Monday, April 6, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Al-Nash

sah

Al-nash secara terminologi adalah ungkapan kalimat, di mana lafazh dan bentuk struktur susunan kalimat menunjukkan suatu makna tertentu tanpa harus bergantung kepada hal lain yang berada di luar makna. Sementara, makna tersebut merupakan makna yang dimaksud oleh ungkapan kalimat.[1] Atau, dilâlah suatu lafazh sesuai dengan ungkapan kalimat.[2] Makna yang ditunjukkan oleh al-nash lebih jelas dibanding dengan lafazh al-zhâhir. Kejelasan makna tersebut dapat diketahui dari konteks suatu kalimat yang sengaja ditunjukkan untuk menjelaskan makna tersebut, bukan makna yang diambil dari susunan struktur kalimat.

 

Contoh:

وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. Al-Baqarah: 275).

 

Ayat tersebut secara al-zhâhir jelas menerangkan bahwa jual beli hukumnya halal, sementara riba hukumnya haram. Namun secara al-nash, menerangkan mengenai perbedaan antara jual beli dengan riba. Makna tersebut, –yaitu perbedaan antara jual beli dengan riba- adalah makna yang dapat dipahami dari konteks ungkapan kalimat. Konteks dapat dilacak dari asbâbunnuzûl atau asbâbu’l wurûd suatu nash. Dan makna inilah yang sesungguhnya dimaksud oleh ayat di atas. Karena ayat itu secara redaksi muncul untuk menanggapi orang-orang kafir yang mengatakan bahwa jual beli itu sama dengan riba.[3]

[1] Dr. Abdul Karim Zaidan, op. cit., hal. 340.

[2] Muhammad Abu Zahrah, Ushûlu’l Fiqh, Dâr al-Fikr al-‘Arabî, Kairo, tanpa tahun, hal. 112

[3] Dr Abdul Karim Zaidan Op.cit., hal. 340

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

nineteen − 14 =

*