Sunday, July 5, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Beda Antara Produk Budaya Dengan Kalamullah

fdsahh

 

Di halaman 50, Amin Abdullah menukil pendapat Nasr Hamid sebagai berikut:

Al-Quran bagi umat manusia adalah kitab suci. Al-Quran adalah kalam ilahi (kalam allah). Kalam allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Meskipun al-Quran sepenuhnya adalah bersifat divine (ilahiyah, ketuhanan), namun sepenuhnya ia juga menggunakan bahasa manusia (insaniyah, kemanusiaan)-dalam hal ini adalah bahasa Arab. Dengan menggunakan media bahasa, maka risalah atau pesan yang disampaikan menjadi dapat dikomunikasikan, dipahami dan dimengerti oleh manusia para penerima pesan ketuhanan tersebut. Dalam hal penggunaan bahasa manusia sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pesan ketuhanan yang suci, maka keterlibatan dan peran budaya juga ada terselib di situ. Karena bahasa adalah fenomena budaya. Bishwtin wa harfin (dengan suara dan huruf) adalah fenomena budaya.

 

Ungkapan di atas sesunggunya tidak problematik, bahkan ini menjadi kesepakatan ulama ushul dan ulama kalam. Ulama ushul tatkala meletakkan ilmu semantik, atas kesadaran mereka bahwa bahasa al-Quran yang berupa bahasa Arab adalah bahasa makhluk. Jadi mereka “mengotak-atik” bahasa al-Quran yang makhluk itu.

 

Imam ar-Razi, salah seorang ulama Asyari menyatakan bahwa al-Quran bisa dipahami dari dua dimensi, pertama dimensi kemanusiaan, yaitu bahasa Arab sebagai bahasa manusia. Kedua dimensi ketuhanan, yaitu ruhul Quran yang azal.

 

Jika berhenti sampai sini sana, tentu masih bisa diterima. Sayangnya perkataan tadi dinegasikan oleh pernyataan setelahnya yaitu:

Adalah Nasr Hamid Abu Zaid, lewat perspektif kajian linguistik, budaya dan sejarah, yang menegaskan bahwa al-Quran tidak dapat dipisahkan dari fenomena budaya dan sejarah Arab pada saat al-Quran diturunkan (muntaj ats-tsaqafi, produk budaya). Bahasa lain dari apa yang biasa dan umum digunakan dalam ulumul quran yaitu azbabunnuzul (sebab-sebab diturunkannya al-Quran).

 

Paragraf terakhir ini sangat kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya yang menyatakan bahwa Quran sebagai kalamullah. Paragraf ini secara otomatis menegasikan pernyataan sebelumnya. Mengapa demikian? Karena sangat berbeda antara al-Quran yang bisa ditinjau dari dua dimensi, dengan al-Quran sebagai produk budaya. Yang pertama tetap menguatkan al-Quran sebagai kalamullah, sementara yang kedua menafikan Quran sebagai kalam Allah. Hal ini karena produk budaya artinya adalah hasil kreasi umat manusia.  Artinya, al-Quran adalah buatan umat manusia. Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

1 × three =

*