Tuesday, January 23, 2018
Artikel Terbaru
 border=
 border=

Abu Hamid al-Ghazali, Ulama Ensiklopedis Pembela Umat

fgsah

 

Siapa y ang tidak kenal dengan Imam Ghazali? Beliau adalah ulama besar kelahiran Nisabur, salah satu kawasan yang berada di daerah Asia Tengah. Beliau lahir tahun 450 Hijriyah dan meninggal pada tahun 505 Hijriyah. Mulainya, beliau belajar di daerahnya dengan ulama besar, Imam Haramain. Sebelum kemudian keliling ke berbagai wilayah Islam untuk menimba ilmu, terutama ke Irak dan Suria. Ghazali adalah seorang filauf, ushuli, faqih, mutakallim, mutashawwif dan juga pakar mantiq. Hingga saat ini jarang ulama punya kemampuan seperti beliau

 

 

Jika kita membaca berbagai karyanya, kita akan tergakum-kagum dengan kehetaban dan kedalaman ilmunya. Beliau bukan saja ulama yang sibuk dengan ilmu pengetahuan, namun juga ualam yang selalu mencari cara untuk memberikan solusi terhadap berbagai persoalan umat. Tengoklah misalnya kitab Ihya Ulumuddin. Buku ini, jika diterjemahkan menjadi revitalisasi ilmu-ilmu keislaman. Buku ini muncul, karena beliau melihat bahwa ghirah umat Islam dalam mengamalkan dan mendalami ilmu agama mengalami kemunduran. Dari judulnya saja, Nampak sekli keinginan kuat beliau untuk membangkitkan lagi ghirah belajar dan praktek keberagamaan agar sesuai dengan syariat.
Kitab ihya sangat terkenal. Dikalangan pesantren Nusantara, kitab Ihya ‘Ulumuddin menjadi buku rekomendasi untuk selalu dipelajari. Bahkan buku ini menempati rengking atas, setelah kajian Quran, kitab hadis Bukhari Muslim lalu Ihya Ulumuddin.
Kitab Ihya Ulumuddin sendiri memang luar Biasa. Ia adalah kitab fikih yang bernuansa tashawuf. Buku ini sangat mendapatkan perhatian besar dari para sarjana muslim. Banyak yang kemudian membuat ringkasan dari kitab ihya, di antaranya yang paling terkenal adalah kitab Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah al-Hambali.
Ghazali sangat piawai dalam merangkai kata. Ketika menyerang lawan, bahasa yg digumakan sangat tajam dan logis. Beliau menguasai benar Manhaj jadal dan logika Aristoteles. Dengan kedua ilmu tadi, beliau menyerang ulama yang tidak sehaluan dengannya.

 

Melihat bahasanya yang begitu detail dan tajam, sangat sulit untuk bisa mematahkan argument Ghazali. Lontara tulisannya sangat logis dan menggunakan serangan dengan jurus sangat mematikan. Beliau tidak banyak basa-basi, namun langsung pada titik kelemahan lawan. Hanya ulama hebat yang bisa memberikan perlawanan dan mematahkan argument Ghazali seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Taimiyah.

 

Beliau adalah filsuf yang agung. Ketika berfilsafat, bahasannya sangat dalam dan detail. Kita dibawa ke pemikiran seorang filsuf besar. Kemampuan berfilsafatnya sekelas Ibnu Sina, Ibnu Bajah, Ibnu Miskawah, Al-Farabi dan lainnya. Itu bisa kita lihat dari karyanya, seperti al-Munqidz Min Adh-Dhalal, Maqashid al-Falasafah, Tahafut al-Falasafah, Al-Qanun Al-Kulli fi At-Ta’wil dan lain sebagainya.

