Thursday, June 20, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Apakah Iman Bertambah dan Berkurang

Seri Syarah HPT Bab Iman.
Artikel ke-46

الإِيْمَانُ بِا للهِ عَزَّ وَجَلَّ

يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِا للهِ رَبِّنَا ( 4) وَهُوَ الْإِلَهُ الْحَقُّ الَّذِى خَلَقَ كل شّيْئٍ وَهُوَ الواَجِبُ الوُجُوْدِ ( 5) وَ اْلأَوَّلُ بِلاَ بِدَايَةٍ وَاْلآخِرُ بِلاَ نِهَايَةٍ ( 6) ولاَ ( يُشْبِهُهُ شَيئٌ مِنَ الكَائِنَاتِ ( 7) الاَحَدُ فِىأُلُوْهِيَّتِهِ وَصِفاَتِهِ وَ اَفْعَالِهِ ( 8
( اَلْحَىُّ القَيُّوْمُ ( 9)السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ( 10 ) وَهُوَ عَلَى آُلَِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ( 11 إِنَّمَا اَمْرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ آُنْ فَيَكُوْنُ ( 12 ) وَهُوَ عَلِيْمٌ بِمَايَفْعَلُوْنَ ( 13 ) اَلْمُتَّصِفُ بِالْكَلاَمِ وَآُلِّ آَمَالٍ. المُنَزَّهُ عَنْ آُلِّ نَقْصٍ وَمُحَالٍ ( 14 ).( يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ. بَِيَدِهِ اْلأَمْرُ آُلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ ( 15
4

IMAN KEPADA ALLAH YANG MAHA MULIA
Wajib kita percaya akan Allah Tuhan kita (4). Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang pasti adanya (5). Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan (6). Tiada sesuatu yang menyamai-Nya (7). Yang Esa tentang ketuhanan-Nya (8). Yang hidup dan pasti ada dan mengadakan segala yang ada (9). Yang mendengar dan yang melihat (10). Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu (11). Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka
jadilah sesuatu itu (12). Dan dia mengetahui segala sifat kesempurnaan. Yang suci dari sifat mustahil dan segala kekurangan (14). Dialah yang menjadikan sesuatu menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya dan kepada-Nya akan kembali (15).

Sebelumnya telah kami sampaikan bahwa para ulama kalam dari kalangan ahli sunnah wal jamaah seperti imam baqilani, imam haramain, imam ghazali, imam razi dan lainnya menyatakan, makna iman adalah percaya. Atau iman adalah:
التصديق بكل ما عُلم بالضرورة مجيءُ الرسول به ضرورةً
Percaya dengan semua yang dibawah oleh para rasul.
Karena ia merupakan kepercayaan, maka tempatnya di dalam hati manusia. Jika seseorang dengan lisannya menyatakan iman, mengucapkan syahadat dan bahkan mengerjakan rukun Islam yang lima, namun hatinya inkar dan tidak mengakui keberadaan Allah, tidak mengakui dengan apa yang dibawa oleh para rasul, maka ia tidak dianggap sebagai seorang mukmin. Ia masuk dalam golongan orang munafik. Hal itu karena perbuatan yang dia lakukan, bertentangan dengan apa yang ada dalam hatinya.

Dalam kitab Hasyiyah al-Mihi Asy-syaiti ala syarhi ar-Ramali Lisittina Masalah al Wajibah disebutkan bahwa keimanan harus dibuktikan dengan pengucapan dua kalimat syahadat. Syahadat menjadi syarat sahnya iman. Jika seseorang mengaku beriman, namun belum bersyahadat, maka secara otomatis, syarat dari keimanan belum terpenuhi. Ia belum bisa dikatakan sebagai orang yang beriman.
Bagaimana dengan amal perbuatan? Menurut paham ahli sunnah bahwa amal perbuatan merupakan buah dan implikasi dari keimanan. Ia menjadi bukti ril akan kwalitas keimanan seseorang. Jika seseorang muslim tunduk dan mengikuti perintah Allah, menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya, maka dia dianggap mempunyai kesempurnaan iman. Sebaliknya jika bersyahadat, namun perilakunya tidak mencerminkan ajaran Islam, maka ia dianggap sebagai seorang pelaku maksiat. Termasuk di dalamnya adalah para pelaku dosa besar.
Paham ahli sunnah dari kalangan Asyariyah dan maturidiyah menyatakan bahwa maksiat dan pelaku dosa besar, tidak mengeluarkan seseorang dari keimanan. Kelak di hari kiamat, ia akan dihisab sesuai dengan amal perbuatannya. Ia akan masukneraka sesuai dengan kadar maksiat yang ia lakukan di dunia. Setelah itu, dengan izin dan kehendak Allah, ia dapat masuk ke dalam surge.

