Saturday, October 19, 2019
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Adakah Aplikasi Ijtihad Semantik Yang Lepas Dari Maqashid Dan Sebaliknya?

dfsahh

 

Adakah aplikasi/contoh riil terkait ijtihad semantik yg terpisah dari ijtihad maqasidnya dan sebaliknya; sementara mnrt sy tdk mungkin menetapkan dasar hukum suatu masalah hanya pada maslahat dan di saat yg sama juga mesti dihindari penetapan hukum hanya berdasarkan teks dalil semata tanpa membicarakan kemaslahatan di balik teks. Jd sdh benar kedua pendekatan ini–usulul fiqh & usulul maqasid–utk sll berjalan beriringan tp dlm aplikasi kok dibedakan, kan terjadi paradok, akhirnya terkesan inkonsistensi?, syukran ‘alā i’tināikum.

 

Ust. Wahyudi Abdurrahim, Lc

Maqashid erat kaitannya dengan ta’lil. Banyak hukum syariat yang tidak ada ta’lilnya karena sifatnya ta’abbudi. Memang sebagian ulama melakukan ta’lil, namun sesungguhnya yang merka lakukan bukan mencari llat hukum. Ia lebih mirip mencari hikmah saja, bukan maqashid. Contoh hukum yang didasarkan pada ijtihad semantic saja lepas dari ilmu maqashid:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلاَةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ

Rasulullah saw bersabda, shalat subuh ada dua rekaat. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

 


بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

 

“Islam dibangun di atas lima (perkara, pondasi): Syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasûluhu, mendirikan shalat, me­ngeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allah, dan berpuasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

Hitungan rekaat subuh dua rekaat, atau zhuhur empat rekaat dan seterusnya, puasa ramadhan (kenapa kok di ramadhan, bukan syawal), manasik haji seperti cium hajar aswad, thawaf 7 kali, sai, lempar jumrah dll, kentut membatalkan wudhu dan lain sebagainya.

Di sini yang berlaku:

الاصل فى العبادات التعبد والاتباع

Prinsip ibadah adalah ta’abbud dan ittiba’

Beda dengan pembukuan mushaf di masa Abu Bakar. Ini terkait maslahat murni. Tidak ada nas sharih yang memerintahkan Abu Bakar atau umat Islam untuk melakukan pembukuan mushaf.

 

Beda lagi dengan hukum jual beli yang ada nasnya, yaitu

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. [al Baqarah : 275].

Di sini ada nas dan ada maqashid. Berbagai jual beli modern, baik yang terkait dengan jual beli online dan sebagainya dapat mengacu pada maksud dari ayat di atas. Di sini yang berlaku adalah kaedah berikut:

الاصل فى المعاملات الالتفات الي المعاني والمقاصد

Prinsip mu’ammalah adalah melihat pada ma’na dan maqashid.

Wallahu a’lam

 

================
Telah dibuka pendaftaran Pondok Almuflihun untuk Tahfez dan Ngaji Turas Islam. Informasi lebih lanjut, hubungi Ust Toyib Arifin (085868753674). Bagi yang ingin wakaf tunai untuk pembangunan Pondok Modern Almuflihun, silahkan salurkan dananya ke: Bank BNI Cabang Magelang dengan no rekening: 0425335810 atas nama: Yayasan Al Muflihun Temanggung. SMS konfirmasi transfer: +201120004899 web: almuflihun.com

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

19 + fourteen =

*