Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Maqashid Syariah Dan ilmu Ushul Fikih

hfaju

 

Dalam diskusi WA, ada yang menanyakan, apakah maqashid syariah adalah ilmu yang independen, ataukah ia bagian dari ilmu ushul fikih?

 

Jawabnya adalah sebagai berkut:

Sesungguhnya Ilmu ushul fikih berkembang sejak awal, yaitu sejak masa Rasulullah saw. wafat. Ini terkait dengan persoalan umat yang tidak terbatas, sementara teks Quran dan sunnah sangat terbatas. Banyak persoalan yang membutuhkan ijtihad sehingga umat dapat memperoleh jawaban serta solusi alternatif atas berbagai persoalan umat.

 

Untuk menggali hukum baik dari Quran maupun sunnah, membutuhkan manhaj atau metodologi yang jelas. Metodologi ini kelak disebut dengan ilmu ushul fikih. Hanya saja, ilmu ini baru menjadi sebuah ilmu yang independen, tertulis secara rapi dan sistematis di tangan imam Syafii dengan kitab Arrisalahnya. Jadi, Arrisalah ini merupakan pioner awal ilmu ushul fikih. Dari sini lantas terdapat perkembangan, penambahan dan menyempurnaan oleh generasi setelahnya.

 

Sangat banyak yang dibahas oleh Imam Syafii dalam kitab ini. Namun yang paling mendasar adalah terkait dengan kajian ilmu bahasa, utamanya ilmu semantik. Dari sini, muncul teori-teori kebahasaan yang kemudian dijadikan sebagai pisau analisis untuk menggali berbagai hukum dari al-Quran dan sunnah.

 

Teori kebahasaan ini lantas disebut dengan ilmu dilalah atau ilmu semantik. Dari sini, banyak berkembang mengenai kaedah ushulyyah lughawioiiyah. Kaedah ini sering disebut dengan lubbul ushul, atau inti dari pada ilmu usul fikih.

 

Selain terkait dengan kaedah bahasa, imam Syafii memang telah membahas tentang maslahat. Namun dari sisi porsi dangat minim. Maslahat atau khususnya ilmu maqashid baru dibahas dengan pembagian secara agak mendetail, oleh Imam Haramain. Beliau ini sudah membagi maqashid menjadi dhauriyat al-Khamsah. Kemudian dilanjutkan oleh imam Ghazali, ‘Iz Ibnu Abdussalam dan puncaknya pada masa Imam Syathibi. Di tangan Syathibi, ilmu ini lebih spesifik dan dikaji secara luas dan mendetail. Bahkan ilmu ini seperti “ilmu baru” yang belum pernah ada sebelumnya.

 

Karena bahasan Syathibi yang sangat luas ini, maka Ibnu Asyur, salah seorang pakar ilmu maqahsid kontemporer mengusulkan supaya ilmu ini menjadi ilmu yang independen dan lepas dari ilmu maqashid. Alasan adalah bahwa bahasan dalam maqashid, berbeda dengan bahasan dalam ilmu ushul fikih. Ilmu ushul fikih terpaku pada kaedah kebahasaan. Sementara ilmu maqashid pada maslahat. Ilmu semantik lebih banyak bergerak dalam ranah teks, sementara ilmu maqashid lebih banyak bergerak dalam ranah konteks. Hasil dari ijtihad ushul fikih ini sifatnya zhanni, sementara hasil ijtihad ilmu maqashidi hasilnya qathiy.

 

Saya sendiri berpendapat bahwa ilmu ushul fikih yang bergerak dalam ranah bahasa, dengan ilmu maqashid yang bergerak dalam ranah maslahat merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Keduanya tetap dari satu rahim “ilmu ushul fikih”. Memang keduanya terdapat perbedaan manhaj, namun demikian tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.Ushul fikih bahasa, sering saya sebut dengan istilah “ijtihad semantik dalam ushul fikih”, sementara ushul fikih maqashidi sering saya sebut dengan “ijtihad maqashidi dalam ushul fikih.

 

Ada kajian ushuliyah yang mau tidak mau kita harus menggunakan kaedah teks, namun sebaliknya ada yang harus menggunakan kedah konteks. Ada kalanya kita harus menggunakan ijtihad semantic, namun ada kalanya kita harus menggunakan ijtihad maqashidi. Ada kalanya, secara teks punya hasil tertentu, namun konteks berbeda sehingga membutuhkan tarjih. Di sini yang dibutuhkan adalah kepiawaian kita dalam menelaah persoalan dan meneliti dalil. Ringkasnya, ilmu maqashid bukan merupakan ilmu yang independen dari ushul fikih. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari ilmu ushul fikih. Wallahu alam.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

3 + twenty =

*