Wednesday, July 24, 2019
Artikel Terbaru

Author Archives: wahyudi

Jika Imam Qunut, Apakah Boleh Tidak Ikut Qunut?

  Assalamu ‘alaikum… Ustadz mohon maaf saya ingin Tanya, jika kita shalat subuh berjamaah di masjid yang imamnya mengamalkan qunut, bagaimana sikap terbaik sebagai makmum? Apakah kita wajib ikut atau tidak apa-apa dengan diam berdiri?   Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc. M.M Sebagai makmum, tugasnya mengikuti Imam. Jika imam qunut, hendaknya ikut qunut. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw.   ... Read More »

Dialog Ilmiah Melalui Buku Fikih Kebinekaan

Counter fikih kebinekaan. Artikel ke-46. Penutup   Buku fikih kebinekaan ditulis oleh 17 pemikir Islam. Mereka adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Drs. Lukman Hakim Saifuddin, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A., Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, Dr. Hamim Ilyas, Dr. Zakiyuddin Baidhawy, Dr. Muhammad Azhar, Hilman Latief, Ph.D., Dr. Zuly Qodir, Dr. M. Tafsir, Dr. ... Read More »

Khazanah Islamic Studies Tidak Peka Sosial?

  Seri counter fikih kebinekaan. Artikel ke-45 Pada halaman 110, Muhammad Azhar berkata:   Dalam perspektif teologis, produk fikih—serta khazanah Islamic studies lainnya—dinilai terlalu berorientasi pada ketuhanan (teosentris) an sich (teologi takbiratul-ihram), minus teologi salâm kemanusiaan (melahirkan sikap dehumanisasi seperti kekerasan serta pelanggaraan HAM lainnya) dan minus teologi kealaman (tidak memiliki kepedulian dengan kerusakan lingkungan serta abai dengan upaya pelestarian ... Read More »

Studi Keislaman Klasik Dapat Menimbulkan Clash of Civilization?

    Seri Counter Fikih Kebinekaan. Artikel ke 44.   Di halaman 110, Muhammad Azhar berkata:   Dampak lain dari fenomena studi keislaman klasik, dengan segala produk keilmuannya, lebih menggambarkan dimensi eternalitas yang serba metafisik, yang sudah pasti sangat mengabaikan dimensi perubahan dan dinamika (taghayyur dan tathwîr). Implikasi lainnya adalah bahwa penggunaan epistemologi keilmuan Islam klasik cenderung bersifat dikotomis dengan ... Read More »

Produk Keilmuan Klasik Mengabaikan Dimensi Perubahan

Seri counter fikih kebinekaan, artikel ke-43   Di halaman 110, Muhammad Azhar berkata:   Dampak lain dari fenomena studi keislaman klasik, dengan segala produk keilmuannya, lebih menggambarkan dimensi eternalitas yang serba metafisik, yang sudah pasti sangat mengabaikan dimensi perubahan dan dinamika (taghayyur dan tathwîr).   Mari kita lihat Di sini saya akan menggarisbawahi dua persoalan yang terkait erat dengan perubahan ... Read More »

Produk Fikih Yang Tekstual?

Seri counter buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 42.   Di halaman 109. Muhammad Azhar berkata:   Sebagaimana disebutkan di atas bahwa epistemologi Islam klasik lebih bersifat—meminjam format filsafat Platonian—idealistik-ontologik-metafisik, maka pada umumnya, produk fikih yang dihasilkan cenderung bersifat—meminjam perspektif M. Abed al-Jabiri—tekstual-bayani. Atau dalam perspektif kajian literatur tafsir dan fikih klasik, prinsip al-‘ibrah bi-umûmi al-lafzh (pemaknaan tekstual), lebih dominan. Dengan ... Read More »

Kaedah Ushul Yang Diselewengkan

  Seri Counter Fikih Kebinekaan. Artikel ke 41.   Dalam buku fikih kebinekaan halaman 109, Muhammad Azhar berkata:   Dengan berbasis pada epistemologi keilmuan Islam kontemporer di atas, maka produk fikih kebinekaan juga harus menyesuaikan dengan landasan epistemologis tersebut. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa epistemologi Islam klasik lebih bersifat—meminjam format filsafat Platonian—idealistik-ontologik-metafisik, maka pada umumnya, produk fikih yang dihasilkan cenderung ... Read More »

Formalisasi Hukum Islam Sama Artinya Kembali Ke Masa Lalu?

    Seri Counter Fikih Kebinekaan. Artikel ke 40. Pada halaman 107, Muhammad Azhar berkata:   Pertama, pendekatan struktural-formalistik-sistemik, di mana kelompok pertama ini tercermin dari isu penerapan syariat Islam, khilafah dan sejenisnya. Pendekatan yang digunakan kelompok pertama ini cenderung bersifat tekstual-normatif-monolitik serta penuh dengan romantisisme kejayaan Islam masa lalu. Perlu dicermati bahwa pendekatan pertama ini memiliki kelemahan antara lain: ... Read More »

Teks Akidah Pun Ahistoris?

    Seri counter buku fikih kebinekaan. Artikel ke 39.   Di halaman 107, Muhammad Azhar berkata:   Padahal semua penafsiran Al-Quran umumnya bersifat lokal, temporal bahkan prosedural-institusional (termasuk pelbagai institusi syariah dan khilafah). Belum lagi semakin berjaraknya (ahistoris) teks-teks akidah, fikih, tafsir klasik, maka semakin berjarak pula antara idealitas teks dimaksud dengan kondisi kekinian. Bukankah semua teks-teks Islam klasik ... Read More »

Nilai-nilai Syariah Umumnya Bersifat Universal?

  Seri counter fikih kebinekaan. Artikel ke-38 Di buku fikih kebhinekaan halaman 107, Muhammad Azhar berkata: Agar kitab suci Al-Quran tidak sekadar menjadi pajangan di rumah-rumah keluarga Indonesia yang mayoritas muslim. Maka aplikasi nilai-nilai syariah yang umumnya masih bersifat universal dan sedikit yang partikular dalam Al- Quran, bila dikerucutkan, secara umum menampilkan dua versi pendekatan. Pertama, pendekatan struktural-formalistik-sistemik, di mana ... Read More »