Tuesday, November 21, 2017
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Ibadah Dunia Dan Akhirat

download

Ibadah dunia? Tentu sangat aneh. Umumnya ibadah terkait dengan akhirat. Pembagian ibadah menjadi dua, yaitu ibadah dunia dan akhirat dilakukan oleh imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid 1. Menurut Ghazali, ibadah manusia mempunyai dua implikasi, yaitu implikasi terhadap hukum positif di dunia dan kedua implikasi hukum Tuhan kelak di akhirat.

Hukum syariat dengan segala cabangnya, menurut Ghazali berpengaruh terhadap hukum positif yang ada di dunia. Interaksi dengan sesama manusia, atau yang sering disebut sebagai fikih muammalat merupakan tatanan hukum yang terkait langsung dengan interaksi umat manusia. Jual beli misalnya, ia merupakan interaksi perpindahan kepemilikan dari satu orang ke orang lain. Jual beli dengan berbagai varian akadnya, mempunyai implikasi langsung terhadap hukum positif, yaitu perpindahan kepemilikan.

Jika terjadi pemalsuan atau penipun dalam akad jual beli, maka orang yang tertipu bisa melaporkan ke polisi untuk ditindak lebih lanjut. Bisa jadi akan berlanjut kepada proses hokum di pengadilan. Di sini, pengadilan akan memberikan putusan hukum kepada pelaku kriminal.

Pencurian, pelanggaran hak orang lain, perampokan, pembunuhan dan sederet tindakan kriminallainnya, merupakan perbuatan yang terkait dengan hubungan sesama manusia. Jika ada tindak criminal di masyarakat, dapat dilakukan proses hukum dan peradilan akan menjatuhkan putusan hukum kepada pelaku kejahatan.

Menurut Ghazlali, bukan saja muammalat dan jinayat saja yang masuk pada perkara ibadah dunia. Ibadah mahdhah juga masuk ibadah dunia. Dalam kitab Ihya, Ghazali mempertanyakan, mengapa bisa ibadah mahdhah masuk perkara dunia? Bukankah ibadah mahdhah terkait dengan ta’abud dan ittiba yang hanya mengacu pada contoh dan teladan dari Rasulullah saw?

Nampaknya Ghazali menyadari bahwa pembaca akan terperanjak ketika membaca disuguhi ibadah mahdhah sebagai ibadah dunia. Bagaimna Ghazali menjawabnya?

Menurut Ghazli, bahwa ibadah mahdah seperti shalat, puasa dan haji, merupakan pembeda antara seorang muslim dan kafir. Orang yang tidak mengakui shalat, puasa atau haji, dianggap telah keluar dari Islam. Sebaliknya bagi mereka yang mengakui rukun Islam yang lima, bermula dari syahadat, shalat, puasa, zkat dan haji, mereka disebut sebagai seorang muslim.
Kafir dan muslim berimplikasi terhadap hukum positif. Kafir atau muslim menjadi status sosial seseorang di masyarakat. Dalam berbagai kasus hukum, status muslim atau kafir mempunyai ketetapan hukum yang berbeda.

Seorang muslim yang menjalankan syariat, pun hanya bisa dinilai dari sisi zhahirnya saja. Sementara hati manusia tidak ada yang tahu. Bisa saja seorang yang zhahirnya beribadah sangat rajin, ikut shalat jamaah dan juga berpuasa ramadhan, namun ternyata kelak masuk neraka. Bukankah ini banyak terjadi? Bukankah masyarakat Madinah pada wajktu itu terdapat tipe-tipe orang seperti ini? Mereka ini dalam al-Quran sering disebut sebagai orang munafik. Mereka menampakkan keberislamannya di tengah-tengah masyarakat, namun menyembunyikan kekufurannya.

Meski demikian, manusia tidak boleh mengorek apa yang ada dalam hati seseorang. Hukum positif hanya mengakui atas apa yang nampak di permukaan. Manusia tidak diperkenankan memberikan label kepada orang lain baik dengan kafir, pengikut bidah dan sejenisnya tanpa adanya bukti yang nyata. Bukti-bukti itu yang menjadi pijakan utama dalam hukum positif.

Perhatikan hadis berikut ini:

حديث أُسامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلى الْحُرَقَةِ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ، وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصارِ رَجُلاً مِنْهُمْ، فَلَمّا غَشِينَاهُ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، فَكَفَّ الأَنْصارِيُّ عَنْهُ، وَطَعَنْتُهُ بِرُمْحي حَتّى قَتَلْتُهُ؛ فَلَمّا قَدِمْنَا، بَلَغَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقالَ: يا أُسامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَما قَالَ لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ، قُلْتُ كَانَ مُتَعَوِّذًا؛ فَما زَالَ يُكَرِّرُها حَتّى تَمَنَّيْتُ أَنّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Usamah bin Zaid berkata Rasulullah saw mengutus kami ke daerah Alhuraqah, maka kami segera menyerbu suku daurah itu di pagi hari sehingga mengalahkan mereka, kemudian aku dcngan seorang sahabat Anshar mengejar seorang dari mereka, dan ketika telah kami kepung tiba-tiba ia berkata: Laa ilaha illallah, maka kawanku Al-anshari itu menghentikan pedangnya, dan aku langsung menikamnya dengan tombakku hingga mati. Dan ketika kita kembali kembali ke Madinah berita itu telah sampai kepada Nabi saw sehingga Nabi saw langsung tanya padaku: Ya Usamah apakah anda membunuhnya sesudah ia berkata: Laa ilaha illallah? Jawabkii; Dia hanya akan menyelamatkan diri. Maka Nabi ﷺ mengulang-ulang tegurannya. itu sehingga aku sangat menyesal dan, ingin andaikan aku belum Islam. sebelum hari itu. (HR Bukhari dan Muslim)

Secara jelas, Rasulullah menegur sahabat yang membunuh musuh yang telah mengucapkan lafal tauid. Adapun mengnai hati musuh, apakah karena dia bersyahadat karena takut pedang, atau berislam dengan sesungguhnya, itu hanya Allah yang tahu. Seorang hamba tidak dipernekanankan untuk menelisik lebih jauh mengenai apa yang ada dalam hati seseorang dan menghukumi sesuai dengan perasaan yang ada pada dirinya.

Bersyahadad pun, oleh Ghazali dimasukkan kepada ibadah dunia. Lantas apa yang dimaksudkan dengan ibadah akhirat? Menurut Ghazali, ibadah akhirat itu adalah menejemen kalbu. Manusia akan sangat ditentukan oleh apa yang ada dalam hatinya. Keimanan, ketakwaan, sifat khusyu, tawakal, sabar, jauh dari sifat hasad, iri, dengki, dan berbagai perangai hati lainnya sangat menentukan amaliyah hamba. Bersyahadad dan menjalankan seluruh rukun Islam saja, tidak memberikan jaminan seseorang mendapatkan ridha Allah, manakala harinya berbeda dengan perbuatan yang ia lakukan.

Ibadah, jika niatnya sekadar riya, maka nilai ibadahnya menjadi sirna. Yang ada adalah riya itu sendiri. Beramal, jika niatnya adalah ujub dan berbangga diri, maka ia tidak mendapatkan apapun selain dari sikap ujub dan berbangga diri itu. Shalat, puasa dan haji, juga tiada guna manakala niat ibadahnya hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia.

Perhatikan hadis berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ z قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”

Benarlah sabda nabi Muhammad berikut ini:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam

====
Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open