Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Barat vs Dunia Islam

1101100830_400

Pikiran geo-politik untuk membagi dunia menjadi dua, yaitu dunia sendiri dan dunia yang lain, adalah pikiran yang umum dimiliki oleh bangsa-bangsa yang mengalami kompleks superioritas. Dahulu, misalnya bangsa Yunani selalu membagi dunia sebagai oikoumene dan di luar oikoumene. Oikoumene berarti daerah berperadaban. Orang Arab menterjemahkannya menjadi al-Da’irah al-Ma’murah, yang intinya adalah kawasan berperadaban yang terbentang dari sungai Nil di Mesir sampai sungai Oxus di Asia Tengah.

Dahulu orang Arab pun menyebut Egypt (Mesir) dengan sebutan Mishr, berasal dari Bahasa Arab yang berarti kota, the civilized, dengan pengandaian bahwa yang lainnya, atau di luar Mesir, adalah uncivilized (tidak berperadaban), karena Mesir pada waktu itu memang merupakan ibukota dunia. Apabila dari zaman klasik kita mendengar kisah Nabi Ibrahim pergi ke Mesir, kemudian juga Nabi Ya’qub yang menemui anaknya Nabi Yusuf yang menjadi menteri pangan di Mesir, maka kepergian semacam itu bisa dibandingkan dengan sekarang dengan pergi ke Amerika atau Eropa.

Begitu juga di Cina ada “Tiongkok”. Tiongkok memiliki makna negeri tengah, yang dalam istilah itu tersirat pengertian bahwa yang lainnya hanya daerah pinggiran. Dengan geo-politik itu mereka mengklaim bahwa daerah tengah boleh menaklukkan daerah pinggiran. Kemudian orang Yahudi, meskipun secara politik dan ekonomi tidak pernah dominan, tetapi mereka mengklaim sebagai bangsa pilihan. Oleh karena itu muncul pula kecenderungan membagi umat manusia menjadi dua juga, yaitu Yahudi sebagai bangsa pilihan (the chosen people) dan gentile. Secara etimologis perkataan gentile berarti asing, tetapi oleh Yahudi diberi konotasi sebagai orang bukan Yahudi yang tidak beradab, kafir, dan sebagainya.

Begitulah, terdapat kecenderungan bahwa suatu bangsa yang merasa sedang berada di atas (superior) membagi dunia menjadi dua. Dan sekarang orang Barat juga berada dalam mind set seperti itu, bahwa dunia ini hanya dua, yaitu The West and The Rest (Barat dan yang lainnya, yaitu yang bukan Barat). Huntington misalnya, ketika mengatakan bahwa akan ada benturan peradaban (the clash of civilization), dalam analisis terakhirnya ia mengatakan bahwa benturan itu adalah antara Barat dan yang lainnya (between the West and the Rest).

Utuk menghadapi kemungkinan terwujudnya teori ini, Barat berupaya menyiapkan kekuatannya, baik ekonomi, politik dan militer. Dalam hal ini Huntington mengusulkan agar Barat membentuk rancangan jangka pendek dan jangka panjang. Rancangan jangka pendek berupa;

  1. Menyatukan peradaban Barat dan mengadakan kerjasama antara Barat dengan Jepang, India, Rusia dan Amerika Latin. Hal ini untuk mengurangi ketegangan antara mereka seta mengkonsentrasikan pada peradaban Islam-Cina.
  2. Menggerogoti kekuatan militer negara-negara Islam dan Cina serta menguatkan militer Barat. Untuk itu, Barat berupaya menguasai kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah. Secara geografis, Afganistan adalah pertemuan antara negara-negara Islam dengan Cina. Karena letak negara ini sangat strategis, maka tidak heran jika Amerika berupaya menguasai wilayah ini.
  3. Menguatkan lembaga internasional agar mampu menjaga nilai dan peradaban Barat.

Adapun rancangan jangka panjang adalah menjaga peradaban Barat serta memonitor setiap negara yang berusaha menguatkan ekonomi dan militer dengan tetap menjaga nilai-nilai peradaban mereka.

