Monday, April 6, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Bayan, Burhan dan Irfan di Dunia Islam; Tinjauan Historis

Sufi_pic_1_0Seperti dalam tulisan sebelumnya, “Bayan, Burhan dan Irfan; sebuah pengantar”, bahwa dalam pemikiran islam kalsik, terdapat tiga episteme yang dominan, yaitu bayan, burhan dan irfan. Bayan berpijak dari bahasa dan merupakan episteme murni yang berasal dari bangsa Arab. Bayan menjadi cirri khas orang arab. Dengan ini pula, al quran ditirinkan dan menjadi mukjizat bagi mereka.

 

Burhan berasal dari Yunani. Episteme ini masuk ke dunia arab, bersamaa dengan penerjemahan pemikiran Yunan yang berkembang sejak masa khalifah Khalid bin Yazid dari bani umayyah.  Penerjemahan pemikiran Yunani semakin berkembang pesat di masa khalifah abbasiyah, yang dimotori oleh khalifah jakfar al-Manshur.

 

Sementara, mengenai irfan sendiri, terjadi perdebatan di kalangan para ulama. Ada yang mengatakan bahwa ia murni berasal dari ajaran Islam, namun sebagian lagi mengatakan bahwa ia berasal dari budaya bangsa lain, baik Yunani, Persia, india atau ajaran Kristen.

 

Tidak ada kesepakatan juga mengenai sejarah perkembangan irfan. Ada yang mengatakan dari sejak awal isla, namun ada pula yang mengatakan sejak akhir kekhalifahan bani umayyah. Namun semua sepakat, bahwa irfan terutama pada masa abbasiyah mengalami perkembangan cukup pesat.

 

Pada awal perkembangannya,  antara pendukung tiga aliran tadi, yaitu bayan, burhan dan irfan tidak harmonis. Satu sama lain saling mengklaim kebenaran masing masing dan menganggap salah, bahkan sesat terhadap kelompok lain.

 

Pengikut ilmu kalam dan ahlul hadis menganggap bahwa para filsuf salah. Banyak dari para filsuf bahkan dikafirkan dan dianggap zindik

 

Sebaliknya para filsuf menuduh ahlul hadis terlalu tekstual. Kiyas ghaib ala syahid yang digunakan mutakalimun dianggap lemah. Manusia dijadikan sebagai asal dari kiyas, sementara Allah sebagai cabanb. Menurut para filsuf, bagaimana mungkin? Ini tidak rasional. Bukankah syarat kiyas harus dua esensi yang sama, sementara antara manusia dan Tuhan adalah dua esensi yang sangat berbeda. Kritikan para pengikut burhan terhadap ulama kalam ini bisa dilihat dari bukunya Ibnu Hazm “Iqdam fi Ilmil Kalam.

 

Para pengikut bayan dan burhan tidak hanya berdebat dalam tataran ilmu kalam, namun juga dalam ilmu bahasa. Bagi ulama bayan, bahasa Arab bukan sekadar sarana komunikasi, namun ia menyimpan logika. Ia merupakan cara berfikir bangsa Arab yang sesuai dengan karakter bahasa Arab. Menurut ulama bayan, logika Aristetolian adalah kaedah bahasa orang Yunani dan hanya layak bagi bangsa Yunan. Logika Aristetolian tidak layak dibawa ke dalam pemikiran bangsa Arab.

 

Menurut ulama burhan, seperti Mata bin Yunus, salah seorang pakar mantik Arestotelian bahwa pada prinsipnya seluruh bahasa mempunyai makna universal. Makna-makna itu sama di seluruh dunia. Dari makna-makna tadi, rumusan logika Aristetolian dibangun. Logika Aristo dapat meluruskan kesalahan kita dalam berfikir. Mantik Aresto, menurut Imam Ghazali adalah mizan (timbangan) atau al-Qistas al-Mmustaqim (timbangan yang benar).  Bahkan, menurutnya, barangsiapa yang tidak menguasai ilmu mantik, maka kapasitas keilmuannya perlu diragukan.

