Thursday, December 3, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Barzanjen Ala Muhammadiyah

barzanji

 

Beberapa waktu lalu, didiskusi whatsapp ushul fikih ada yang menanyakan soal berjanjen. Menurutnya, tetangganya tiap hari Senin sering mengadakan acara berjanjenan. Apa sih berjanjen itu?

 

Berjanjen itu dinisbatkan pada buku burdahnya Imam Jakfar bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji. Beliau ulama besar bermadzhab Syafii yang lahir tahun 1126 H. Buku yang paling fenomenal dan terkenal di Indonesia adalah Qishatul Maulud, atau sejarah kelahiran Nabi Muhammad. Buku ini berupa kumpulan puisi dan cerita tentang sejarah kelahiran Nabi Muhammad Saw.

 

Biasanya di kalangan Nahdiyin, tiap malam Senin mereka berkumpul bersama untuk membacakan kitab ini. Tujuan utamanya sebenarnya untuk memperingati kelahiran kanjeng Nabi. Mengapa mereka membacanya pada hari Senin? Karena Nabi Muhammad dalam satu riwayat dilahirkan pada hari Senin.

 

Muhammadiyah sebenarnya bisa mencontoh saudara kita dari NU untuk juga melakukan hal yang sama. Hanya modelnya saja yang disesuaikan. Inti Barzanji itu adalah mengenang sejarah Nabi Muhammad saw. Muhammadiyah bisa mengadakan pengajian ranting dengan tema sejarah Nabi. Kitabnya bisa mengambil dari rujukan yang sama, atau rujukan lain yang kiranya representatif untuk jamaah.  Kitab sejarah Nabi yang cukup bagus judulnya Arrahiiq al-Makhtum karangan Syaikh Shafiyurrahman. Buku ini mengupas tentang sejarah Nabi dari lahir hingga beliau wafat. Buku ini nampaknya juga sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

 

Ada pengampu (kyai) yang secara rutin membedah buku sejarah Nabi tersebut. Pengampu mempuyai target jelas, bahwa dalam sekian bulan, buku ini bisa selesai. Visinya juga jelas, bahwa tatkala buku khatam, maka jamaah benar-benar mampu memahami tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw.

 

Pengajian sirah nabawiyah ini tidak harus dilaksanakan setiap minggu. Bisa saja jadwanya dirotasi, yaitu untuk minggu pertama dan ketiga saja, sementara minggu ke dua dan keempat untuk membedah HPT. Dengan manhaj, visi dan buku diktat yang jelas, diharapkan jamaah juga mendapatkan ilmu sesuai dengan target yang ditetapkan. Ini artinya, pengajian ranting akan semakin semarak dan berkualitas. Kita jamaah Muhammadiyah mempunyai tradisi berjanjen, hanya dengan model yang berbeda. Wallahu alam.

 

Kajian

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 − 1 =

*