Namun demikian, Barat melihat bahwa ancaman yang paling dominan berasal dari peradaban Islam. Samuel Huntington sendiri menganggap bahwa benturan peradaban antara Islam dan Barat adalah warisan perang salib. Dan ini akan terus berlanjut di masa mendatang. Sementara itu, mantan presiden Amerika Richard Nixon menghimbau agar politik luar negeri Amerika sedapat mungkin memberikan peranan penting dalam menentukan politik dalam negeri negara-negara Islam. Richard Nixon memberikan dua pilihan kepada dunia Islam antara memilih sistem Barat sekuler seperti yang dijalankan Turki atau berhadapan dengan Barat.

Bagi Barat, Islamlah yang paling sulit menerima sistem Barat, sehingga Islam akan selalu menjadi ancaman atas peradaban Barat. Maka keberadaan NATO –meskipun Blok Timur sudah runtuh– tetap dijaga, tidak lain adalah untuk menghadapi kemungkinan benturan antara Islam dan Barat.

Tidak heran jika selama ini dalam menyikapi persoalan umat Islam, Barat menggunakan standar ganda. Sebagai contoh sikap sandiwara Amerika dalam menghadapi persoalan Palestina, Irak, Libya, Sudan dan sebagainya, sementara Amerika begitu gencar dalam mempromosikan kemerdekaan Timor-Timur. Ketika ada kasus HAM di negara Islam, AS menentang keras. Tetapi ketika ada pembantaian umat Islam di Palestina, AS tidak melihat itu sebagai pelanggaran HAM. Pasal 7 Piagam PBB yang membolehkan menyerang suatu negara yang tidak tunduk kepada keputusan internasional hanya dijatuhkan kepada Irak dan Afganistan, sementara Israel tetap di luar jangkauan hukum. Semestinya jika Israel tidak mau mundur dari wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza dan Jerusalem Timur harus diserang. Tapi mengapa tidak pernah diungkit-ungkit pasal 7 untuk kasus pendudukan Israel?

Tanggal 11 September 2001, gedung WTC yang menjadi lambang ekonomi Amerika dan gedung Pentagon sebagai lambang kekuatan militer Amerika diserang terosis. Sebagai negara superrior, tentu Amerika merasa dipermalukan di dunia internasional. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan oleh Yahudi untuk mengadu antara Barat dan Islam. Media Barat yang dikuasai Yahudi menuduh orang Islam sebagai dalang peledakan tersebut. Dampaknya jelas, terjadi Islamofobia di seluruh Amerika, Eropa, Kanada, Australia bahkan Cina.

Presiden Amerika pun marah besar. Ia mengatakan bahwa Amerika akan memberantas teroris sampai ke akar-akarnya. Dalam hal ini Bush menuduh keterlibatan Osama ben Laden. Ia meminta pemerintah Taliban untuk menyerahkan Osama ben Laden. Hanya saja sebelum diserahkan ke AS, Taliban meminta ditunjukkan bukti keterlibatan Osama. Namun hal ini justru dianggap sebagai sikap menantang kepada Amerika. Yang mengejutkan dunia Islam adalah Bush mengaitkan rencana serangan balasan tersebut dengan perang salib (crusade). Ini sekaligus menegaskan bahwa AS mengaitkan kehancuran WTC dan Pentagon itu dengan kelompok Islam. Sehingga tidak bisa dipungkiri ada nuansa atau dimensi keagamaannya. Meskipun pada akhirnya Bush meralat kembali pernyataan ini, namun setidaknya telah menunjukkan kebencian Barat pada umat Islam.

Nampaknya kemarahan amerika pada dunia Islam lebih disebabkan karena islamophobia, bukan karena teroris semata. Amerika benar-benar percaya pada teori Huntington sehingga sedapat mungkin melumpuhkan dunia Islam dengan mencari celah untuk digunakan sebaik mungkin. Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fifteen + twelve =

*