Wednesday, February 26, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Al-Mufassar

fasjh

Al-mufassar berasal dari kata  الفسر yang berarti  الكشف yaitu menyingkap, atau sesuatu yang sudah tersingkap. Secara terminologi adalah makna lafazh suatu nash semakin jelas, dan dengan sendirinya menunjukkan makna secara detail sehingga tidak ada lagi kemungkinan adanya takwil.

Tingkat kejelasan dalam al-mufassar dapat diketahui dari shîghah lafazh, atau dari lafazh lain. Contoh untuk yang pertama, yaitu mufassar yang dapat diketahui langsung dari shîghah lafazh sebagai berikut:

Firman Allah:

وَقَاتِلُواْ الْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً

Artinya: “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya”. (QS. Al-taubah: 36).

 

Kalimat الْمُشْرِكِينَ  merupakan isim zhâhir yang bersifat umum, namun demikian masih memungkinkan terjadinya pengkhususan (takhshîsh). Ketika kalimat tersebut dilanjutkan dengan lafazh كَآفَّةً maka kemungkinan terjadinya takhsîsh pun hilang dengan seketika. Kalimat tersebut menjadi mufassar.

Contoh lain, firman Allah:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً

 “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera”. (QS. al-Nûr: 4).

 

Lafazh ثَمَانِينَ  yang berarti 80, sama sekali tidak membutuhkan takwil, karena merupakan kata bilangan yang sudah tetap, tidak perlu ditambah atau dikurangani. Hal yang demikian ini disebut sebagai mufassar.

Contoh firman Allah ketika menerangkan bahwa wanita yang belum dicampuri tidak memiliki masa ‘iddah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya”. (Al-Ahzab: 49).

 

Lafazh تَعْتَدُّونَهَا menafikan kemungkinan takwil atas ‘iddah selain waktu yang telah ditentukan. Maka ‘iddah di sini termasuk dalam mufassar.

Contoh lain, perkataan seorang suami kepada istrinya, “Kamu saya talak tiga”. Kata-kata “talak” memungkinkan talak lebih dari satu. Namun dengan dilanjutkan dengan kata “tiga”, maka lafazh tersebut menjadi jelas dan tidak ada kemungkinan takwil lagi.[1]

Untuk bagian kedua, yaitu mufassar yang dapat dipahami bukan dari shîghah lafazh, namun dari hal lain yang berada diluar lafazh tersebut. Bagian ini mencakup semua lafazh yang masih ada kemungkinan takwil, atau makna dari dilâlah tersebut masih samar (khafiyuddilâlah). Maka lafazh tersebut membutuhkan tafsiran dari lafazh lain sehingga makna dapat dipahami secara jelas.

Dengan demikian, yang masuk dalam kriteria di atas adalah lafazh yang zhâhir dan nash. Karena dua bagian tersebut masih memungkinkan takwil. Keduanya kemudian dikatakan sebagai mufassar bi ghairihi.

Demikian juga lafazh yang masih bersifat global (mujmal), samar (khafiy) dan musykil. Dengan kata lain, jika ada makna dari lafazh yang secara dilâlah masih samar (khafiy) kemudian ada lafazh lain yang memberikan tafsiran secara qat’iy, maka hal ini disebut sebagai mufassar bi ghairihi. Rincian makna dari lafazh tersebut, atau tata cara mengamalkan makna akan semakin jelas. Makna lafazh dapat dipahami sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh syâri’, karena lafazh tersebut sudah tidak ada kemungkinan takwil. Jika pun ada kemungkinan takwil, kemungkinan telah diganti (nashkh) pada masa Rasulullah. Contoh tafsiran terhadap lafazh yang masih berbentuk global (mujmal), di  mana petunjuk dari makna tersebut (dilâlah) masih samar, sementara tidak ada indikator (qarînah) yang dapat membantu kita untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh lafazh. Dengan kata lain, lafazh tersebut tidak dapat dipahami kecuali terdapat keterangan langsung dari Allah.

Allah Swt memilih suatu lafazh dari bahasa, kemudian makna dari lafazh tersebut dirubah dari makna secara bahasa menuju makna dan pemahaman lain yang berbeda.  Makna tersebut kemudian dikenal dengan istilah makna ishthilâhiyyah (makna secara terminologi).

