Sunday, January 17, 2021
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Al-Mukhashshash al-Muttashîl: Istitsnâ’ (Pengecualian)

budak-arab

Istitsna’ adalah lafazh muttashîl dengan suatu ungkapan kalimat (jumlah). Lafazh tersebut tidak berdiri sendiri, namun dibarengi dengan huruf illa atau huruf istitsnâ’ lainnya. Sesuatu yang ditunjukkan (madlûl) dari kalimat tersebut bukan merupakan makna yang dimaksud dengan sesuatu yang disebutkan dalam kalimat sebelumnya. Lafazh tersebut juga bukan kata sifat, syarth, ataupun ghâyah. Di antara shîghah istitsnâ’ adalah dengan menggunakan huruf اٍلا, ليس, ما خلا, عدا, ما عدا, dan seterusnya.

Istitsnâ’ harus muttashil (bersambung) dengan mustatsnâ minhu dengan tanpa adanya suatu lafazh yang memisahkan antara keduanya, atau sesuatu yang masuk dalam hukum muttashil. Sebagian ulama membolehkan istitsnâ munfashil meskipun renggang waktu sampai satu bulan.

Contoh istitsnâ’:

مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ

Artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman”. (QS. Al-Nahl:106).

 

Di sini istitsnâ’ hanya tertuju pada (مَن كَفَر). Lafazh tersebut berbentuk umum (‘âm), mencakup semua orang kafir. Namun kemudian terdapat pengecualian bagi mereka yang dipaksa untuk tidak beriman. Mereka ini tidak digolongkan ke dalam bagian orang-orang kafir.

Contoh lain:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا ()  يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا ( ) إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqân:68-70).

 

Ayat di atas dapat dipahami bahwa siapa saja yang melaksanakan kemungkaran masuk dalam golongan orang-orang yang berdosa dan akan di siksa kelak di akhirat. Hanya saja kemudian ada pengecualian  bagi mereka yang bertobat, beriman dan beramal shalih.

Istitsnâ’ yang terletak setelah beberapa jumlah yang bersambung dengan huruf athf, berarti mencakup semua lafazh yang ma’thûf ‘alaihi selama tidak ada argumentasi (dalil) yang memberikan  takhshîsh. Sebagian ulama berpendapat bahwa istitsnâ’ tersebut hanya kembali pada jumlah terakhir, terkecuali ada argumentasi (dalil) yang menunjukkan bahwa istitsnâ’ bersifat umum.

 

Contoh:

وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَئًا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ أَن يَصَّدَّقُواْ

Artinya: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah”. (QS. Al-Nisa: 92).

 

Bagi mereka yang berpendapat bahwa istitsnâ’ kembali kepada semua kalimat (jumlah) yang ma’thûf ‘alaihi,bearti dalam ayat di atas kembali kepada تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ dan  دِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ . Sementara bagi mereka yang menganggap hanya kembali pada kalimat terakhir saja, berarti ma’thûf  alaihi dari ayat di atas hanya دِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ .

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × one =

*