Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Sahabat dan Mujtahid Mutlak

dfsa

 

Sebelumnya saya telah menuliskan mengenai perbedaan mujtahid mutlak dengan mujtahid muqayyad. Mujtahid mutlak yaitu para imam mujtahid yang menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan terkait Quran dan Sunnah, dan mempunyai metodologi  ijtihad sendiri sehingga mereka bisa mengeluarkan hukum fikih secara mandiri. Sementara mujtahid madzhab  atau mujtahid muqayyad, yaitu para mujtahid yang berusaha sekuat tenaga untuk menggali hukum fikih, namun secara metodologi terikat dengan madzhab tertentu.

 

Dari dua devinisi tadi, yg patut digarisbawahi adalah masalah metodologi ijtihad. Jadi baru dikatakan mujtahid mutlak manakala ia memiliki metodologi ijtihad sendiri. Jika kita melihat pada buku-buku ushul fikih, akan kita temukan mengenai posisi sahabat dalam ranah ijtihad. Sahabat sendiri, oleh para ulama didevinisikan sebagai seorang muslim yang hidup di zaman Nabi Muhammad saw dan berjumpa dengan Nabi serta meninggal dalam kondisi Islam.

 

Sahabat mempunyai banyak kelebihan yang diakui oleh al-Quran maupun Sunnah, di antaranya adalah:

كنتم خير أمةٍ أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله

Artinya : ”Kamu (para sahabat) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT”. (QS. Ali Imran: 110)

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا ۚ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

 

Artinya:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Anfaal: 72]

 

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

Artinya: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

 

Berikut beberapa hadis yang menyatakan mengenai keutamaan para sahabat:

عن أبي سعيد الخدري   قال : قال النبي   : ” لا تسبوا أصحابي فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه ”

 

Dari Abi Said al-Khudriy ra dia berkata, Nabi muhammad saw bersabda, “Janganlah kalian mengumpat sahabatku. Jika saja dari kalian berinfak emas seperti gunung uhud, kalian tidak akan sampai kepada derajat sahabat, setengah pun kalian tidak sampai”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

عن عمران بن حصين   قال : قال النبي   : ” خيركم قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ” .

 

Dari Aamran bin Hushain ra dia berkata, Nabi Muhammad saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya. (HR. Bukhari Muslim)

 

Bagaimana dengan pendapat para imam terkait posisi sahabat dalam berijtihad?

Abu Hanifah berkata, “Jika ada persoalan dan ditemukan dalam kitab Allah, aku akan mengambil dari kitab Allah. Jika tidak ada, maka aku akan mengambil dari sunnah Rasulullah dan atsar yang shahih dari beliau yang dibawa oleh orang terpercaya. Jika aku tidak menemukan jawaban di kitab Allah dan sunnah Rasulullah, maka aku akan mengambil sebagian perkataan para sahabat dan akan meninggalkan perkataan sebagian sahabat lainnya sesuai dengan keinginanku. Selama masih ada sahabat, aku tidak akan keluar dari pendapat sahabat ke pendapat orang lain selain mereka” (Kitab Akhbar Abi Hanifah, karya Ashaimari hal 10).

 

Pendapat Imam Malik

Imam Qarafi dan imam Syathibi menyatakan bahwa imam Malik menggunakan perkataan sahabat sebagai hujjah dalam syariat.

 

Imam Syafii dalam kitab al-Um menyatakan bahwa yang pertama harus dilakukan adalah merujuk kepada kitab Allah. Jika tidak ada,  maka ke sunnah Rasulullah. Jika tidak ada, maka dicari pendapat dari para sahabat. ( al-Um jilid 7 hal 265).

 

Imam Ahmad bin Hambal

Ibnu Hani yang bermadzhab Hambali dalam kitab asunnah mengatakan bahwa mencintai sahabat itu sunnah, mendoakan mereka itu ibadah, mengikuti mereka itu sarana (ibadah), dan mengambil atsar mereka itu sebuah keutamaan.

 

Dari nukilan perkataan para Imam dan ulama di atas, nampak sekali bahwa para Imam menggunakan perkataan perkataan sahabat sebagai hujjah. Memang jika kita buka-buka kitab ushul fikih, masih ada beberap akhilaf, ada yang menjadikannya sebagai hujjah ada yang tidak. Namun secara umum berpendapat bahwa perkataan sahabat adalah hujjah.

 

Biasanya para ulama ushul meletakkan hujjah sahabat setelah hujjah Quran, Sunnah, ijmak dan kiyas. Setelah ini baru masuk pada hujjah yang mukhtalaf fihin, di antaranya adalah perkataan para sahabat ini.

 

Mengapa perkataan para sahabat dijadikan sebagai hujjah? Di antara sebabnya sebagai berkut:

  1. Sahanat adalah mereka yang hidup di zaman rasul, dan pernah berjumpa dg rasul serta meninggal dalam kondiai Islam. Para sahabat menjadi generasi pertama pembawa risalah Islam. Meraka yang menurunkan ilmu Rasulullah saw kepada para tabiin. Dari tabiin di bawa ke generasi selanjutnya.
  2. 2. Para sahabat mengetahui mengenai turunnya hukum syariat. Mereka banyak yang tau tentang asbabunnuzul ayat al-Quran dan asbabul wurud hadis Nabi. Jadi mereka lebih paham mengenai kandungan hukum syariat.
  3. 3. Karena keistimewaan sahabat ini, Imam Malik sampai menjadikan masyarakat madinah sebagai hujjah. Hal itu karena para sahabat pernah hidup di Madinah dan mereka mewarisi perilaku Nabi Muhammad saw.
  4. secara bahasa, al-Quran turun dengan bahasa mereka. Jadi, kemampuan kebahasaan para sahabat bersifat fitrah dan turunan sehingga mampu memahami al-Quran dan sunnah nabi secara baik.
  5. Dalam mengeluarkan pendapat yang tidak ada nasnya dalam al-Quran dan Sunnah, para sahabat pun melakukan ijtihad. Dalam ijtihad ini tentu butuh metodologi sehingga bisa menghasilkan produk hukum yang sesuai. Hanya saja, metodologi ini belum terstruktur rapi dan hanya ada di dalam dada para sahabat. Sederhananya, para sahabat belum menuliskan ilmu ushul fikih secara terstruktur dan komperhensif.

 

Bagaimana dengan mujtahid mutlak? Jika dilihat dari berbagai uraian di atas, nampak sekali perbedaan mendasar antara mujtahid mutlak dengan para sahabat.

  1. Para sahabat dalam ushul fikih masuk dalam ranah hujjah syariyyah, meski dalam konteks yang mukhtalaf fihi.
  2. Yang meletakkan hujjahnya para sahabat adalah para imam mujtahid sendiri. Ini artinya para imam mujtahid meletakkan sahabat jauh diatas kemampuan mereka.
  3. Ini juga bukti bahwa sahabat mempunyai posisi penting dalam beritihad dan merupakan guru dari para mujtahid.
  4. Sementara itu, dalam ushul fikih, para Imam tidak mempunyai posisi apapun selain hanya sebagai seorang yang berijtihad. Pendapat para Imam bukan merupakan hujjah syariyyah.
  5. Kelebihan mujtahid mutlak adalah karena kemampuan mereka meletakkan metodologi ijtihad secara independen. Meskipun, sebagian madzhab, seperti Abu Hanifah, yang menuliskan manhajnya adalah para muridnya.

 

Dari uraian singkat di atas jelas sekali mengenai posisi mujtahid mutalak dengan sahabat. Wallahu alam.

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four + four =

*