 

Berikut saya nukilkan contoh sederhana mengenai dialog antara aliran bayan dan burhan:

محمد عالم : Muhammad Alim

إن محمدا عالم : Sungguh Muhammad Alim

إن محمد لعالم :  Sungguh Muhammad benar benar  alim

 

Tafsiran ulama bayan:

Kalimat pertama hanya jumlah khabariyah yg memberikan informasi kepada kita bahwa Muhammad adalah alim

Kalimat kedua memberikan jawaban bagi orang yang masih ragu bahwa Muhammad alim. Oleh karenanya perlu satu penguat (taukid inna).

Kalimat ketiga merupakan jawaban terhadap orang yang inkar bahwa Muhammad adalah alim . untuk meghilangkan keraguan tersebut, dibutuhkan dua penguat (taukid) yaitu  Inna dan la.

 

Tafsiran ulama:

Sementara bagi ulama burhan, tiga kalimat di atas secara makna adalah sama. Intinya bahwa Muhammad alim. Tidak ada masalah dengan menggunakan tiga kalimat yang berbeda. Prinsipnya sama, bahwa Muhammad alim

 

Pandangan seperti ini pula yang mendasari Ibnu Hazm mengatakan bahwa ada sinonim (muradif) dalam kalimat. Sementara bagi ulama bayan, sinonim hanya ada dalam kata, bukan susunan kalimat.

Dari sini Nampak sekali bahwa ulama bayan lebih melihat lafal yang berimplikasi ke makna, sementara ulama burhan lebih melhat ke makna.

 

Dalam episteme irfan, perdebatan antara bayan dan irfan lebih hebat lagi. Tidak hanya dalam ranah wacana, namun juga hukuman fisik. Alhalaj yang berhaluan irfan difatwakan sesat dan dipancung karena keyakina sufinya itu.

 

Kompromi antar tiga epistem baru terjadi di era ulama mutaakhirin. Dalam ilmu kalam misalnya, mulai digunakan ilmu mantik Aresto. Bahkan ilmu mantik menjadi lebih dominan dibandingkan dengan argument kiyas ghaib ala syahid. Pembahasan ilmu kalam sudah mirip dengan kajian filsafat. Pembahasan meluas tidak hanya terkait dengan alam metafisik, namun merambah alam fisika secara detail seperti masalah ruang, waktu, atom, benda, sifat benda, ruang hampa dan lain sebagainya.

 

Dalam kitab ushul fikih al-Mustashfa, Imam Ghazali malah menjadikan ilmu logika Aresto sebagai mukadimah buku. Ilmu mantik bahkan menjadi ilmu yang tidak terpisahkan dalam ushul fikih. Dalam bab dilalah, bab awal bahkan dibahas mengenai ilmu mantik.  Model penulisan ilmu ushul mirip seperti penulisan para filsuf. Barangkali hanya kaedah bahasa “selamat” dari bahasan mantik.

 

Demikian juga dalam ilmu fikih, mantik memberikan pengaruh cukup kuat, terutama mantik tashawuri. Hampir setiap definisi dalam ilmu fikih, menggunakan model definisi yang ada dalam logika Aristo.

 

Untuk irfan, pelan-pelan juga “menyusup” dalam ilmu fikih. Ini sangat terlihat seperti dalam kitab ihya ulumuddin karya imam Ghazali. Fikih yang bercorak sufi. Ghazali memang hebat, ia pakar bayan, burhan sekaligus irfan. Dalam ushul fikih, irfan sekali pengaruhnya dalam ushul fikih Syiah, utamanya ketika membahas mengenai imam maksum.

 

Ada pula “perkawinan burhan irfan”, atau antara filosof dan sufi. Ini bisa dilihat dalam alur pemikiran ibnu Sina, Sahruwardi dan ibnu Tufail seperti dalam novel filsafatnya, Hay Ibnu Yaqzan. Bisa juga dilihat dari karyanya ibnu Arabi dalam kitabnya Futuhul Makiyyah.

 

Ringkasnya, bayan, burhan dan irfan, tiga episteme yang biasa dipakai oleh para pemikir Islam klasik. Berawal dari perseteruan, namun pada akhirnya berakhir dengan keharmonisan.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × 5 =

*