Tuesday, November 21, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Sejarah Singkat Ilmu Mantik

images.jpgwt
Ilmu mantik atau ilmu logika adalah sebuah cabang ilmu yang bertujuan untuk menjaga akal manusia agar tidak salah dalam berpikir. Dengan kata lain, ungkapan yang dikeluarkan oleh seseorang, dapat disampaikan secara logis dan tertata rapi.
Pemikiran logis sesungguhnya ada sejak manusia dicdiciptakan dunia ini. Dengan kata lain bahwa manusia secara sadar atau tidak, sudah diberi potensi oleh Allah untuk dapat berpikir secara rasional.
Hanya saja, waktu itu belum ada yang membukukan sistematika berpikir logic ini. Strukturisasi pemikiran logis dalam bentuk cabang ilmu, baru ditulis oleh para filsuf Yunan, terutama oleh aristoteles dalam bukunya novum organum. Asto bukanlah penemu ilmu logika. Namun aresto filsuf pertama yang mula-mula memberikan rumusan dasar terkait berpikir secara logis ini.
Ilmi mantik mulai diterjemahkan ke dalam bahasa arab pada masa khilafah Abbasiyah. Mulanya, penerjemahan dilakukan apa adanya sesuai naskah asli dari bahasa Yunani. Para ulama lantas mempelajari ilmu ini secara rinci dan mendalam.
Banyak tema yang masuk dalam ilmuantik, di antaranya terkait dengan tasawurat, tasdiqat, jadal, syiir, khithabah dll. Contoh-cintoh yang disampaikan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat Yunan.
Waktu ilmu ini diterjemahkan, terjadi perdrbatan panjang dikalangan para ulama, antara yang membolehkan atau mengharamkan. Bagi yang membolehkan, mereka menganggap bahwa ilmu ini sekadar sarana untuk dapat berpikir benar dan logis. Sementara bagi yang mengharamkan, mereka melihat bahwa ilmu ini merusak dan membahayakan akidah. Adapula yang beralasan bahwa ilmu ini tidak berguna. Alasannya manusia sudah dapat membedakan benar salah dan dapat berfikir logis sebelum datangnya para filsuf Yunan.
Perdebatan ini bisa dilihat ketika terjadi debat terbuka antara yunus bin mata yang pakar mantik dan abu said asairafi yang pakar bahasa arab. Bagi mata bin yunus, ilmu logika sangat penting dan bisa dipakai oleh setiap manusia. Ia adalah ilmu alat untuk mengatur makna makna kalimat secara logis.
Sementata asairafi berpendapat bahwa ilmu mantik adalah logikanya orang Yunan. Orang arap punya filsafat bahasa yang mempunyai struktur dan makna bahasa tersendiri. Logika Yunan tidak dapat diterapkan bagi orang Arab yang punya logika bahasa arab.
Perdebatan mengenai penggunaan ilmu mantik tetus berjalan. Ibni shalah misalnya, beliau mengharamkan ilmu mantik. Lalu muncul ulama  generasi setelahnya yaitu ibnu taimiyah. Beliau mengarang kitab arraddu alal mantiqiyyin dan dar’ul mantik. Setelah mereka, dilanjutkan oleh imam suyuti yang mengarang kitab shaunul mantik.
Beda lagi dengan para ulama kalam, filsuf dan ushul fikih. Mereka menggunakan ilmu logia sebagai sarana untuk memperkuat argumen keilmuan mereka secara logis. Ilmu mantik dalam tiga cabang ilmu tadi bahkan sering dijadikan sebagai mukadimah kitab.
Dalam sejarahnya, sesungguhnya ilmu mantik tidak ditelan mentah mentah oleh para ulama Islam. Pasca terjemahan, para ulama menelaah ulang ilmu ini dan disesuaikan dengan akidah islam. Setidaknya ada dua tugas yang dilakukan oleh para pakar mantik Islam, yaitu pertama membersihkan ilmu mantik dari paham pemikiran yang tidak sesuai dengan akidah islam. Kedua memberikan tema tambahan  dan merapikan truktur penulisan sehingga ilmu mantik lebih mudah dicerna.
Dengan melihat pada dua hal tadi, ilmu mantik yang dipelajari umat islam, bisa dikatakan adalah ilmu mantik dengan bentuk baru. Ilmu mantik menjadi ilmu baru yang mempunyai perbedaan dengan mantik Yunan.
Barangkali mantik karya ibnu sina  yang masih merrpresentasikan mantik Yunan. Buku beliau yang berjudul ilmu mantik, baik dari sisi tema maupun cakupan bahasan, banyak kesamaan dwngan mantik Yunan. Tidak heran jika mantik ibnu sina cukup luas hingga tiga jilid besar.
Imam ghazali sebagai salah satu pakar mantik, juga banyak andil dalam pembaruan ilmu mantik ini. Beliau menuliskan beberpa buku yaitu mahakkunnazhar, mi’yarul ilmi dan juga dijadikan  mukadimah dalam kitab al mustasfa. Imam ghazali selain pakar mantik juga pakar kalam, filsafat, ushul fikih dan fikih. Beliau mencoba untuk menggeser beberapa terminologi dalam ilmu mantik dengan terminologi yang dekat dengan ushul dan fikih.
Apa yang dilakukan oleh imam Ghazali tidak mendapatkan sambutan baik oleh para pakar mantik. Sebaliknya beliau dikecam banyak ulama karena mencoba merubah terminologi ilmu yang sudah baku. Bagi para ulama, perubahan terminologi dapat berdampak negatif. Ia akan mengacaukan sistem keilmuan yang sudah mapan. Pada akhirnya, ilmu mantik tetap konsisten dwngan terminologi yang umum digunakan hingga saat ini. Wallahu alam.
===============
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open