Tuesday, April 7, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Asbabunnuzul, Dialektika Materialis dan Dekonstruksi Al-Quran

gfsahj

 

Menurut Amin Abdullah, al-Quran turun di ruang waktu tertentu. Ia turun di budaya dan sosial politik Arab masa lalu. Untuk memahami nas al-Quran, harus paham terhadap azbabunnuzul sebagai bagian dari konteks Arab pada waktu ini.

 

Tentang pentingnya azbabunnuzul, beliau menyatakan:

Adapun yang disebut dalam kategori kontekstualitas adalah mereka yang menekankan betapa pentingnya memahami konteks sejarah, sosial dan budaya dari etika dan hukum (ethico-legal) dari sisi al-Quran dan berikut khazanah tafsir yang menyertainya sepanjang zaman. Mereka menekankan betapa pentingnya memahami muatan isi etika dan hukum al-Quran dalam cahaya sinar konteks politik, social, sejarah, budaya dan ekonomi pada saat ia diturunkan, kemudian diinterpretasikan/ditafsirkan dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu mereka berpendapat adanya kebebasan yang tinggi bagi para cerdik cendekia dan ulama setiap masa yang dilalui sejarah peradaban Islam, lebih-lebih era modern sekarang ini, untuk menentukan apa dan mana saja yang diyakini atau dianggap sebagai hal yang tidak tetap (unchangeable/al-mutaghayyirat) serta apa dan mana saja yang diyakini dan dianggap sebagai hal yang tetap (changeable/ats-tsawabit) dalam wilayah muatan dan ini etika dan hukum. (Fikih Kebhinekaan: 54-55)

 

Kemudian di halaman 60 juga ada ungkapan senada sebagai berikut:

Oleh karenanya, bagi para penafsir kontekstual progresif, arti dan peran asbabunnuzul menjadi sangat penting. Konteks sosial dan budaya saat pewahyuan sangat penting. (Fikih Kebhinekaan: 60)

 

Perkataan mengenai urgensi asbabunuzul tersebut masih diulang beberapa kali di lembaran setelahnya. Benarkah sedemikian penting asbabunnuzul?

 

Jik kita membaca kitab turas seperti kitab al-Itqan karya Imam Suyuthi, kita akan mendapatkan beberapa hikmah mengenai pentingnya asbabunnuzul, di antaranya untuk membantu memahami nas dan juga membuka hikmah atas suatu nas. Selain imam Suyuthi, para ulama ushul juga berpendaat senada, bahwa asbabunnuzul dapat membantu dalam memahami nas.

 

Hanya saja, asbabunnuzul ini bukan segala-galanya. Hal ini mengingat bahwa tidak semua ayat al-Quran mempunyai asbabunnuzul. Terkait hal ini, imam Suyuti berkata berpendapat bahwa ayat al-Quran dibagi menjadi dua, pertama yang memang ada asbabunnuzulnya dan kedua ayat-ayat yang tidak memiliki asbabunnuzul.

 

Untuk ayat yang mempunyai asbabunnuzul, hokum yang berlaku tidak khusus untuk person atau peristiwa tertentu saja, namun hukum berlaku umum. Di sini yang digunakan adalah kaedah:

العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب

Artinya: Ibrah (ketetapan hukum) diambil dari keumuman lafal dan bukan dari kekhususan sebab turunnya ayat.

 

Jika sebatas ini saja, apa yang disampaikan oleh Amin Abdullah benar adanya. Namun yang ingin ia sampaikan sesungguhnya lebih dari ini. Tulisan terkait sosio kultural bahasa dan budaya Arab dianggap mempunyai andil penting dalam “pembentukan” al-Quran. Perhatikan nas berikut:

 

Adalah Nasr Hamid Abu Zaid, lewat perspektif kajian linguistik, budaya dan sejarah, yang menegaskan bahwa al-Quran tidak dapat dipsahkan dari fenomena budaya dan sejarah arab pada saat al-Quran diturunkan (muntaj ats-tsaqafi, produk budaya). Bahasa lain dari apa yang biasa dan umum digunakan dalam ulumul quran yaitu azbabunnuzul (sebab-sebab diturunkannya al-Quran). . (Fikih Kebhinekaan: 50)

 

Di sini ada semacam ada pengakuan mengenai terjadinya dialektika antara realitas social, politik dan budaya dengan nas al-Quran. Jadi, dia ingin membuktikan bahwa al-Quran sebagai produk budaya dengan keberadaan asbabunnuzul itu. Unsur realitas social dalam pembentukan suatu pemikiran, merupakan cirri khas dialektika materialis. Di sini, realitas dianggap segala-galanya. Unsure materi mempunyai andil besar dalam segala tindak tanduk manusia. Bahkan al-Quran sebagai kitab suci pun tidak lepas dari pengaruh dialektika social ini.