Tentu ini berbeda dengan kalangan muktazilah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar, yang posisinya antara iman dan kafir. mereka menyebutnya dengan manzilatun baina manzilatain. Di dunia, karena mereka masih bersyahadat, maka ia tetap dihukumi sebagai seorang muslim. Hanya saja, kelak ia akan masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.

Berbeda juga dengan kalangan khawarij yang menyatakan bahwa amal perbuatan merupakan bagian tak terpisahkan dari iman. Seorang muslim yang tidak melaksanakan syariat islam dan melakukan dosa besar, maka ia telah keluar dari keimanan. Ia menjadi orang kafir. karena ia telah keluar dari keimana, maka ia layak untuk diperangi.
Sebagaimana kita sebutkan sebelumnya, iman adalah percaya. Jika ia adalah sifat percaya, apakah ia dapat bertambah dan berkurang? Sebagian ulama dari kalangan Ahli Sunnah seperti Imam Jurjani sebagaimana yang tertulis dalam kitab Syarhu al-Mawaqif, bahwa iman tidak dapat bertambah atau berkurang. Alasannya adalah bahwa iman merupakan kepercayaan atas apa yang dibawa oleh para rasul. Kepercayaa yang terdapat dalam hati manusia, adalah sifat tertentu. Sebagai sifat, tentu ia tidak bisa bertambah atau berkurang. Kebalikan dari percaya adalah tidak percaya. Jika iman berkurang, bearti ada unsur tidak percaya, dan ini mustahil.
Menurut imam Abu Hanifah bahwa iman tidak bertambah dan berkurang, karena iman merupakan nama dari sebuah keyakinan pasti yang sampai derajat tunduk. Dan ini tidak mungkin bisa bertambah atau kurang.
Menurut Imam Idhuddin al-Iji dalam kitab al-Mawaqif menyatakan bahwa iman sebagai sifat dan kepercayaan atas apa yang dibawa oleh para nabi, bisa bertambah dan berkurang. Bertambah bearti kepercayaan dirinya semakin kuat, sementara berkurang, bearti nilai kepercayaan yang ada dalam dirinnya semakin lemah. Berkurang, bukan bearti mundur ke belakang dan berubah menjadi inkar. Berkurang bearti ia masih percaya, namun kualitasnya lebih rendah.
Ulama yang meyakini bertambah dan berkurangnya iman, menggunakan dalil naqli sebagai berikut:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Artinya: Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya). (QS. Al-Anfal: 2)
قال أولم تؤمن قال بلى ولكن ليطمئن قلبي
Artinya: “Allah berfirman- ‘Apakah engkau belum percaya?’ Kemudian Nabi Allah Ibrahim as menjawab: ‘Aku telah percaya. Akan tetapi hal itu agar bertambah tetap hati saya.” (Qs. al-Baqarah ayat: 260).

