Thursday, June 20, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Akidah Shahikah; Akidah Ahlul Haq Wassunnah

Seri Syarah HPT Bab Iman.
Artikel ke-44

اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ (1 (مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ االلهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ (2 (وَعَلَى اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ االلهِ وَاجِبٌ شَرْعًا (3 (وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.

Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan yang benar.

Sebalumnya telah kami sampaikan bahwa akidah yang benar, adalah akidah Islam, yaitu akidah yang dibawa oleh semua para nabi, sejak nabi Adam as hingga nabi Muammad saw. Para nabi membawa satu ajaran akidah dan satu akidah. Perbedaan antar para nabi hanya terletak pada sisi hukum fikih semata.

Dalam perjalanan waktu, ajaran para nabi banyak yang diselewengkan. Di kalangan pengikut para nabi, terdapat orang-orang atau pendeta yang mencampurkan pendapat dirinya, kemudian dikatakan bahwa apa yang ia tulis merupakan ayat dan firman Allah. Kitab suci menjadi tereduksi dengan hasil pemikiran para pendeta. Terkait hal ini, Allah swt berfirman:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Artinya: Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS, Al-Baqarah: 79)

 

Nabi muhammad datang, sesungguhnya untuk meluruskan dan menyempurnakan ajaran nabi sebelumnya. Nabi Muhammad saw tidak membawa akidah baru, namun membenarkan apa yang sudah tercantum dalam kitab-kitab sebelumnya. Nabi Muhammad saw menjadi penutup bagi seluruh para nabi. Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagaimana berikut ini:

مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّۦنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40)

 

Selain sebagai Nabi terahir, beliau sekaligus berdakwah kepada umat manusia yang masih banyak menyembah berhala. Di Jazerah Arab sendiri, banyak terdapat berbagai model kepercayaan dari penyembah berhala, penyembah bintang-bintang, dewa-dewa, atau barangkali menyembah Allah, namun di sisi lain, percaya dengan kekuatan dan Tuhan lain yang menurut mereka layak disembah.

 

Jazera Arab, menjadi miniature mini dari apa yang terjadi di belahan dunia lainnya. Di Persia, banyak para pengikut agama Majusi yang percaya dengan dua Tuhan, yaitu Tuhan cahaya dan Tuhan kegelapan. Tuhan cahaya selalu membawa kebaikan, sementara Tuhan kegelapan membawa keburukan. Amal baik yang dilakukan manusia, sesungguhnya merupakan pancaran dari Tuhan cahaya, sementara amal buruk yang dilakukan manusia, merupakan pancaran dari Tuhan kegelapan.

 

Di Yunan, tersebar penyembahan terhadap para dewa. Di India, terdapat ajaran Budha dan Hindu. Di Cina ada agama Sinto. Di setiap wilayah dan tempat di dunia ini, selalu saja terdapat sesembahan yang bertolak belakang dan bertentangan dengan akidah Islam. Mereka mengikuti ajaran yang telah dibawa oleh nenek moyang. Hal ini juga disebutkan dalam al-Quran sebagaimana firman Allah berikut ini:

 

Terkait kepercayaan dan agama yang ada masa itu, di antaranya terdapat dalam firman Allah berikut ini:

مَّا كَانَ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ وَٱلصَّٰبِـِٔينَ وَٱلنَّصَٰرَىٰ وَٱلْمَجُوسَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (QS. Al-Haj: 17)

Orang Arab menyembah berhala yang disebut dengan berhala Latta dan Uzza. Mereka memberikan sesajen, meminta dan berdoa kepada berhala tersebut. Hal ini disebutkan firman Allah sebagai berikut:

قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}

 

Artinya: “Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah (75), kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? (76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (77), (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku (78), dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku (79), dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku (80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81), dan Yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (82)” (Asy- Syu’araa’: 75-82).

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ (20) أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ (21تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ (22إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ (23)

Artinya: “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Latta dan Al Uzza. dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka” (QS. An Najm: 19-23)

Ada pula yang menyembah hal-hal lain, dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka mengakui Allah sebagai Tuhan, namun juga percaya adanya Tuhan lain selain Allah. Terkait hal ini, Allah swt. berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Artinya: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”” (QS. Az Zumar: 3).

Sebagian lagi, ada yang menyembah malaikat dan para nabi. Hal ini disebutkan dalam firman Allah sebagai beriku:

﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾ [آل عمران:80].

