Monday, April 6, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Bayan, Burhan dan Irfan; Debat Filosofis Atau Pengajaran Praktis ?

hgskj

Beberapa waktu lalu di group whatsapp sempat terjadi diskusi panjang tentang tiga episteme bayan, burhan dan irfan. Bagi yang pernah membaca dan membuka manhaj tarjih Muhammadiyah, tema bahasan tidak asing. Ketiga kerangka epitemologis itu dijadikan sebagai pendekatan dalam pengembangan pemikiran Islam di Majelis Tarjih dan Tajdid.

 

Diskusi cukup lama, dari malam hingga siang hari. Namun kemudian saya termenung sejenak. Sayabertanya pada diri sendiri, bahasan yang sangat filosofis itu, apakah membumi? Berapa orangkah yang memahami tiga istilah tadi? Apakah ada upaya untuk memberikan “kunci masuk” menuju tiga pintu episteme tersebut kepada kader Muhammadiyah terutama kader tarjih? Jika dalam realitanya tidak ada, itu sama artinya dengan menjadikan tiga episteme khusus untuk “orang elit” saja.

 

Sederhanaya begini, untuk bisa paham dan mendalamu episteme bayan, maka kita harus paham bahasa Arab dengan segala cabangnya, baik nahwu, sharaf, badi, bayan, maani dan juga sejarah dan sastra Arab. Termasuk juga kajian kebahasaan yang terkait dengan filosofi yang terkandung di dalam bahasa Arab. Ini adalah kunci paling awal sebelum kita mengkaji lebih jauh menuju epitem bayan. Selanjutnya, kita harus menelah ilmu kalam, tafsir, ilmu-ilmu sastra Arab, syarah ahdis, dan lain sebgainya. Baru setelah itu membandingkan dan menganalisa untuk kemudian membuat kesimpulan. Pertanyaannya, sejauh mana ilmu bahasa diajarkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah?

 

Untuk paham episteme burhan, harus menguasai logika Aristoteles, baik yang terkait dengan tashawwurat, tasdiqat, istiqra, dan sedikit dari bahasan wujud. Setelah itu baru mengkaji buku-buku filsafat islam, manhaj tajribiyyah dalam sejarah Islam termasuk juga aliran-aliran yang ada di sana. Baru setelah itu membandingkan dan menganalisa untuk kemudian membuat kesimpulan. Pertanyaannya, sejauh mana ilmu logika diajarkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah?

 

Untuk paham dan mendalami episteme irfan, harus paham tasawuf, dengankata kuci, ahwal dan maqamat, wijdan, murid, syaih, kasyf, tajalli, isra, miraj, bashirah, ilham, zhahir, batin, hakekat, syariat, wilayah, nubuwah, fana, baqa dan lain sebagainya. Setelahitu baru menelaah buku-buku tasawuf dengan berbagai alirannya, baik tasawuf falsafi, amali, isyraqi dan lain sebagainya. Baru setelah itu membandingkan dan menganalisa untuk kemudian membuat kesimpulan. Pertanyaannya, sejauh mana ilmu tasawuf diajarkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah?

 

Jika ilmu dasarnya sebagai kunci masuk belum kita kuasai, otomatis kita tidak akan bisa masuk ke dalam “istana epistem” tadi. Kita tidak akan paham soal tiga episteme bayan, burhan dan irfan. Andaipun paham, tidak akan bisa merasakan. Ia ibarat orang yang bercerita tentang pedasnya sambal, namun seumur-umur ia belum pernah makan sambal. Ia hanya melihat orang makan sambal dan mendengar dari orang yang bercerita tentang sambal.

 

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa bahasan filosofis di majelis tarjih itu, hendaknya juga dibarengi dengan pembumian materi tadi di kalangan bawah. Mungkin tidak ke semua sekolah, minimal di pesantren-pesantren Muhammadiyah, kuliah jurusan agama (PAI) dan   tentu Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).

 

Khusus untuk santri PUTM menjadi fardu ain untuk menguasai ilmu alat dari tiga episteme di atas. Mereka ini yang sejak awal disetting untuk menjadi ulama tarjih. Jika mereka saja tidak menguasai dan tidak paham, bagaimana dengan yang lain? Ringkasnya, janganlah kita berdebat pada persoalan yang sangat filosofis, namun kita sendiri tidak paham dan mengerti mengenai tema perdebatan tersebut. Hendaknya sebuah keputusan tidak berhenti pada tataran perdebatan filosofis, namun tidak menyentuh kepada persoalan inti dan paling esensi, yaitu pendalaman dan penguasaan atas materi tadi. Wallahu a’lam.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fifteen + seven =

*