Monday, May 28, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Beda Dengan Wahabi, Bagi Muhammadiyah Kewajiban Pertama Seorang Mukalllaf Adalah Nazhar

Jika kita baca Himpunan Putusan Tarjih BAB Iman, kita akan menemukan kalimat berikut ini:

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Yang harus digarisbawahi dari kalimat di atas adalah ungkapanberikut ini:
وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا
Dam bahwa an-Nazhar atas alam raya untuk mengetahui Allah hukumnya wajib sesuai syariat.
Jadi, kewajiban pertama untuk mengetahui Allah adalah dengan melalui nazhar atau proses berfikir. Ini sesuai denganpendapat kalangan ulama asyari seperti imam Juwaini, Imam iji, Imam Amidi, Imam Razi dan lain sebagainya. Hal ini bias kita bandingkan dengan pertanyaan Imam Al-Bagdadi, salah seorang uama Asyari dalam kitabnya Ushuluddin:7) sebagai berikut
الصحيح عندنا قول من يقول: إن أول الواجبات على المكلف النظر والاستدلال المؤديات إلى المعرفة بالله تعالى وبصفاته وتوحيده وعدله وحكمته، ثم النظر والاستدلال المؤديان إلى جواز إرسال الرسل منه، وجواز تكليف العباد ما شاء
Dan yang benar dalam madzhab kami pendapat yang mengatakan bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah nazhar dan sitidlal yang dapat mengarah pada makrifat Allah, dengan sifat-Nya, tauhid-Nya, adilnya-Nya dan hikmah-Nya.
Lalu nazhar terkait dengan bolehnya Allah mengutus utusan dan bolehnya Allah memberikan beban hokum kepada hambanya sesuai dengan kehendaknya,

Juga pernyataan Imam Juwaini berikut ini:
أول ما يجب على العاقل البالغ – باستكمال سن البلوغ أو الحلم شرعاً – القصد إلى النظر الصحيح المفضي إلى العلم بحدوث العالم..)الشامل امام جويني 26
Kewajiban pertama bagi seorang yang berakal dan balig –yang telah sempurna balignya atau telah bermimpi secara syariat—adalah niat untuk melakukan nazhar yang menjurus pada pengetahuan mengenai mahluknya alam raya.

Dalam kitab Syarhul Irsyad karya Abu Bakar bin Maimun disebutkan sebagai berikut:
“والأصح أن أول واجب قصداً: المعرفة، وأول واجب وسيلةً قريبةً: النظر، ووسيلةً بعيدة: القصد إلى النظر
Dan yang paling shahih adalah bahwa kewajiban pertama adalah niat untuk mengetahui ilmu pengetahuan (ma’rifat). Kewajiban pertama merupakan sarana terdekat untuk nazhar dan sarana jauhnya adalah niat untuk nazhar.

Apakah yang dimaksudkan dengan nazhar? Imam Haramain dalam kitab asy-Syamil menjawab sebagai berikut:
ترتيب أمرين معلومين ليتوصل بترتيبهما على علم مجهول” الشامل امام جويني (32-33)
Mengurutkan dua perkara yang ma’lum untuk sampai pada pengetahuan sesuatu yang masih belum diketahui.

Artinya bahwa nazhar merupakan proses berfikir untuk menjawab suatu persoalan yang belum ia ketahui sebelumnya. Syaih Usaman al-Azhari dalam halaqah ilmiyahnya menyatakan bahwa nazhar merpulana pergerakan pemikiran untuk mengetahui sesuatu.

Umumnya, ulama kalam memhabas panjang lebar terkait makna nazhar tersebut. Berikut saya nukilkan dari kitab Ibkaru Afkar FiUshuliddin karya Imam Amidi jilid 1 sebagai berikut:

“Mengenai kewajiban ini, terjadi perbedaan di kalangan ulama. Sebagian mazhab Asyariyah mengatakan bahwa kewajiban pertama adalah makrifat Allah, karen ia merupakan asal dari pengetahuan agama dan juga merupakan bagian dari kewajiban syariat (beban hukum syariat). Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa nazar untuk makrifat Allah adalah kewajiban pertama. Bahkan mereka mengklaim sudah menjadi kesepakatan ulama, karena dengan nazar, pengetahuan akan didapat. Jadi nazhar harus lebih dulu muncul dibanding makrifat (pengetahuan)
.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kewajiban pertama adalah bagian awal dari nazhar. Karena nazhar merupakan permulaan sebelum orang mendapatkan pengetahuan tentang Allah, dan pengetahuan tadi hanya didapat dari nazhar. Permulaan nazhar, merupakan langkah awal untuk nazhar secara lebih sempurna.

