Thursday, August 16, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Begini Tanggapan Ulama Azhar Terkait Bacaan Quran Dengan Langgam Jawa

gsah

Wacana terkait Islam Nusantara ternyata semakin meluas. Islam Nusantara tidak hanya dijadikan sebagai budaya Islam Nusantara yang berkembang dan “dibiarkan” hidup secara alamiyah, namun sebagian mencoba untuk menghidupkan gaya Islam Nusantara dengan menggali budaya Nusantara dan dipopulerkan ke ranah publik. Barangkali salah satu caranya adalah dengan mengangkat bacaan Quran dengan langgam jawa ini.

 

Namun ternyata, bacaan Quran tersebut menimbulkan kontraversi di masyarakat. Banyak silang pendapat mengenai boleh tidaknya membaca Quran dengan langgam budaya lokal. bagaimana pendapat Ulama Azhar terkait masalah tersebut? Berikut jawabannya yang saya kutip dari page Suara Azhar:

Apa tanggapan ulama Al-Azhar tentang pembacaan Alquran dengan menggunakan langgam dari budaya Indonesia (Jawa)?

1. Syaikh Jamal Faruq ad-Daqqaq (Dekan fakultas Da’wah Universitas al-Azhar dan anggota ulama pakar al-Azhar)

Setelah para mahasiswa Indonesia memperlihatkan video bacaan Alquran tersebut, beliau berkata,

“Bacaan ini unik sekali, menunjukan bahwa yang membaca adalah bukan orang Arab (natijatul-‘ujmah) dan orang non-arab memiliki langgam (lahnun dalam Bahasa Arab) dan cara mengejanya tidak sepenuhnya sama seperti lisan orang Arab. Maka dari itu harus diperhatikan Thariqoh al-Adaa` (cara eksekusi bacaan). Oleh sebab itu ada bab Qiroaat Sab’ah yang merupakan salah satu latar belakangnya adalah permasalah ini”.

Bahkan beliau tidak segan memuji sang qori dengan mengatakan, “Sang qori memperhatikan betul kaidah tajwid dengan pengahayatan saat membacanya.”

2. Syekh Ahmad Hajin (Pengajar ilmu Hadis di al-Azhar)

Setelah diperlihatkan kepada beliau video tersebut, pada awalnya beliau merasa aneh dan manggut-manggut karena baru pertama kali mendengarnya. Tanggapan beliau sama seperti Syekh jamal Faruq yang mengatakan bahwa yang terpenting adalah tajwidnya, pemakaman terhadap maknanya, karena irama mengikuti artikulasi teks yang dibacanya.

3. Syaikh Toha Hubaisyi (Anggota pentashih Alquran Mesir dan pengajar senior ilmu Tasawuf dan hafal kitab Ihya Ulumuddin milik Imam al-Ghazali)

Dalam hal ini beliau juga memperbolehkan membaca Alquran dengan langgam jawa tersebut dengan syarat tetap memerhatikan tempat keluar huruf (makhraj) dan kaidah tajdwid. Sebab, kata beliau, seseorang yang membaca Alquran dengan bahasa Arab, ketika yang membacanya mengerti atau tidak, tepat atau tidak hakikatnya, maknanya telah sampai kepada Alla

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open