 

Benarkan demikian? Tentu saja tidak. Al-Quran adalah kalamullah yang azal. Sebelum budaya Arab ada, al-Quran dengan lafal dan makna sudah ada. Bahkan sebelum alam raya ini ada, al-Quran sudah ada. Model dialog pada ayat al-Quran yang terkadang memberikan jawaban atas peristiwa tertentu itu, sesungguhnya sudah ada sebelum orang itu bertanya. Artinya bahwa peristiwa tertentu itu, bukan menjadi sebab terbentuknya ayat al-Quran. Sekali lagi, ini karena sifat al-Quran yang azal baik dari sisi lafal maupun maknanya. Dalam kitab Majmu Fatawa, Ibnu Taimiyah berkta, “Istidlal dengan al-Quran sangat bergantung pada keyakinan seseorang bahwa lafal al-Quran berasal dari Allah, kemudian ia paham mengenai apa yang dimaksud dari lafal tersebut”.

Bukti bahwa al-Quran adalah kalamullah yang azal, di antaranya sebagai berikut:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Quran pada lailatul qadar“. QS. al-Qadar: 1)

 

Menurut Ibnu Abbas bahwa ayat al-Quran turun secara keseluruhan di langit pertama pada malam lailatul qadr. Kemudian ayat al-Quran turun secara periodik kepada nabi Muhammad selama 23 tahun. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa al-Quran pertama kali turun di Baitul Izza, lalu turun ke bumi secara bertahab.
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”(At-Taubah: 6).

 

Ayat ini secara tegas menerangkan bahwa al-Quran adalah kalamullah. Kalamullah bearti sifat allah. Allah sendiri qadim, maka sifat Allah juga harus qadim. Karena al-Quran adalah sifat Allah bearti ia qadim. Jika ia qadim, bearti keberadaan al-Quran bersama dengan keberadaan Allah. Artinya al-Quran yang berbahasa Arab, baik lafal dan maknanya, sudah ada sejak azal. Ia ada sebelum bahasa Arab dan kondisi sosial budaya politik bangsa Arab ada. Bahkan al-Quran sudah ada sebelum alam raya seisinya itu ada.

 

Selain itu, ayat di atas, Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah. Wahtu artinya firman Allah. Jika ia firman Allah, bearti ia bukan makhluk. Jika ia bukan makhluk bearti ia qadim. Jika ia qadim, bearti ia telah ada jauh sebelum langit dan bumi ini diciptakan. Ia ada bersama denga Allah Sang Pencipta.

 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (Al-Baqarah: 185).

 

Ayat di atas menggunakan kata أُنْزِلَ yang artinya “diturunkan” itu artinya al-Quran sudah ada sebelum bangsa Arab itu ada. Jadi, Allah tinggal menurunkan al-Quran sesuai dengan tempat dan waktu yang Ia kehendaki.

 

Sebenarnya, asbabunnuzul sebagaimana yang dikatakan Amin Abdullah sekadar sebagai pintu masuk menuju makna lain yang lebih esensial. Ia sekadar legitimasi awal mengenai model penafsiran al-Quran secara bebas. Menurutnya al-Quran turun dalam konteks budaya masa lalu dan dalam kodisi sosial politik yang berbeda. Karena saat ini kondisi sudah berubah, maka perlu kiranya menafsirkan al-Quran sesuai dengan konteks kontemporer. Inilah maksud sesungguhnya dibalik jargon asbabunnuzul itu. Perhatikan kalimat berikut:

 

Asbabunnuzul bagi para mufassir kontekstual progresif perlu melibatkan pemaknaan arti ayat-ayat al-Quran (dan juga hadis) dalam sinaran konteks perkembangan nilai-nilai baru-modern, seperti hak asasi manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini (fikih kebbhinekaan: 61)

Dalam paragraph lainnya, ia menyatakan sebagaiberikut:

Mereka menekankah betapa pentingnya memahami muatan isi etika dan hukum al-Quran dalam cahaya sinar konteks politik, sosial, sejarah, budaya dan ekonomi pada saat ia diturunkan, kemudian diinterpretasikan/ditafsirkan dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu mereka berpendapat adanya kebebasan yang tinggi bagi para cerdik cendekia dan ulama setiap masa yang dilalui sejarah peradaban Islam, lebih-lebih era modern sekarang ini, untuk menentukan apa dan mana saja yang diyakini atau dianggap sebagai hal yang tidak tetap (unchangeable/al-mutaghayyirat) serta apa dan mana saja yang diyakini dan dianggap sebagai hal yang tetap (changeable/ats-tsawabit) dalam wilayah muatan dan ini etika dan hukum.

 

Yang saya garis bawahi di sini adalah kalimat berikut:

Dengan beigitu mereka berpendapat adanya kebebasan yang tinggi bagi para cerdik cendekia dan ulama setiap masa yang dilalui sejarah peradaban Islam, lebih-lebih era modern sekarang ini, untuk menentukan apa dan mana saja yang diyakini atau dianggap sebagai hal yang tidak tetap (unchangeable/al-mutaghayyirat) serta apa dan mana saja yang diyakini dan dianggap sebagai hal yang tetap (changeable/ats-tsawabit) dalam wilayah muatan dan ini etika dan hukum.

