Tuesday, November 13, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Insting dan Akal

 

Jika kita baca Himpunan Putusan Tarjih BAB Iman, kita akan menemukan kalimat berikut ini:

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.
Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.
Yang harus digarisbawahi adalah kata مَعْرِفَةِ  dari kalimat ungkapanberikut ini:
وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا
Dam bahwa an-Nazhar atas alam raya untuk mengetahui Allah hukumnya wajib sesuai syariat.

 

Sebelumnya kami samaikan bahwa akal dimiliki oleh manusia. Selain manusia, ada makhluk lain yang juga mempunyai akal, yaitu jin. Namun karena bahasan kita lebih fokus ke manusi, maka terkait akal pun, tetap akan kita fokuskan ke manusia.

 

Akal yang dapat membedakan antara manusia dengan hewan. Akal yang dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk. Namun jika kita melihat pada binatang, kita akan menemukan bahwa sebagian binatang dapat dilatih untuk melakukan oekerjaan tertentu. Uniknya, ia bias melakukannya,seperti kera yang umum diperintahkan untuk memetik buah kelapa, anjing pelacak, atau hewan-hewan sirkus. Jelas mereka tidak menggunakan akal, namun sekadar insting saja.

 

Instin binatang, kadang bisa membedakan sesuatu yang baik dan buruk, hanya saja bukan terkait dengan perbuatan, namun terkait dengan benda. Kucing dapat mengetahui, mana makanan yang masih baik yang diberikan kepadanya, dan makanan yang basi. Ia akan ambil makanan yang masih baik, dan akan meninggalkan makanan yang sudah basi.

 

Anjing akan mengikuti tuannya yang selama ini memberinya makan. Anjing akan menjauhi orang yang tidak dia kenal. Itu bukan karena ia punya akal, namun karena insting yang Allah berikan kepadanya.

 

Dengan isnting, hewan juga mempunyai kasih saying. Induk hewan, akan sangat saying kepada anak-anaknya. Induk ayam akan marah jika anak kecilnya diganggu. Ia berani melawan siapapun tanpa pandang bulu, demi menjaga anak kecilnya. Demikian juga kucing, akan marah besar manakala anak kecilnya diganggu. Kucing akan mengeok dan mencari anaknya yang dipindahkan tanpa sepengetahuannya. Hewan-hewan itu dengan instingnya, juga akan mencarikan makanan untuk anak-anaknya.

 

Insting, juga mengajari hewan bagaimana menangkap mangsa. Ia tahu, kapan harus menerkam, bersembunyi dan bergerak. Ular paham benar, kapan ia harus memuntahkan racun yang ada dalam mulutnya. Singa tahu, kapan ia harus menggunakan gigi dan kuku tajamnya untuk menyerang lawan.

 

Semua hewan itu bergerak dengan insting, dan bukan akal. Insting adalah sifat bawaan yang diberikan Allah kepada makhluknya. Bedanya dengan akal, ia tidak dapat membedakan baik-buruk dalam suatu perbuatan. Olehkarena itu, al-Quran menggambarkan bahwa seseorang yang tidak menggunakan akalnya, dianggap seperti binatang. Perhatikan firman Allah berikut ini:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابّ‏ِ عِندَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُون‏

Sesungguhnya sejelek-jelek makhluk yang melata di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau menggunakan akal (alladziina laa ya’qiluun).  (QS: Al Anfaal: 22)

أَمْ تحَْسَبُ أَنَّ أَكْثرََهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ  إِنْ هُمْ إِلَّا كاَلْأَنْعَامِ  بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا

Atau adakah engkau menyangka bahawa kebanyakan mereka mendengar atau memahami (ya’qiluun)? Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. (QS: Al Furqan: 44)

 

Implikasi akal sangat jelas. Selain untuk membedakan baik dan buruk atas suatu perbuatan, akal menjadi tempat manusia dan jin mendapatkan beban hukum syariat. Kewajiban melakukan sesuatu, atau larangan untuk meninggalkan sesuatu, karena adanya akal ini. Meski kemudian terdapat perbedaan di kalangan ulama kalam, apakah beban hokum syariat ditentukan oleh akal sebelum syara atau syara sebelum akal. Namun baik muktazilah maupun asyari sama-sama sepakat bahwa akal menjadi sumber dari beban taklif seorang hamba.

