Monday, March 30, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Antara Hermeneutika Dan Maqashid Syariah

 

fsajh

Sebagaimana maklum bersama bahwa sistem pembacaan teks yang sedang ngetren di Barat, banyak mempengaruhi para sarjana muslim kontemporer. Sistem pembacaan teks modern, terutama yang membahas masalah sejarah dan sosiokultural pembentukan teks mulai digandrungi para intelektual muslim. Lalu mereka menggunakan pisau analisis Barat tersebut untuk dijadikan sebagai sarana mengkaji kitab suci.

 

Akibatnya muncul pemikiran dekonatrukai teks. Kitab suci dianggap teks sastra yang tidak ada bedanya dengan teks-teks sastra buatan manusia. Mereka berangkat dari teori kesejarahan teks dan bahwa teks muncul tidak dari ruang hampa. Teks sangat dipengaruhi oleh psikologi penulis, juga ruang waktu penulis. Oleh karenanya, memahami teks tidak boleh dilepaskan dari sejarah dan ruang waktu teks serta memahami psikologi penulis.

 

Teks Quran juga sama. Teks kitab suci tersebut karena muncul dari ruang waktu, sejarah dan juga penulis tertentu, maka kajiannya juga tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor tadi. Dengan kondisi berbeda, ruang waktu dan sejarah yang berbeda, perlu penafsiran dan pemahaman yg berbeda. Jika tidak, maka kita akan terkungkung dengan pemahaman teks yang kaku. Kita menjadi manusia sejarah karena tidak mampu menangkap spirit teks.

 

Pemahaman teks yang sudah tidak relevan perlu dirombak. Jadi dekonstruksi atas pemahaman teks menjadi hal yang niscaya. Pemahaman teks yang kiranya sudah tidak sesuai dengan kehidupan kontemporer, harus dibuang.

 

Itulah paham hermeneutika. Sejarah menjadi Tuhan baru dalam rangka memahami teks. Semua diukur dari sisi kesejarahan. Itu akibat pandangan mereka yang menyamakan antara teks sastra dengan teks dalam kitab suci.

 

Maka tidak ada lagi qatiyat dalam al-Quran. Hukum waris, hudud, dan hukum Islam lainnya yang oleh ulama Islam dianggap baku, mereka tafsir ulang. Sejarah teks itu lantas dikaitkan dengan kemaslahatan manusia. Teks hanya dianggap relevan dan mengandung maslahat dizamannya. Dengan perubahan ruang waktu, seauatu yang dianggap maslahat di waktu itu sudah tidak lagi maslahat di zaman sekarang.

 

Hukum waris dianggap maslahat di zamannya dengan pembagian setengah banding satu untuk perempuan dan laki laki. Hal itu karena perpempuan di waktu itu belum bekerja seperti sekarang ini. Tatkala wanita sudah mandiri dan independen, maka tinjauan tentang pembagian hukum waris perlu ditinjau ulang. Pebagian seperti itu sudah tidak maslahat lagi untuk konteks kita saat ini.

 

Demikian juga dengan hukum hudud. Waktu itu memang tradisi bangsa Arab dengan memberikan hukuman yang tegas dan keras. Namun untuk konteks kontemporer, model hudud dan qishahs itu sangat kejam. Bahkan bertentangam dengan hak asasi manuasia. Demikian seterusnya.

 

Sesungguhnya kita punya pisau analisis yang lebih sesaui dengan karakter kitab suci. Kita punya model pembacaan teks yang bergerak dari sisi maslahat manusia. Hanya saja standarnya jelas. Standar maslahat tidak diukur dari logika manusia semata tanpa ada panduan kitab suci. Standarnya berdasarkan sistem kajian induktif dari teks suci baik Quran maupun sunnah.

 

Ilmu maqashid dalam melihat teks bukan sekadar dari sisi ruang waktu dan kesejarahan saja. Namu melihat teks sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Lebih dari itu, ia tetap memandangbahwa al-Quran adalah kalamullah, firman Tuhan yang sakral dan bukan teks buatan manusia.

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fourteen − ten =

*