 

Jika Ibnu Miskawaeh, salah seorang filsuf akhlak yang agung di zamannya mempunyai kitab Tahzhibul Akhkaq, yaitu kitab akhlak yang Aristetolian, maka Ghazali punya Ihya Ulumuddin. Buku ini merupakan perpaduan antara fikih dan akhlak. Ghazali mengawinkan antara “syariat dan hakekat”, antara fikih dengan akhlak. Dari sini, fikih tidak sekadar terkait ketetapan hokum bagi mukallaf, namun juga etika dalam berinteraksi dengan manusia dan Tuhan.
Ghazali sangat mengagumi illmu mantiq (logika Aresto). Ada beberapa buku mantiq karya beliau, di antaranya yaitu Miyarul Ilmi Fi Fanntil Mantiq, al-Qistas al-Mustaqim dan Mahaqqunnazhar fil Mantiq.
Dalam berbagai karyanya, beliau tidak pernah lepas dari ilmu mantiq. Maka untuk mendalami berbagai karya beliau, tidak sempurna jika kita tidak menguasai ilmu mantik. Jadi, Ilmu mantiq menjadi pintu masuk untuk menyelami pemikiran Al-Ghazali. Tanpa ilmu ini, kita akan terseok seok untu bisa memahami apa yang beliau tuliskan.  Saking takjubnya beliau dengan ilmu mantiq, Ghazali sampai mengatakan bahwa siapapun yang tidak paham ilmu mantiq, maka kualitas keilmuannya perlu dipertanyakan. Bahkan ilmu mantiq dijadikan muqadimah dalam ilmu ushul fikih al-Mustasfa.

 

Ghazali di antara sedikit orang yang mampu memberikan kritikan tajam kepada Ibnu Sina, sang filsuf besar penganut aliran isyraqiyyah. Satu persatu, pernyataan Ibnu Sina dikupas dan ditanggapi secara mendetail dan tajam. Tema filsafat yang paling mendapatkan kritikan tajam terutama terkait dengan qudumul alam, yaitu apakah alam raya ini qadim? Hasil seranganya yang sangat dahsyat kepada Ibnu Sina dan para filsuf dapat kita lihat dalam kitab Tahafut Alfalasafah..
Dalam memberikan mengkritik terhadap para filsuf, Ghazali bergerak dari ranah kalam Asyari. Buku Tahafut Alfalasafah semacam “perang terbuka antara ulama kalam dengan para filauf”. Buku ini membuktikan kedigdayaan ulama kalam dalam mengkanter argument para filsuf. Memang di masa mutaahirin, ilmu kalam tak terpisahkan dengan filaafat. Ilmu kalam menjelma menjadi paham filaafat. Ilmu kalam adalah bagian dari filsafat Islam.

 

Meski demikian, bagi Ghazali, tidak semua orang itu filsuf dan mutakallim. Tidak semua orang mempunyai tingkat keilmuan yang sama. Ada orang awam yang harus dituntun dan diajari. Ada yang tingkat menengah dan ada pula tingkat atas. Kemampuan seseorang berkelas-kelas.
Ghazli sadar bahwa filsafat dan ilmu kalam merupakan ilmu keislaman yang hanya bisa dikonsumi oleh orang-orang tertentu. Ia bukan ilmu tingkat dasar yang bisa dibaca setiap orang. Kesadaran beliau ini tertuang dalam kitab Iljamul Awwam An Ilmil Kalam. Untuk kelas menengah, beliau menulis buku al-Iqtishad fil i’tiqad.
Tidak heran jika Ghazli memahami dan menyadari mengenai starta kemampuan seseorang. Itu karena beliau hidupnya untuk belajar dan mengajar. Beliau adalah dosen di Universita Negeri (Madrasah Nizhamiyyah) yang ada di Bagdad. Di Universitas inilah Imam Ghazali mendidik murid-muridnya.

 

Terlalu luas jika kita mengupas mengenai kehebatan Imam Ghazali. Karena kemampuannya yang luar biasa inilah maka beliau dijuliki oleh ulama di masanya dengan Hujjatul Islam  Abu Hamid al-Ghazali. Semoga di zaman sekarang ini, muncul ulama besar sekelas beliau yang dapat memberikan solusi alternative terhadap berbagai persoalan umat. Amiin

 

Comments

comments

 border=
 border=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Open