Monday, March 30, 2020
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Ada Campur Tangan Manusia Dalam “Pembuatan” Al-Quran?

gsahj

 

Di buku Fikih Kebhinekaan hal. M. Amin Abdullah menyatakan sebagai berikut:

 

Meskipun al-Quran sepenuhnya adalah bersifat divine (ilahiyah, ketuhanan), namun sepenuhnya ia juga menggunakan bahasa manusia (insaniyah, kemanusiaan)-dalam hal ini adalah bahasa Arab.

Namun pendapat di atas dimentahkannya sendiri. Dia mengamini pendapat yang menyatakan bahwa ayat-ayat al-Quran ada unsur humanitasnya. Di sini, dia tidak konsisten. Perhatikan pernyataan berikut (hal 52).

“Aspek divinitas dan humanitas menjadipersoalan serius dalam pembicaraan para mutakallimun (ahli teologi Islam) dan juga fuqaha (para ahli fikih) sejak awal munculnya Islam. Apakah al-Quran 100% divinitas dan 100 humanitas? Atau 50% dan 50%  pembagiannya? Atau 75% dan 25%”.

 

Jelas sekali persetujuan beliau mengenai pendapat yang menyatakan bahwa ada unsur humanitas dalam al-Quran. Bahkan sampai ada yang berpendapat 100 persen al-Quran humanitas. Ini artinya ada campur tangan manusia dalam “pembuatan” ayat suci al-Quran.

 

Amin Abdullah menyatakan bahwa pendapat ini disandarkan dari para fuqaha dan mutakallimun. Sayangnya beliau sama sekali tidak menyebutkan, siapakah ulama kalam dan fuqaha yang berpendapat bahwa ayat-ayat al-Quran itu ada sisi humanitasnya? Di buku apa pendapat ini tertulis? Dengan demikian, kita bisa mengklarifikasi pendapat Amin Abdullah tersebut.

 

Jika kita membuka turas Islam, seluruh ulama Islam tanpa terkecuali, termasuk ulama kalam baik dari ahli Sunnah, muktazilah, Murjiah, Khawarij, Syiah dan lainnya, para ulama madzhab dari Hanafiyah, Syafiiyah, Hambaliyah, Zhahiriyah, Malikiyah, Jakfariyah dan lain sebagainya, dari kalangan  mufassir dan lain-lain bersepakat bahwa al-Quran adalah murni kalamullah. Tidak ada unsur kemanusiaan sama sekali dalam kitab Allah.

 

Pendapat para ulama itu berasal dari firman Allah sendiri dalam kitab suci. Perhatikan firman Allah berikut:

ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ (21) وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ (22)

Artinya: Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. (QS. At-Takwir : 19-22)

 

Allah sendiri menantang siapapun dari golongan jin dan manusia yang bisa membuat al-Quran, supaya membuatnya. Firman Allah:
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (23) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (24)

 

Artinya: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 23-24)

 

Allah juga menyatakan bahwa jika seluruh manusia dan jin berkongsi untuk membuat al-Quran, niscaya ia tidak akan pernah mampu membuatnya. Firman Allah:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

 

Artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (QS. Al-Isra’ : 88)

 

Allah sendiri berjanji akan selalu menjaga al-Quran dari campur tangan manusia. Firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr : 9)

 

Tudingan bahwa ada sisi humanitas di ayat-ayat al-Quran bukanlah pendapat baru. Ini sudah ada sejak masa nabi Muhammad saw. Perhatikan firman Allah berikut:
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (13) فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (14)

 

Artinya: Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (QS. Hud : 13-14)

 

Jadi, tulisan Amin Abdullah tentang humanitas al-Quran itu, sekaligus menegasikan pendapat dia sebelumnya. Saya sendiri bingung membaca tulisan beliau ini. Tulisan yang sangat pendek, tapi banyak sekali terdapat kontradiksi antara satu dengan lainnya. Tidak ada konsistensi dalam berpendapat. Apakah beliau paham dengan apa yang dituliskannya, atau sekadar menukil saja dari pendapat orientalis tanpa ada sikap kritis sama sekali?  Atau ini membenarkan pendapat saya sebelumnya bahwa pemikiran beliau sebenarnya sekadar membebek pada pemikiran orientalis? Wallahu a’lam

 

 

 

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

4 × four =

*