Sebagian lagi berpendapat bahwa yang wajib adalah niat untuk melakukan nazhar, karena niat lebih dulu muncul sebelum orang melakukan sesuatu. Pendapat ini dipegang oleh imam Haramain.

Menurut Abu Hasyim dari kalangan Muktazilah bahwa yang pertama kali wajib adalah sikap ragu-ragu terhadap eksistensi Tuhan, karena ragu-ragu lebih dulu muncul sebelum orang punya niat untuk nazar. Menurutnya, sikap ragu-ragu tersebut adalah baik. Hanya pendapat ini lemah.

Jika yang dimaksudkan keterangan mengenai kewajiban pertama bagi seorang hamba, maka kewajiban tersebut adalah makrifah. Jika yang dimaksudkan keterangan mengenai kewajiban pertama adalah hal lain yang terkait dengan makrifah, bearti maksnya adalah keinginan untuk melakukan nazhar atau sikap ragu mengenai Tuhan.

Jika kewajiban pertama adalah nazhar, atau sarana menuju nazhar, kemudian ada seseorang yang dalam hidupnya masih ada waktu untuk melakukan nazhar atau untuk dapat mengetahui mengeai Allah (Sang Pencipta), namun ia tidak melakukan itu, maka ia kafir. (Al-Ibkar Fi Ushuliddin Jilid 1, Imam Amidi)

Terkait nazhar ini, berpijak dari firman Allah berikut ini:

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ ( [العراف: 185] Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?

(101). قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚوَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa`at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus: 101)

(102). فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ ۚقُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ
Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka. Katakanlah: “Maka tunggulah, sesungguhnya akupun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu”. (QS. Yunus: 102)

أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit, yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun.” – (QS.50:6)

أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ () وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ ()وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ()وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ ()
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, () Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? () Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? () Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al-Ghasiyyah: 17-20)

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ( [الذاريات: 21] Artinya: Dan pada dirimu, apakah kamu tidak melihat?” (QS. Adz-Dzariya: 21)

Allah sendiri mengecammereka yang tidak mau melakukan proses berfikir sehingga dapat mengetahui hakekat ketuhanan dan mengakui adanya Tuhan di balik ciptaan alam raya. Firman Allah:

لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا ( الآية [الأعراف : 179].
Artinya: mereka memiliki hati namun tidak digunakan untuk berfikir (QS. Al-A’raf: 179)

Bagaimanakah pendapat Wahabi terkait kewajiban seorang Mukallaf? Syaih Ustaimin ketika mensyarah kitab asyar al-Akidah As-Safariniyah mengatakan bahwa kewajiban pertama seroang muslim bukanlah nazhar karena menurutnya, pengetahuan manusia terkait Allah, sifatnya fitri. Artinya bahwa sejak lahir, sesungguhnya manusia telah mengetahuai adanya Tuhan. Karena sifatnya fitri, maka tidak dibutuhkan lagi adanya nazhar ini.
Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يَـوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ- وَفِى رِوَايَةٍ: عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ- فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانَهُ أَوْيُنَصِّرَانَهُ أَوْيُمَجِّسَانَهُ، كَمَا تُوْلَدُ بَهِيْمَةٌ جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah”—dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam keadaan memeluk agama ini—Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor binatang dilahirkan dalam keadaan utuh (sempurna), apakah kalian mendapatinya dalam keadaan terpotong (cacat)” (HR. Bukhari dan Muslim).

{وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (173) وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (174) }
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (kekuasaan Tuhan), atau agar kalian tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya orang tua-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu’?” Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. AlA’raf:172-174)

Hanya pendapat ini lemah. Benar bahwa manusia secara fitri telah mengakui keberadaan Tuhan seperti sumpah pertama dalam rahim. Hanya saja, ketika ia lahir ke dunia, ia akan banyak terpengaru oleh kedua orang tuanya atau alam sekitarnya atau pemikirannya sendiri. Dengan demikian, banyak sekali manusia yang ternyata tidak mengenal Tuhan atau membuat persepsi salah tentang Tuhan. Bisa jadi ia Kristen, yahudi atau lainnya. Rasulullah bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يَـوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ- وَفِى رِوَايَةٍ: عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ- فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانَهُ أَوْيُنَصِّرَانَهُ أَوْيُمَجِّسَانَهُ، كَمَا تُوْلَدُ بَهِيْمَةٌ جَمْعَاءَ، هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah”—dalam riwayat lain disebutkan: “Dalam keadaan memeluk agama ini—Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor binatang dilahirkan dalam keadaan utuh (sempurna), apakah kalian mendapatinya dalam keadaan terpotong (cacat)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari sini, Allah memerintahkan manusia untuk melakukan nazhar sehingga dapat mengakui hakekat fitrahnya itu. Karena fitra terkait pengakuan ketuhanan telah banyak tertutup dengan pengaruh lingkungan. Jadi, kewajiban pertama bukan fitrah, namun nazhar sebagai upaya untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya.

Jika kewajiban pertama adalah fitrah, tentu tidak perlu allah perintahkan manusia untuk melihat alam raya dan menyaksikan kebenaran ayat kauniyah sehingga berahir para pengakuan mutlak tentang keesaan Allah. Tentu manusia seluruh dunia telah beriman. Namun realitanya tidak. Fitrah terkait pengakuan Tuhan yang ada dalam hati manusia, perlu disadarkan dan digali agar ia benar-benar dapat mengenal Tuhan dengan sebenarnya.

Jadi, dengan pengaruh lingkungan dan lain sebagainya, manusia sering salah persepsi tentang Tuhan. Ia bisa menjadi yahudi, kristen, atau bahkan tidak mengakui Tuhan. Sikap seperti ini, perlu disadarkan Dan sarana salah satus arana untuk menghilangkan persepsi tersebut adalah dengan melakukan proses berfikir, baik terkait dengan alam raya atau lainnya. Pada ahirnya, akan timbul keyakinan bahwa di balik aram raya ini, ada Dang Pencipta yang mengatur segala sesuatu. Ia akan yakin abhwa manusia dan alam raya sekitarnya hanyalah makhluk yang dibalik itu ada Tuhan Pencipta alam. Ia adalah Allah ta’ala.

Sementara itu, Ibnu Taimiyah yang sering dinukil para ulama wahabi, banyak memberikan kritikan atas pendapat ulama Asyari terkait nazhar itu. Bagi Ibnu Taimiyah, kewajiban pertama bukanlah nazhar namun iqrar. Berikut di antara pernyataan Ibnu Taimiyah:

قد اتفق سلف الأمة وأئمتها على أن معرفة الله والإقرار به لا يقف على هذه الطرق التي يذكرها أهل طريقة النظر؛ بل بعض هذه الطرق لا تفيد عندهم المعرفة فضلا عن أن يكون الله لا يقر به مقر ولا يعرفه عارف إلا بالطريقة المشهورة له من إثبات حدوث العالم بحدوث صفاته مع دعواهم أن الله لا يعرف إلا بهذه الطريقة (ابم تيمية (النقض جوز 2/475
Para ulama dan imam salaf telah bersepakat bahwa ma’rifat Allah dan iqrar atas keberadaan Allah tidak bisa dilakukan dengan cara seperti yang digunakan para pengikut nazhar. Bahkan sebagian dari sarana nazhar tadi, bagi mereka sama sekali tidak menghasilkan pengetahuan. Apalagi sampai mereka mengatakan bahwa terkait ketuhanan Allah, hanya dapat diketahui dengan cara yang masyhur yaitu dengan menetapkan bahwa alam raya adalah hadis (makhluk) dan juga makhluknya seluruh sifat alam, dan dakwaan mereka bahwa untuk mengetahui allah tidak ada cara lain selain dengan jalan ini (An-Naqdh, jilid 2 hal. 475)

