Saturday, October 19, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Ta’lil Al-Adah dan Ibadah

Kenapa Umat Islam Mencium Hajar Aswad
Sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa sebagian besar ulama berpendapat, untuk urusan ibadah tidak perlu dicarikan ta’lilnya. Hanya saja, ada sebagian kecil ulama yang memberikan ta’lil baik dalam urusan ibadah maupun al-adah. Di antara ulama tersebut adalah Ibnu ad-Daqiq al-Id. Menurutnya bahwa illat dalam perkara ibadah juga dilakukan oleh para sahabat. Beliau memberikan contoh Umar bin Khathab yang mencium hajar aswad karena perintah Rasulullah saw. Selain itu, mencium hajar aswad sebagai upaya untuk menghilangkan sifat pesimistik yang dulu berlaku di zaman Jahiliyah. Hal ini karena dulu pada zaman jahiliyah, orang musyrik menyembah berhala dan menganggap berhala mempunyai kekuatan dan pengaruh kepada manusia. Jadi mencium hajar aswad ini sebagai simbul taat mutlak atas perintah Allah swt.

Pendapat ini juga diamini oleh Ashananiy. Menrutu beliau, ibadah haji yang oleh sebagian orang dianggap sebagai ibadah ta’abudi dan tidak diketahui illatnya secara pasti, sesungguhnya hikmat dan illatnya dapat diketahui. Pendapat ini juga diamini oleh Imam Addahlawi. Beliau banyak sekali memberikan ta’lil dan mengupas hikmah atas perbuatan yang sifatnya ibadah, apalagi yang terkait dengan al-adah.

Selain mereka, ada Ibnul Qayyim yang juga menyebutkan illat hukum dan hikmah atas perkara ibadah dalam kitab-kitabnya, seperti tulisan-tulisannya dalam buku Miftahu Dar as-Sa’adah. I’lamul muwaqqiin, dan Syifaul Ghalil. Menurut beliau bahwa semua hukum syariat pasti mempunyai hikmat dan illat yang rasional. Hanya mungkin sebagian orang tidak mengetahui ilat hukum dan hikmah ibadah tersebut.

Menurut beliau bahwa seluruh hukum Allah diturunkan dengan tujuan tertentu meski barangkali tidak diketahui oleh hamba secara rinci. Ketidaktahuan hamba atas illat hukum dalam hukum syariat, tidak bisa dijadikan sebagai argumen bahwa nas tersebut tidak mengandung illat atau hikmah. Imam syathibi sendiri telah menerangkan panjang lebar terkait illat dalam adah dan ibadah. Bahkan beliau juga memberikan banyak contoh terkait illat ibadah.

Ta’lil sangat nampak dalam persoalan hukum kriminal, seperti untuk memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan dan sebagai pelajaran bagi orang lain agar tidak melakukan perbuatan yang sama. Oleh karena itu Ibnul Qayyim menentang keras mereka yang menolak adanya ta’lil dalam urusan hukum pidana. Menurut beliau bahwa jenis hukuman telah ditentukan oleh Allah Dzat Yang Maha Ghaib. Allah Maha Mengetahui atas kadar ukuran dan maslahat bagi hambanya, meski maslahat tersebut tidak diketahui secara pasti oleh manusia.

Ar-Raisuni mempunyai tanggapan lain terkait ta’lil yang sering dilakukan oleh Ibnul Qayyim tersebut. Menurutnya, terkadang Ibnul Qayyim memberikan ta’lilat yang lemah, seperti terkait perbedaan antara kencing bayi laki-laki dan perempuan atau perbedaan antara shalat sirriyah dan jahriyah.

Jika dilihat dari karya Ibnul Qayyim, memang kita akan mendapati sikap Ibnul Qayyim yang sangat jauh dalam meberikat ta’lilat atas berbagai ketetapan hukum syariat, baik yang berkaitan dengan ibadah, muammalah, al-adah, dan lain sebagainya. Contoh Ibnul Qayyim memberikan perbedaan iddah bagi idah orang yang ditinggal mati suaminya selama empat bulan 10 hari. Menurutnya, seorang ibu dalam rahimnya sudah ada janin atau belum, dapat diketahui secara pasti dengan hitungan 4 bulan 10 hari. Menurutnya ini sesuai dengan hikmah Allah untuk hambanya dan juga maslahat bagi hamba sendiri.

Haya yang harus digarisbawahi adalah bahwa upaya mencari ta’lil terhadap nas yang secara sharih belum disebutkan ilat syarinya, merupakan perkara yang sifatnya ijtihadi dan bersifat dzanni. Dengan demikian, belum tentu ijtihad ulama tadi mempunyai keberanan seratus persen. Bisa saja antara satu mujtahid dengan mujtahid lainya dalam satu nas mempunyai pandangan ta’lilat yang berbeda. Selain itu, hasil dari ta’lilat tersebut juga bisa salah dan benar.

=====================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

17 − thirteen =

*