Artinya: “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80)

Jadi, kepercayaan tersebut merupakan kepercayaan yang salah dan harus diluruskan. Akidah yang mereka yakini, merupakan akidah yang salah dan batil, bukan akidah yang benar. Imam Ghazali dalam kitab al-Munqidz minadhalal menyebutkan bahwa di antara aliran yang tersebar di zamannya, dan juga pada masa kenabian adalah aliran dahriyu, yaitu mereka yang menganggap dunia secara mekanis. Tidak ada Sang Pencipta. Mereka hanya percaya dengan materi. Mereka akan hidup, lalu kemudian mati. Tidak ada kehidupan setelah mati. Hal ini disebutkan dalam firman Allah sebagaimana berikut:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Artinya: Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS. Al-Jatsiyah: 24).

Paham ini hingga saat ini masih berkembang. Hanya nama yang berbeda, namun prinsipnya sama, yaitu anti Tuhan dan sekadar percaya dengan materi. Inilah paham marxisme itu. Paham yang pernah menjadi ideology di Uni Soviet dan dipaksakan kepada masyarakat. Di Indonesia sendiri, muncul Partai Komunis Indonesia yang juga berpaham yang sama. Ideologi tersebut bisa selalu tumbuh dan berkembang, kapan dan dimanapun.

Imam Ghazali juga menyebutkan mengenai paham tabiiyun, yaitu mereka yang mengakui Tuhan. Hanya saja, mereka tidak percaya dengan hokum dan syariat Tuhan. Saat ini pun, paham ini masih banyak berkembang. Manusia percaya dengan Tuhan, namun tidak mau mengakui dan menerapkan hukum yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia.

Apa yang kami sebutkan di atas terkait erat dengan agama dan ideology di luar Islam, seperti Kristen, Yahudi, Nasrani, Yahudi, Majusi, paham filsafat Marxisme dan paham serupa lainnya. Jika manusia mengikuti salah satu dari berbagai agama dan aliran pemikiran di atas, maka secara otomatis ia kafir. Ia tidak bisa digolongkan sebagai seorang muslim. Oleh karena itu, akidahnya adalah akidah yang fasid dan batil.

Ada pula aliran dan kelompok pemikiran dari dalam umat Islam sendiri yang menyimpang. Mereka tetap percaya Allah sebagai Tuhan, percaya dengan rukun Islam dan rukun iman, menjalankan ibadah sebagaimana layaknya umat Islam. Hanya saja, terdapat penafsiran ketuhanan yang berbeda dengan paham yang diyakini oleh ahlul haq wassunnah. Mereka oleh HPT Muhammadiyah disebut sebagai ahlu az-Zaig wal Bid’ah. Mereka bukan pengukut sebagai pengikut ahlul haq wassunnah. Hanya saja, karena mereka masih dalam ruang lingkup sebagai ahlul kiblah, mereka tetap dianggap sebagai seorang muslim.

Contohnya adalah syiah yang mempunyai kepercayaan menyimpang semisal Allah pernah lalai, mempercayai akidah bida’, meyakini imam maksum, dan lain sebagainya. Atau muktazilah yang menganggap bahwa Allah tidak mempunyai sifat, karena sesungguhnya sifat dan Allah adalah satu kesatuan. Atau khawarij yang mengatakan bahwa mereka yang melakukan dosa besar, maka mereka dianggap kafir. ia akan masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya. Para pelaku dosa besar, karena ia telah murtad dan kafir, maka mereka boleh diperangi.

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf dan nahi munkat, tidak tinggal diam ketika melihat berbagai aliran menyimpang yang ada di dunia ini. Muhammadiyah memberikan garis batas yang jelas, serta menyeru manusia untuk mengikuti agama Islam, agama semua nabi yang membawa akidah shahihah. Dengan garis-garis ini, menjadi jelas mana yang sesuai dengan akidah yang benar dan mana yang tidak sesuai.

Bab Iman seperti yang termaktub dalam HPT Muhammadiyah, menjadi pedoman bagi seluruh jamaah Muhammadiyah dalam menjalankan akidah yang benar. Akidah ini, oleh Muhammadiyah disebut sebagai ahlul haq wassunah. Akidah yang dibawa oleh para generasi salaf yang diwariskan dari kanjeng Nabi Muhammad saw. Akidah yang juga diajarkan oleh para imam Mazdhab seperti Ibnu Hambal, Syafii, Hanafi, Hambali, Auza’I dan lain sebagainya. Akudah yang juga diteruskan oleh generasi setelahnya dari kalangan Asyari dan maturidi.

Istilah ahlul haq wassunah sendiri, merupakan nama lain dari nama ahlu sunnah wal jamaah. Istilah ahlul haq wassunnah, disebutkan oleh Imam Asyari dalam kitab al-Ibanah bab dua. Dan kata ini pula, yang digunakan Muhammadiyah seperti yang termakutb di akhir kitab HPT Muhammadiyah. Wallahu a’lam

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eleven − three =

*