Monday, February 17, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Amin Abdullah; Al-Quran Sebagi Muntaj Tsaqafi (Produk Budaya).

fashj

 

Sebelumnya saya menyatakan bahwa dalam tulisannya, M. Amin Abdullah menggunakan literatur sekunder dan bukan literatur primer. Model penulisan seperti ini saya anggap sebuah kesalahan fatal sehingga tulisan di lembaran-lembaran selanjutnya dianggap gugur. Meski demikian, saya akan mencoba untuk memberikan catatan dari tulisannya beliau tersebut.

 

Catatan kedua: Al-Quran sebagi muntaj Tsaqafi (produk budaya).

Di halaman 50 dituliskan sebagai berikut:

Adalah Nasr Hamid Abu Zaid, lewat perspektif kajian linguistik, budaya dan sejarah, yang menegaskan bahwa al-Quran tidak dapat dipsahkan dari fenomena budaya dan sejarah arab pada saat al-Quran diturunkan (muntaj ats-tsaqafi, produk budaya). Bahasa lain dari apa yang biasa dan umum digunakan dalam ulumul quran yaitu azbabunnuzul (sebab-sebab diturunkannya al-Quran).

Di sini, amin abdullah mengamini pernyataan Nasir Hamid tersebut. Bukan hanya menerima mentah-0mentah, bahkan beliau mendukung pernyataan nasr.

 

Benarkah al-Quran produk budaya?

Sebelumnya kita harus pahami dulu apa itu budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya/bu·da·ya/ n 1 pikiran; akal budi: hasil –; 2 adat istiadat: menyelidiki bahasa dan –; 3 sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yang –; 4 cak sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.

Dari beberapa makna tadi, bisa disimpulkan bahwa budaya tidak lepas dari hasil kreasi pikiran manusia.  Budaya bisa dimaknai sebagai tradisi atau kebiasaan yang berkembang dan terpatri di masyarakat. Di antara produk dari budaya ini adalah bahasa, adat istiadat, prilaku dan lain sebagainya. Jika kita mengatakan bahwa al-Quran adalah produk budaya, itu artinya kita mengatakan bahwa al-Quran merupakan produk dari masyarakat dan bukan wahyu Tuhan.

 

Budaya bisa berubah sesuai dengan ruang waktu. Budaya bisa berkembang dan bahkan bisa hilang sama sekali. Eksistensi sebuah budaya tergantung kepada masyarakat setempat. Banyak bahasa di dunia yang dulu ada, seperti bahasa Mesir Kuno, Jawa Kuno, Babilonia dan lain sebagainya, sekarang bahasa itu sudah tidak ada lagi. Demikian juga dengan tradisi dan kebiasaan di suatu masyarakat, banyak yang dulu ada, sekarang sudah tidak ada dan digantikan dengan budaya baru. Jika kita mengatakan al-Quran sebagai produk budaya, itu sama artinya kita mengatakan bahwa al-Quran bisa berkembang sesuai dengan tatanan masyarakat, bisa ditambah dan dikurangi, dan bisa saja suatu saat nanti akan tiada. Al-Quran juga bisa berubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. jika masyarakat sudah tidak membutuhkan lagi, al-Quran bisa dicampakkan layaknya budaya-budaya yang ada di dunia ini.

 

Budaya itu adalah makhluk. Ia bermula dari ketiadaan, lalu menjadi ada. Suatu saat nanti, ia akan tiada lagi. Ini adalah ciri-ciri dari sifat makhluk. Jika kita mengatakan bahwa al-Quran adalah produk budaya, maka sama artinya kita mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk. Ia dulu tidak ada, kemudian ada dan suatu saat nanti ia akan sirna. Jadi, al-Quran bukan lagi kalamullah yang bersifat azal. Al-Quran sekadar hasil kreasi manusia yang bersifat fana’.

 

Pernyataan bahwa Quran produk budaya implikasinya sangat besar. Dengan anggapan ini, nilai sakralitas al-Quran punah seketika. Al-Quran bukan lagi kitab suci yang layak dijadikan sebagai pedoman hidup. Al-Quran tidak ada bedanya dengan pimbon jawa atau buku-buku sastra lainnya yang merupakan hasil kresi manusia. Pantaslah jika kemudian, Nasr Hamid Abu Zaid oleh Pengadilan Mesir dijatuhi vonis kafir. Hal itu, karena secara tidak langsung, ia sudah tidak percaya lagi dengan al-Quran. Jika seseorang sudah tidak pecaya al-Quran sebagai kalamullah dan merupakan wahyu dari Allah, lantas untuk apa lagi beragama? Wallahu a’lam

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four × 5 =

*