Dua ayat di atas, secara sharih memberikan petunjuk mengenai kemungkinan bertambahnya iman seseorang. Menurut Imam Subki dalam kitab Tabaqat Syafiiyah, bahwa perbedaan pendapat tersebut muncul dari perbedaan mereka dalam memandang makna iman, yaitu apakah iman bisa terbagi? Ataukah iman merupakan satu esensi saja yang tidak dapat terbagi? Bagi yang menyatakan bahwa iman merupakan sesuatu yang bisa terbagi (yatajazza’), maka ia bisa bertambah dan berkurang. Sementara bagi mereka yang berpendapat bahwa iman merupakan satu esensi saja, yaitu sifat dari kepercayaan, maka ia tidak bisa bertambah dan berkurang.
Imam Amidi dalam kitab al-Ibkar menyatakan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, dengan melihat hasil atau implikasi lain dari iman. Implikasi lain itu berupa amal perbuatan seseorang. Jika ia banyak melakukan amal salih dan ketaatan, bearti imannya bertambah. Jika sebaliknya, dengan banyak melakukan maksiat, bearti imannya berkurang.
Dalam kitab syarah Shahih Muslim, imam Nawawi berpendapat sebagai berikut:
Inilah pendapat mereka tentang tetapnya iman. Pendapat mereka ini nampaknya bagus. wallahu a’lam. Hanya saja, menurut pendapat saya, kepercayaan seseorang bisa bertambah dan berkurang. Hal ini rasional dan juga banyak dalil sebagai bukti atas persoalan tersebut. Imannya para siddiqin, lebih kuat dibanding iman selainnya. Iman mereka tidak tercampuri dengan keraguan sedikitpun. Iman mereka juga tidak mudah goncang oleh apapun juga. Dalam kondisi apapun, hati mereka selalu dipancari dengan cahaya iman.
Bagi orang yang baru masuk Islam, atau belum lama berada dalam ajaran Islam, tentu berbeda kualitas imannya dibandingkan dengan para siddiqin. Ini adalah kondisi ril yang tidak bisa dinafikan. Semua tau bahwa imannya Abu Bakar as-Sidik berbeda dengan imannya orang biasa. Oleh karena itu, imam Bukhari dalam kitab shahihnya menyatakan:
: قال ابن أبي مليكة: أدركت ثلاثين من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف النفاق على نفسه ما منهم أحد يقول إنه على إيمان جبريل وميكائيل
Berkata Ibnu Abi Malikah, Saya menjumpai 30 sahabat nabi Muhammad saw. Mereka semua takut dalam dirinya terjangkiti sifat nifak. Tidak ada dari mereka yang menyatakan bahwa iman mereka seperti imannya malaikat Jibrtil dan Mikail.
Hanya saja, yang umum dipegang dan dirajihkan oleh mayoritas ulama ahli sunnah wal jamaah dari kalangan madzhab Asyari dan Maturidi adalah bahwa iman seseorang, dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan argumen di atas. Juga ditambah dengan beberapa hadis nabi berikut ini
. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لو وزن إيمان أبي بكر بإيمان هذه الأمة لرجح
Rasulullah saw juga bersabda, Jika Iman Abu Bakar ditimbang dengan imannya umat ini, maka akan lebih berat imannya Abu Bakar. (HR. Baihaki)
Bertambahnya iman, indikasinya adalah bertambahnya amal salih dan ketaatan kepada Allah, sementara indikasi berkurangnya iman adalah berkurangnya amal salih dan ketaatan kepada Allah. Kurangnya iman juga bisa dilihat dari banyaknya seseorang melakukan tindakan dan prilaku maksiat.
Dalam kitab Ithaful Murid Bijauharati Attauhid dikatakan sebagai berikut:
Perbedaan tingkat keimanan bukan bearti ia menjadi tidak beriman, namun dengan kuat atau lemahnya kualitas iman. Keyakinan sendiri punya tingkatan, ada keyakinan yang sangat kuat, ada pula keyakinan yang sangat lemah. Keyakinan yang kuat, tentu lebih berbeda dibandingkan dengan yang lemah. Keyakinan yang didasari dari argumen, tentu lebih jelas dan kuat disbanding kepercayaan tanpa argument.

Imam Sawi penyatakan sebagai berikut:
Sesungguhnya amal perbuatan merupakan bukti kesempurnaan iman. Barangsiapa yang meyakini dengan hatinya, kemudian mengucapkan dengan lisannya, namun tidak mengamalkan dengan anggota badannya, maka ia tetap mukmin namun imannya kurang.
Beiau juga menyatakan, “Jika iman tidak bertambah dan berkurang, mestinya sama atara imannya orang fasik dan pelaku maksiat, dengan imannya para nabi dan malaikat. Dan pendapat ini tidak bisa diterima.
Menurut abdussalam bin Ibrahim al-Maliki al-Laqqani dalam kitab Ihtaful Murid Syarhu Jauharati at-Tauhid menyatakan sebagai berikut:
Yang rajah adalah pendapat yang menyatakan bahwa iman bisa bertambah. Para ulama menyatakan bahwa iman dapat bertambah dengan tambahnya ketaatan dengan menjalankan perkara yang diperintahkan Allah kepadanya, dan menjauhi segala larangannya. Iman bisa berkurang, dengan kurangnya ketaatan dia kepada Allah. Hanya saja, berkurangnya iman tidak terkait dengan imannya para nabi dan malaikat. Karena keimanan mereka tidak pernah berkurang. Pernyataan tersebut merupakan pendapat yang dirajihkan oleh jumhur ulama Asyari.
Menurut Imam razi, bahwa sesungguhnya perbedaan ulama tersebut adalah khilaf lafzhi yang merupakan cabang dari bahasan keimanan. Jika kita katakana bahwa iman adalah keyakinan, maka ia tidak dapat bertambah dan berkurang. Jika yang dimaksudkan adalah amal perbuatan, maka ia bisa bertambah dan berkurang. Dalam kitab al-mawaqif dikatakan sebagai berkut: yang benar adalah bahwa keyakinan bisa bertambah dan berkurang.
Dalam kitab Ithaful Murid dikatakan sebagai berikut: Yang benar adalah bahwa keyakinan yang ada dalam hati dapat bertambah dan berkurang dengan banyak tidaknya nazhar dan kejelasan argumentasi. Oleh karena itu, imannya para siddikin lebih kuat dibandingkan dengan iman orang biasa, karena iman mereka tidak ada keraguan lagi.
Terkait bertambah atau berkurangnya iman, dapat dilihat dari diri sendiri. Terkadang ia merasa bahwa kepercayaan yang ada dalam hatinya lebih tebal dan keyakinannya lebih kuat. Namun di lain waktu, kadang ia merasa bahwa keyakinannya melemah.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × 4 =

*