Saturday, November 18, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Mujtahid Mutlak dan Mujtahid Muqayyad

dfsa

 

Ijtihad secara bahasa adalah berusaha keras untuk melakukan sesuatu. Secara istilah ijtihad adalah seorang fakih yang meluangkan waktunya dan bekerja keras sekuat tenaga, untuk menggali hukum fikih meski hasilnya sifatnya zhanni.  Hasil dari usahanya tadi tidak harus benar seratus persen. Karena memang bukan tugas seorang mujtahid untuk bisa menghasilkan kebenaran yang bersifat pasti . Oleh karenanya, disebutkan “meski hasilnya zhanni”. Artinya, meskipun hasil ijtihadnya tersebut masih ada kemungkinan salah.

 

Mujtahid ada beberapa tingkatan, di antaranya yang disebut dengan mujtahid mutlak dan mujtahid madzhab.

 

Pertama mujtahid mutlak: yaitu para imam mujtahid yang menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan terkait Quran dan Sunnah, dan mempunyai metodologi  ijtihad sendiri sehingga mereka bisa mengeluarkan hukum fikih secara mandiri. Jadi, kuncinya adalah penguasaan ilmu keislaman dan mempunyai metodologi  ijtihad sendiri. Di antara mereka ini adalah imam Hanafi, Imam Syafii, Imam Laits, Imam Thabari, Imam Hambali, Imam Daud az-Zhahiri, Imam Jakfar Shadiq, Imam Zaid, Imam Malik dan lain sebagainya.

 

Pada awalnya memang banyak sekali terdapat para imam mujtahid mutlak ini. Hanya saja, generasi setelah mereka jarang para imam yang mampu meletakkan metodologi sendiri untuk dijadikan sebagai pedoman dalam sistem penggalian hukum. Oleh karena itu, mujtahid mutlak untuk era setelah sangat sedikit.

 

Di zaman sekarang ini memang ada para Imam Mujtahidin yang mempunyai manhaj sendiri dalam sistem penggalian hukum, seperti Syaih Qaradhawi. Bahkan banyak yang menyatakan bahwa beliau ini mujtahid mutlak. Alasannya bahwa hasil fikih dan ushulnya independen. Meski merujuk kepada buku turas, namun mempunyai kekhasan tersendiri.  Hanya saja ada yang menolak pendapat ini. Meski ia berijtihad secara indepen, namun rujukan metodologi yang digunakan tetap pada para imam madzhab.

 

Kedua; mujtahid madzhab  atau mujtahid muqayyad, yaitu para mujtahid yang berusaha sekuat tenaga untuk menggali hukum fikih, namun secara metodologi terikat dengan madzhab tertentu.  Hasil fikihnya bisa jadi berbeda dengan imam madzhab, namun metodologi yang dipakai adalah metodologi sang Imam. Contohnya dalam madzhab Syafii adalah imam Nawawi, Imam Rafii, Imam Haramain, Imam Subki  dan lain sebagainya.

 

Bagaimana dengan Muhammadiyah? Muhammadiyah mempunyai Majelis Tarjih dan Tajdid. Merekalah yang akan berusaha sekuat tenaga untuk menggali hukum fikih, meski hasilnya zhanni. Majelis Tarjih tidak menginduk kepada madzhab tertentu, juga tidak menggunakan metodologi para imam madzhab secara mentah-mentah. Bahkan Majelis Tarjih meletakkan metodologi sendiri sebagai panduan dalam berijtihad, meski tidak komperhensif. Jadi, di sini anggota Majelis Tarjih secara bersama-sama menempatkan dirinya sebagai para mujtahid mutlak. Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open