 

Pertanyaannya, apa itu tsawabit dan apa itu mutaghayyirat?

Para ulama ushul mengatakan bahwa yang disebut dengan tsawabit adalah ayat-ayat qatiyyat yang mempunyai satu makna saja. Karena ia sekadar satu makna, maka tidak ada tafsiran lain selain apa yag langsung kita pahami dari nas.

 

Tsawabit ini sering juga disebut dengan istilah qat’iyyat, atau ayat-ayat al-Quran yang sifatnya qat’iy. Qat’iyyat ini dibagi menjadi tiga macam, pertama terkait dengan akidah, kedua terkait dengan akhlak dan ketika terkait dengan muammalah dunyawiyyah.

 

Di antara ayat qat’iy yang terkait dengan akidah contohnya adalah surat al-ikhlas:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿

Artinya: 
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

 

Ayat ini disebut dengan tsawabit atau qat’iyyat. Bahwa Allah hanya satu, tidak bisa ditafsirkan ulang. Sejak kapanpun, dalam kondisi apapun, bagaimanapun perubahan dunia, tidak dapat merubah konsep keesaan Allah. Jadi, ayat tsawabit dalam akidah ini sama sekali tidak bisa dirubah.

Atau ayat-ayat yang terkait dengan alam ghaib seperti surg, neraka, kiamat dan lain sebagainya. . Ia adalah urusan akidah yang tidak bisa ditafsirkan ulang. Ia adalah ayat-ayat yang tsawabit atau qatiyyat.

Kedua terkait dengan muammalah dunyawiyah, contoh ayat waris:

 

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوۡلَـٰدِڪُمۡ‌ۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِ‌ۚ;

Artinya: Allah perintahkan kamu mengenai (pembagian harta pusaka untuk) anak-anak kamu, yaitu bagian seorang anak lelaki menyamai bagian dua orang anak perempuan….(Q.S. An-Nisa: 11).

Siapapun yang membaca ayat ini langsung paham bahwa bagian laki-laki menyamai dua bagian perempuan. Atau 2 banding 1. Ayat ini tidak bisa dipahami dengan makna lainnya. Karena ia hanya mempunyai satu makna saja, maka ini yang disebut dengan ats-tsawabit atau al-Qat’iyyat.

 

Contoh dalam akhlak:


لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan mizan (neraca, keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Qs. al-Hadid/57: 25)

 

Ayat di atas memerintahkan kita berlaku adil. Di ayat lain Allah berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )النحل : 90

 

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs. an-Nahl: 90)

 

Ayat di atas memerintahkan kita untuk selalu berbuat adil kepada siapapun juga. Meski dunia berubah dan masyarakat semakin modern, keadilan tidak bisa diganti dengan kezhaliman. Karena ia sifatnya pasti dan tidak bisa dirubah, maka ia disebut dengan ats-tsawabit tau al-Qat’iyat.

 

Hal-hal yang sifatnya tsawabit dan tidak bisa dirubah tadi, oleh Amin Abdullah dimentahkan. Seluruh ayat al-Quran dapat ditafsirkan sesuai dengan konteksnya masing-masing. Tsawabit dan mutagayyirat bisa berubah sesuai dengan kehendak mujtahid. Jika demikian, maka terkait keesaan Allah bisa ditafsirkan ulang. Demikian juga dengan surga, neraka, kiamat dan lain sebagainya bisa berubah maknanya sesuai dengan kebebasan mujtahid.  Shalat, puasa, haji, waris, hudud, qisah dan semua ayat-ayat yang sifatnya tsawabit bisa berubah makna sesuai dengan konteks kontemporer. Keadilan, kejujuran, kedermawanan, kesopanan, kebersihan, dan semua etika Islam yang selama ini dianggap tsawabit bisa dirubah sesuka hati.

 

Ini dikuatkan dengan perkataan beliau di paragraph lainnya:

Dengan begitu, makna ats-tsawabit dan al-mutaghayyirat atau qatiy dan zhanniy juga perlu dirumuskan ulang sesuai dengan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan (Fikih Kebhinekaan: 61)

 

Jika al-Quran bisa berubah sesuai ruang waktu, sesuai konteks budaya dan kebebasan mutlak mufassri tanpa ada batasan yang jelas, lantas apa yang tertinggal dari al-Quran? Pandangan seperti ini sesungguhnya ingin menghancurkan al-Quran secara total. Pada akhirnya umat “membuang” jauh-jauh kitab suci dan menggantinya dengan pemikirannya sendiri yang konon lebih modern.

 

Model tafsir seperti ini akan membenarkan semua model penafsiran tanpa ada standar yang jelas. Mujtahid punya kebenaran mutlak atas apa yang dia maknai. Inilah sesungguhnya hermeneutika yang pada akhirnya bertujuan untuk menghancurleburkan kitab suci al-Quran. Wallahu alam.

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

three × 3 =

*