Dalam majmu fatawanya, Ibnu Taimiyah juga mengatakan:
المقصود هنا أن هؤلاء الذين قالوا: معرفة الرب لا تحصل إلا بالنظر، ثم قالوا: لا تحصل إلا بهذا النظر، هم من أهل الكلام – الجهمية القدرية ومن تبعهم – وقد اتفق سلف الأمة وأئمتها وجمهور العلماء من المتكلمين وغيرهم، على خطأ هؤلاء في إيجابهم هذا النظر المعين، وفي دعواهم أن المعرفة موقوفة عليه. إذ قد علم بالاضطرار من دين الرسول صلى الله عليه وسلم أنه لم يوجب هذا على الأمة ولا أمرهم به، بل ولا سلكه هو ولا أحد من سلف الأمة في تحصيل هذه المعرفة (مجموع فتاوي (16/330)
Yang dimaksudkan di sini adalah bahwa mereka yang mengatakan “Ma’rifat Allah tidak dapat dicapai kecuali dengan nazhar”, kemudian mereka menambahkan, “Tidak dapat dicapai kecuali dengan nazhar”, pendapat ini adalah pendapat ulama kalam –dari kalangan jahmiyyah al-Qadariyah dan para pengikut mereka –padahal salaful ummah dan para imamnya dan juga jumhur ulama dari ulama kalam dan lainnya, mereka semua sepakat bahwa pendapat mereka itu salah yang mewajibkan untuk melakukan nazhar dengan cara tertentu. Dan bahwa makrifat allah hanya dapat diketahui melalui nazhar. Padahal telah diketahui bersama dari ajaran nabi muhammad saw bahwa nabi tidak pernah mewajibkan dan memerintahkan kepada umatnya untuk melakukan nazhar> bahkan rasulullah san para salaf ummah tidak pernah melakukan nazhar untuk mendapatkan makrifat Allah tersebut. (Majmu Fatawa juz 16:330).

Dala kitab dar’u Taarrudi al-Aqli wa an-Naqli, Ibnu Taimiyah menyatakan sebagai berikut:
المقصود هنا أن السلف والأئمة متفقون على أن أول ما يؤمر به العباد الشهادتان، ومتفقون على أن من فعل ذلك قبل البلوغ لم يؤمر بتجديد ذلك عقب البلوغ) الدرء 11/8)
Yangd imaksudkan di sini adalah bawha salaf ummah dan para imamnya sepakat bahwa yang pertama kali diperintahkan bagi hamba adalah mengucapkan dua kalimat syahadah. Mereka semua sepakat bahwa orang yang bersyahadat sebelum balig, tidak diperintahkan untuk mengulangi syahadatnya setelah balig.

Masih banyak lagi pernyataan Ibnu Taimiyah dalam berbagai kitabnya. Pendapat Ibnu Taimiyah ini juga sering dinukil orang muridnya Ibnul Qayyim dan para ulama wahabi. Intinya, mereka menolak dan memberikan kritikan tajam kepada kalangan Asyariyah yang menganggap bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah nazhar. Bagi mereka, kewajiban pertama adalah iqrar, atau fitrah.

Lantas bagaimanakah sikap Muhammadiyah? Ternyata dari berbagai pendapat di atas, Muhammadiyah secara tegas mengikuti pendapat ulama Asyari. Dalam Kitab Himpunan Putusan Tarjih, Muhammadiyah tidak menyatakan bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf adalah fitrah atau iqrar, namun dengan nazhar. Berikut kalimatnya:

وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا
Dam bahwa an-Nazhar atas alam raya untuk mengetahui Allah hukumnya wajib sesuai syariat.
Jadi, ini semakin menguatkan bahasan sebeumnya bahwa tauhid Muhammadiyah, sesungguhnya sangat kental dengan pendapat ulama Asy’ari. Pesantren Muhammadiyah dan jamaah Muhammadiyah, dalam akidah idelanya menggunakan HPT sebagai acuan, dan bukan sebaliknya, menggunakan kitab wahabi yang telah dimarjuhkan, sementara pendapat ulama Asyari yang telah dirajihkan justru ditinggalkan. Wallahu a’lam

=====================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open