Tuesday, September 17, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Idealisme dan Contoh Praktis  

 

fdash

 

Seri Counter Buku Fikih Kebinekaan. Artikel ke 23.

 

Beberapa hari ini saya buka-buka buku fikih kebhinekaan. Umumnya membicarakan mengenai sistem pembacaan teks yang ideal dan sesuai dengan konteks kekinian. Ide-ide itu, ada yang sifatnya orisinil dari penulis, ada pula yang sekadar copy paste dari para pemikir Islam kontemporer.

 

Hanya saja, menurut hemat saya, para penulis itu baru bergerak di tataran ide. Mereka belum beranjak dari ide kepada contoh kongkrit. Contoh, tafsir tarikhiyyah-ilmiyyah-maqashidiyyah seperti ide Amin Abdullah dan tafsir hermeneutika seperti ide Hamim Ilyas, keduanya belum membumikan idenya. Dari kedua ilmuan tadi, sependek pengetahuan saya belum menulis kitab tafsir seperti yang mereka sampaikan. Mungkin tidak harus 1 kitab tafsir secara meneluruh, tapi beberapa surat saja.

 

Jika sudah ada bukti riil, kita akan melihat dan menelaah mengenai konsistensi dari tataran ide ke praktek. Tafsir-tafsir tadi menjadi pembuktian sebuah teori sehingga teori dan gagasan yang ditelurkan bisa dibuktikan secara ilmiah.

 

Ulama kita, kebanyakan tidak sekadar bergerak pada tataran ide dan gagasan teori, namun juga memberikan contoh dan praktek atas teori yang mereka telurkan. Idenya pun sifatnya komperhensif, bukan ditulis dalam satu dua makalah, namun menjadi satu buku besar. Jadi, ketika akan menerapkan sebuah ide, bisa secara matang dan komperhensif pula.

 

Misalnya saja imam Syafii menulis buku ushul fikih ar-Risalah, maka kemudian imam Syafii juga menulis buku fikih al-Umm sebagai wujud praktek dari teori yang telah ia tulis dalam kitab ar-Risalah. Ibnu Khaldun menulis buku Mukaddimah yang berisikan mengenai teori-teori peradaban. Ibnu khaldun tidak hanya berhenti dari pemikiran yang sifatnya teoritis, namun juga menulis buku sejarah “Tarikh Ibnu Khalud” yang jumlahnya sampai berjilid-jilid. Demikian juga dengan Imam Suyuti yang menuliskan ulumul Quran. Beliau tidak berhenti sampai dalam tataran teori, namun juga menulis tafsir jalalain. Imam Ibnu Taimiyah menulis buku Dar’ul Mantiq dan ar-Radu Alal Mantiqiyyin, teori yang beliau tulis ini lantas diterapkan dalam kitabnya Dar’u Ta’arrudil Aqli wa Annaqli yang jumlahnya sampai 11 jilid.

 

Sebuah ide akan menjadi teori ilmiah jika dibuktikan secara empiris. Ide dan pemikiran, jika hanya mengawang dan belum dibuktikan secara ilmiah baru sampai tahap hipotesa. Yang kita tunggu sesungguhnya bukan sekadar hipotesa itu, tapi penerapan dan pembuktiannya dalam tataran praktis. Wallahu a’lam

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × two =

*