengan 100 ekor unta. Ini persis seperti kasus Abdul Muthalib yang bernadzar jika mempunyai anak laki-laki, maka ia akan disembelih. Ternyata ia diberi rezki dengan kelahiran Abdullah. Ia sudah berniat untuk menyembelih bdullah, namun ditentang oleh keluarganya. Maka bdul Mutalib menggantikan nadzarnya dengan menyembelih 100 ekor unta dan disedekahkan kepada fakir miskin. Tradisi qishash ini sesuai dengan syariat Islam. Allah berfirman:

 

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang  berakal, supaya kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 179)

 

 

 

Selain tradisi baik, bangsa Arab juga mempunyai tradisi buruk, seperti menyembah berhala, mengubur hidup-hidup bayi perempuan, perzinaan, perdukunan dan lain sebagainya. Tentu saja, perbuatan tadi bertentangan dengan syariat. Maka Islam datang untuk meluruskannya. Islam menyeru mereka untuk hanya menyembah Allah, tidak diperkenankan membunuh siapapun tanpa ada alasan  yang benar, tidak boleh berzina dan melakukan perbuatan yang dapat mendekati zina, diharamkan melakukan perdukunan dan seterusnya.

 

 

 

Dari bebrapa contoh di atas, para ulama ushul berkesimpulan bahwa tradisi dibagi menjadi dua bagian:

Pertama, tradisi yang sesuai dengan syariah Islam. Tradisi seperti ini diperbolehkan oleh Islam. Untuk menguatkan argument ini, ulma ushul meletakkan kedah:

 

المعروف عرفا كالمشروط شرطا

Maksudnya, suatu tradisi baik yang telah terpaku di masyarakat dan tidak menyalahi syariat Islam, maka ia bagai sebuah syarat. Contoh, selepas shalat id, bagi masyarakat muslim Nusantara, dilanjutkan dengan acara silaturahmi. Jika kita shalat lalu berdiam diri di rumah, tidak berailaturrahmi ke sanak kerabat, tentu ini dianggap aneh. Silaturrahmi setelah shalat Ied sudah menjadi semacam “syarat tambahan” bagi perayaan Idul Fitri. Di kampung dulu, jika kita shalat tidak pakai peci, dianggap aneh. Peci menjadi semacam “syarat tambahan” untuk shalat.

 

Oleh karena pentingnya tradisi ini, para ulama ushul meletakkan kaedah lain, yaitu

 

العادة محكمة

 

Maksudnya bahwa tradisi menjadi timbangan hukum. Contoh dalam fikih dalam bab nikah. Jika seorang wanita dilamar seorang pria dan ia tidak menyebutkan nilai mahar, maka mahar yg berlaku adalah mahar yang umum dan sudah mentradisi di masyarakat tersebut.

 

 

Islam datang ke Indonesia dibawa oleh orang asing, baik India, Persia maupun Arab. Mereka k eNusantara juga dengan membawa tradisi bangsanya. Sedikit banayak tradisi tersebut berpengaruh terhadap tradisi nusantara. Surban yang biasa dipakai para kyai itu, merupakan tradiai Arab. Apem, makan khas bulan Syura dan Ramadhan itu adalah makanan bangsa Arab. Akulturasi budaya lokal dengan Arab paling nampak dari sisi bahasa. Bisa jadi 25 dari kosakata bahasa Indonesia merupakan hasil serapan dari bahasa Arab.

 

 

Bagaimana dengan Islam Nusantara? Kita harus mahami makna istilah ini secara cermat. Jika yang dimksud Islam Nusantara adalah Islam yang bersumber dari budaya dan tradisi Nusantara, jelas tertolak. Sumber hukum Islam ada dua, Quran dan sunnah. Tradisi Nusantara tidak dapat dijadikan sumber hukum menggantikan keduanya. Contoh, Bagi orang Jawa maka wanita dibolehkan shalat dengan memakai kemben. Atau orang Irian Jaya boleh shalat ekadar dengan koteka. Pemahaman seperti ini tidak dapat diterima dan bertentangan dengan syariat Islam.

 

Namun jika Islam Nusantara dimaksudkan sekadar mengambil budaya lokal yang sesuai dengan nilai Islam untuk dibumikan kembali, ini tidak menjadi masalah. Kaedah yang berlaku tetap seperti di atas, yaitu tradisi yang sesuai dengan syariat maka ia boleh dilakukan sementara yang tidak sesuai dengan syariat maka ia terlarang.

 

Sebagian mengatakan bahwa kita harus mengambil tradiai Islam Nusantara yang toleran dan meninggalkan tradisi Islam Arab yang radikal. Pertanyaannya, bukankah toleran itu ajaran Islam dan bukan hanya tradisi Nusantara? Perhatikan ayat berikut

لكم دينكم ولي الدين

Artinya: bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
 من قتل نفسا معاهدا لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها ليوجد من مسيرة أربعين عاما

Artinya: Barangsiapa yang membunuh seorang kafir dzimmi maka ia tidak akan dapat mencium bau surge, padahal bau surge itu bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun. (HR. Bukhari)

 

Jadi, soal toleransi kepada non muslim, itu murni dari ajaran Islam dan bukan sekadar tradisi islam Nusantara. Toh banyak juga orang muslim Nusantara yang sikapnya tidak toleran. Sebaliknya, tidak semua orang Arab tidak toleran. Di Mesir ada agama Islam dan kriaten. Penganut dua agama tadi dapat hidup berdampingan tanpa ada masalah.

 

 

Pertanyaannya, apa sesungguhnya Islam Nusantara yang mereka inginkan? Jika Islam Nusantara ingin pribumisasi Islam, apakah maksudnya ingin membuang berbagai tradisi Islam yang berbau bukan berasal dari Nusantara? Apakah itu artinya mereka akan melarang para kyai agar tidak memakai sorban, melarang makan apem, merombak kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari serapan Arab?

 

 

Bagi saya sendiri, tradisi suatu masyarakat tidaklah menjadi persoalan. Tidak perlu kita berkoar-koar dengan istilah yang hanya akan membuat masyarakat bingung. Cukuplah Islam sebagai ajaran Islam. Islam sebagai timbangan terhadap segala prilaku umat manusia. Berbagai tradisi yang baik dan sesuai syariat, silahkan laksanakan. Namun yang tidak sesuai dengan syariat, tentu tertolak. Jadi, persoalannya menjadi sangat simple. Wallahu alam.

 

Comments

comments

 border=
 border=

One comment

  1. Islam saja. Tak usah pake nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × five =

*