 

Oleh karenanya, orang yang hilang akalnya, seperti karena gila, sakit akut, pingsan, tidur dan lainnya, ia tidak memiliki beban hokum syariat. Ketika ia melakukan sesuatu perbuatan diluar kesadaran, maka perbuatannya dimaafkan. Ia tidak dapat dikenai hukuman atas sesuatu yang tidak ia ketahui. Kecuali jika ia sengaja menghilangkan akalnya, seperti mabuk-mabukan, kemudian dalam kondisi mabuk ia meninggalkan hokum syariat, atau melanggar hak-hak orang lain, maka ia berdosa atas apa  yang ia lakukan. Kerusakan yang ditimbulkan akibat prilakunya, meski tidak ia sadari, tetap menjadi tanggungjawanya. Ia tetap berkewajiban untuk menggantinya.

 

Perhatikan ayat berikut ini:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(‘Aali ‘Imraan: 190-191)

وَ اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَ النهََّارِ وَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن رِّزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتهَِا وَ تَصْرِيفِ الرِّيَاحِ ءَايَاتٌ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُون‏

Dan (pada) pertukaran malam dan siang silih berganti, dan juga (pada) rezeki yang diturunkan oleh Allah dari langit, lalu Ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta (pada) peredaran angin, (semuanya itu mengandungi) tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah, kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, serta keluasan rahmatNya) bagi kaum yang mahu menggunakan akal fikiran (liqaumiy ya’qiluun). (QS. Al Jatsiyah: 5)


وَ مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُواْ كَمَثَلِ الَّذِى يَنْعِقُ بمِا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَ نِدَاءً  صُمُّ  بُكْمٌ عُمْىٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُون‏

Dan bandingan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir, samalah seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami selain dari mendengar suara panggilan sahaja; mereka itu ialah orang-orang yang pekak, bisu dan buta; oleh sebab itu mereka tidak dapat menggunakan akalnya (laa ya’qiluun).

وَ إِذَا نَادَيْتُمْ إِلىَ الصَّلَوةِ اتخََّذُوهَا هُزُوًا وَ لَعِبًا  ذَالِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُون‏

Dan apabila kamu menyeru untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya (shalat itu) sebagai ejek-ejekan dan permainan. Yang demikian itu ialah karena mereka suatu kaum yang tidak berakal (laa ya’qiluun). (QS. Al Maidah: 58)

Al-Quran memerintahkan kita untukmenggunakan akal. Denganakal ini, manusia dapat mengetahui kebenaran Allah. Maka orang yang tidak tertutup dengan kebenaran, sementara ia secara terang benderang telah melihat kebesaran Allah di alam raya, sama saja dia dianggap sebagai orang yang tidak berakal. Implikasinya, ia mendapatkan ancaman dari Allah dan kelak akan masuk ke dalam nerakanya yang sangat panas.

Terkait hilangnya akal yang menyebabkan hilangnya taklif hamba dapat dilihat dari hadis berikut ini:

رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ، وعن الصبي حتى يبلغ، وعن المجنون حتى يعقل

Artinya: Catatan amal diangkat dari tiga jenis orang : orang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai dia baligh dan orang gila sampai dia sembuh dari gilanya. (HR. Ahmad).

Selain hewan, insting juga dimiliki manusia. Insting sifatnya bawaan, orang lapar, secara insting akan mencari makanan. Seorang bapak, secara insting akan mencintai anaknya. Jika ada orang tua yang sampai tega membunuh atau menyengsarakan anaknya, maka bukan saja akal yang sudah hilang dari dirinya, namun juga insting ia khianati. Posisinya jauh lebih rendah dari binatang sekalipun. Wallahu a’lam

 

 

===================
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open