Monday, April 6, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Bayan, Burhan dan Irfan; Sebuah Pengantar

fdsafsdaghPemetaan epistem bayan, burhan dan irfan dimunculkan oleh Abid Aljabiri dalam bukunya Bunyatul Aqli al-Aarabi. Kesimpulan Aljabiri tersebut setelah beliau melakukan penelitian terhadap cara pandang ulama Islam klasik dalam menghasilkan berbagai proyek pemikirannya.

 

Ulama klasik biasa menyebut pakar bahasa dengan istilah bayaniyun.  Mereka menyebut pakar logika Aristetolian dengan istilah burhaniyun dan menyebut para sufi dengan irfaniyun.  Jadi, bayan, burhan dan irfan bukan istilah buatan Aljabiri, namun sudah menjadi istilah yang biasa dipakai oleh ulama Islam klasik.

 

Pendekatan bayan bertolak dari teks, dengan menggunakan berbagai piranti bahasa, seperti nahwu, sharaf, balaghah (badi, bayan, maani) dan seterusnya. Di antara ciri-cirinya adalah sangat terpaku pada bahasa, menggunakan filsafat (logika) bahasa, memandang sesuatu secara partikular (juziyat), menggunakan kiyas bayan dengan syarat utama asal, cabang, hukum dan ilat.

 

Model ini dipakai para mutakalimun, mufassirun, ulama ushul dan lains ebagainya.  Kesimpulan hukum yang dihasilkan bersifat zanni, karena bertumpu pada illat yabg zanni,

 

Pendekatan burhan bertolak dari logika Aristetolian, dengan konsep kiyas Aresto, sistem kajian deduktif dan indulktif. Kiyas Aristo juga mempunyai 4 syarat, yaitu mukadimah sughra, mukadimah kubra, rabit dan natijah.

M

ukadimah sughra harus berasal dari premis yang benar dan perkara yang bersifat aksiomatis. Oleh karenanya hasilnya bersifat qat’iy.

 

Ciri-cirinya, ia rasional, bertumpu pada premis yang benar, melihat persoalan dari global menuju partikular, lebih mementingkan makna dan  penelitian empiris (istiqra). Epistem burhan biasa dipakai oleh filsuf, saintifik, dan ushul fikih

 

Usul fikih Zhahiri, menggunakan logika Aristetolian dalam membentuk berbagai kaidah ushul fikih. Ushul fikih mereka dikenal dengan istilah Addalil. Kiyas yang digunakan adalah kiyas Aristetolian dan mengingkari kiyas bayan, karena dianggap lemah dan hasilnya zhanni

Karena sikap ibnu Hazm yang anti kiyas bayan itu, oleh ulama ushul penganut paham bayan, beliau sering dituduh ingkar kiyas. Padahal ibnu Hazm memakai kiyas, akan tetapi kiyas Aristotelian. Penggunaan manhaj burhan dalam ushul fikih Ibnu Hazm bisa dilihat dari kitab al-Iikham fi Ushulil Ahkam karya ibnu Hazm.

 

Ciri-ciri di atas juga berlaku dalam kitab maqashid. Jika dalam ilmu mantik ada istilah kuliyatul khamsah, maka imam Syathibi dalam kitab Muwafaqat juga menggunakan istilah kuliyatul khamsah untuk menyebutlkan mengenai addaruriyaat yang lima. Ilmu maqashid juga memandang sesuatu, dari yang global, menuju partikular. Ilmu maqashid lebih mementingkan makna dari pada lafal.

 

Contoh kiyas bayani:

Khamar haram karena memabukkan

Bir haram

 

Khamar: asli

Bir; cabang

Memabukkan: ilat

Haram: hukum

 

Contoh kiyas burhan

Setiap yang memabukkan adalah khamnar, dan setiap khamar hukumnya haram, bearti setiap yang memabukkan hukumnya haram

Setiap yang memabukkan adalah khamar: mukadimah sughra

Setiap khamar hukumnya haram: mukadimah kubra

setiap yang memabukkan hukumnya haram: natijah

Khamar: rabit

Bir memabukkan bearti ia haram

Wisky memabukkan bearti haram

 

Perbedaannya (bayan)

Ulama bayan melihat khanmar sebagai satu esensi, sementara bir sebagai esensi yang lain. Hanya karena ada ilat yabg sama, maka ia haram. Jadi, ibarat lingkaran, khamar adalah lingkaran dan bir lingkaran kedua yang terpisah.  Wisky juga lingkaran ketiga yg terpisah. Keduanya mempunyai illat yg sama, maka hukumnya haram.

 

Burhan

Ibnu Hazm memandang bahwa khamr adalah sesuatu yang memabukkan. Khamar menjadi semacam lingkaran besar. Di dalam lingkaran itu, bisa saja ada bir, wiski dan lain sebagainya. Hanya saja, bir, wisky tadi, bukan hal yang independen. Ia bukan menjadi lingkaran kedua dan ketiga.  Ia sendiri berada dalam lingkaran besar khamar. Ia adalah khamar. Untuk itulah ia haram.

 

Sementara irfan bertolak dari intuitif, dengan konsep ahwal dan maqamat. Ciri-cirinya, segalanya bersifat ruhaniyat; ada sistem tarekat yang membentuk semacam kerajaan spiritual, ada raja (syaikh/murabbi), ada murid (salik), ada jalan. Ada aturan (adab), baik aturan dengan Tuhan, guru, antar sesama murid atau dengan dirinya sendiri.

 

Aturan-aturan itu harus ditaati oleh salik. Harus ada murabbi dan tarekat. Targetnya adalah makrifatullah. Biasanya para sufi dijuluki dg al arif billah. Implikasi yang dihasilkan, ialah kasyf, ilham, yang nantinya akan bisa tajalli, widatul wujud, ittihad dengan Allah.

 

Para sufi itu, mahfuz, mi’raj secara ruhani, mendapat ilham, rukyatullah. Kiyas yang digunakan adalah kiyas irfan, yang terdiri dari asal, cabang, ilat dan hukum. Hanya saja, illatnya lebih pada nilai spiritual. Ciri lain, iya bersifat subyektif. Antar sufi, kesimpulan hasil spiritualnya berbeda-beda.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one + 5 =

*