Makna ishthilâhiyyah memiliki pemahaman dan makna tertentu yang ditentukan langsung oleh Allah. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk memahami makna tersebut hanya dapat merujuk dari keterangan syâri’. Para ulama usul menyebut lafazh tersebut dengan istilah mujmal (lafazh yang masih berbentuk global), seperti lafazh shalat, zakat dan riba.

Lafazh-lafazh tersebut tidak dimaksudkan sebagaimana makna secara bahasa. Karena syariat telah merubah dari makna secara bahasa kepada makna lain secara istilah.

Ijmal adalah bagian dari makna yang samar dan tidak jelas. Makna dari lafazh mujmal tidak dapat dipahami selain dengan tafsiran dan keterangan langsung dari Allah.

Dalam al-Qur’an banyak terdapat lafazh-lafazh mujmal tanpa adanya tafsiran. Kemudian lafazh mujmal tersebut diterangkan olah Sunnah Nabi.

Contoh:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزكاة

Artinya: “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Muzammil: 20)

 

Kita tidak dapat memahami makna yang dimaksud dari  lafazh shalat, bagaimana cara kita menjalankannya, apa syarat rukunnya dan demikian seterusnya. Sebagaimana kita juga tidak dapat mengetahui makna zakat dan segala hal yang berkaitan dengannya tanpa adanya keterangan langsung dari peletak syariat. Maka secara detail Rasulullah Saw. menerangkan makna dari lafazh tersebut, baik keterangan melalui ucapan, ataupun perbuatan. Dengan demikian makna menjadi terang dan jelas. Makna lafazh yang sebelumnya masih mujmal menjadi mufassar.

Hadits-hadits yang menerangkan mengenai hukum shalat, cara melaksanakan shalat, berapa hitungan rakaat tiap shalat, waktu shalat, syarat sahnya shalat, hukum puasa, zakat, harta apa saja yang wajib dizakati, batasan harta seseorang sehingga ia berkewajiban mengeluarkan zakat, dan seterusnya dianggap sebagai tafsiran dari hukum syariat yang masih mujmal.

Contoh lain adalah firman Allah:

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (QS. Ali Imrân: 97).

 

Nabi Muhammad Saw. telah menerangkan secara rinci tata cara melaksanakan ibadah haji dengan sabda Beliau:

خذوا عني منا سككم

Artinya: Ambillah dariku (tata cara) ibadah haji kamu sekalian.

 

Rasulullah telah menerangkan secara jelas tata cara ibadah haji dengan amal perbuatan beliau, kemudian beliau meminta para sahabat untuk mengikutinya.

Tafsir sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ulama ushul tidak dapat diketahui terkecuali dari petunjuk peletak syariat itu sendiri. Tidak ada tempat untuk berijtihad dengan logika dalam memberikan tafsiran terhadap lafazh mujmal. Tafsiran dengan logika baru diperkenankan jika peletak syariat hanya memberikan sebagian tafsiran dari mujmal, artinya tidak memberikan tafsiran secara utuh dan menyeluruh. Syariat hanya memberikan petunjuk yang dapat menuntun para mujtahid dalam memahami hakikat mufassar dari lafazh tersebut. Contoh mengenai “riba” yang tercantum dalam hadits Nabi yaitu riba nasî’ah.

الذهب بالذهب والفضة بالفضة والحنطة بالحنطة والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح يدا بيد والفضل ربا

Artinya: Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, satu tangan dengan satu tangan, dan tambahan dari itu adalah riba.

 

Hadits tersebut menerangkan sebagian harta yang dianggap riba. Hanya saja keterangan tersebut baru sebatas pada sebagian riba nasî’ah. Dalam memberikan tafsiran dari hadits di atas, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama, apakah apa yang disebutkan dalam hadits tersebut sebagai batasan tetap, ataukah hanya sekadar sebagai sampel. Di sinilah fungsi mujtahid untuk menjelaskan dan memberikan tafsiran terhadap lafazh riba tersebut.[2]

 

[1] Ibid. hal. 343-344.

[2] Dr. Fathi Addarn, op. cit., hal56-60.

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

11 + 15 =

*